oleh

Dosen IPB Prof. Iriani Setyaningsih: Aset Ragam Hayati Laut Bisa Jadi Obat

POSKOTA. CO – Tingginya keanekaragaman hayati laut Indonesia merupakan aset penting dalam pengembangan bioteknologi kelautan.

Salah satunya bioteknologi mikroalga. Bahkan mikroalga kini makin menjadi perhatian dunia.
Selain tumbuh dengan cepat, mikroalga mampu menghasilkan berbagai aneka produk bernilai tambah yang menjanjikan dan sustainable.

Demikian dikatakan Prof. Dr. Ir. Iriani Setyaningsih, MS dalam percakapan dengan wartawan melalui zoom.

Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Univercyti ini mengatakan, pasar produk berbasis mikroalga pada tahun 2020 mencapai $1547 juta. Angka ini diproyeksikan meningkat dua kali lipat pada tahun 2028, di karenakan penerapan bioteknologi mikroalga terus berkembang.

Iriani yang meraih gelar Doktor Teknologi Kelautan IPB tahun 2010 ini mengugkapkan,
Mikroalga, alga berklorofil yang berperan dalam fotosintesis menghasilkan bahan organik yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai kebutuhan manusia, antara lain industri pangan, suplemen, farmasi, kosmetika serta dapat menjadi alternatif bioenergi.

“Beberapa mikroalga sudah bisa dibudidayakan,” ujar Kepala Divisi Bioteknologi hasil perairan IPB ini kepada wartawan Kamis (19/5/2022).

Tenaga ahli/pakar sub jejaring laboratorium pengujian pangan Indonesia sektor perikanan dan kelautan ini menegaskan, dari budidaya mikroalga, bisa mendapat hasil panen biomasanya dengan mengggunakan metode filtrasi, sedimentasi, flokulasi, maupun sentrifugasi.

“Untuk mikroalga ukuran kecil, bisa menggunakan sentrifus, namun mahal,” ujar peneliti di pusat kajian sumberdaya pesisir dan lautan ini.

Peraih Satya Lencana dari 6 organisasi profesi dan pemilik 7 hak paten serta kurang lebih 50 buku, jurnal dan prosiding/modul ini menuturkan, membran ultrafiltrasi dapat dijadikan salah satu alternatif untuk pemanenan biomassa mikroalga.

Lebih Pekat

Ia menjelaskan, untuk Porphyridium yang berukuran kecil, dengan menggunakan teknik ultrafiltrasi, tingkat penyaringan hampir sempurna, serta mampu mengkonsentrasikan medium 5 kali lebih pekat hanya dalam waktu 5 menit.

“Dengan menggunakan filtrasi vakum, biomassa dari 10 L kultur spirulina dapat dipisahkan dalam waktu 1,5 menit, sedangkan tanpa vakum memerlukan waktu 2 jam (70 kali lebih cepat),” ujarnya.

Prof Iriani Setyaningsih akan membacakan hasil ilmiah berjudul Peran Bioteknologi Mikroalga Dalam Bidang Pangan, Kesehatan dan Energi serta Peluang dan Tantangan di Graha Widya Wisuda – Institut Pertanian Bogor (GWW-IPB), Dramaga, Bogor, pada Sabtu (21/05/2022).

Prof Iriani menjelaskan, hingga saat ini baru Spirulina dan Chlorella yang diakui sebagai food grade.

“Kami telah berhasil membuat produk berbasis spirulina antara lain mie, biscuit, jelly drink, cookies, yoghurt, snack bar, tablet hisap spirulina, dan sebagainya. Beberapa diantaranya telah dipatenkan dengan status terdaftar dan publikasi. Penelitian ini bekerjasama dengan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB,” papar Prof Iriani.

Baginya, Mikroalga untuk pharmaceutical Mikroalga memiliki fungsi fisiologis yang bermanfaat bagi kesehatan dan berpotensi dalam mengatasi penyakit-penyakit non-degeneratif dan degeneratif.

Beberapa jenis mikroalga berpotensi antibakterial antara lain Chlorella vulgaris, Skeletonema costatum, Nitzchia closterium, Chaetoceros gracilsi, dan Spirulina platensis.

“Malaria merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh parasit dari Plasmodium
yang dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Sehingga diperlukan adanya penemuan kandidat obat malaria. Pigmen fikosianin, ekstrak kasar, dan fraksi alkaloid dari Spirulina platensis dapat menghambat Plasmodium falciparum 3D7. Keduanya masuk dalam kategori moderately dan active,” tegasnya.

Kanker Payudara

Kanker payudara menurut Prof Iriani, merupakan penyebab kematian tertinggi kedua di Indonesia. Maka penanganannya dapat dilakukan dengan tindakan preventif misalnya penggunaan suplemen makanan yang mengandung komponen aktif. Ekstrak dari Spirulina platensis dapat menghambat sel kanker payudara (MCF-7) lebih dari 50 persen.

Sedangkan terhadap sel normal payudara (MCF-12a) kurang 50 persen. Artinya ekstrak kasar dari Spirulina platensis mempunyai potensi sebagai antikanker yang dapat menghambat sel kanker payudara dan aman pada sel normal Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang serius, karena kekurangan insulin dan hiperglikemia kronis.

Hiperglikemia dapat terjadi karena konsentrasi glukosa dalam darah lebih tinggi dibanding kondisi normal.

“Kami telah mendapatkan biomasa dan pigmen fikosianin dari Spirulina fusiformis dapat menurunkan kadar glukosa darah pada tikus diabet. Percobaan lain dilakukan pada tikus yang diinduksi diabetes menggunakan streptozotocin (STZ) secara intraperitoneal. Setelah 14 hari, kadar glukosa darah kelompok tikus yang diberi eksopolisakarisa (EPs) dari Porphyridium cruentum menurun lebih besar dibandingkan tikus diabetes dan tikus yang diberi acarbose,” ungkap Prof Iriani.

Ia menambahkan, Mikroalga untuk Cosmeceutical merupakan produk hibrida antara kosmetik dan farmasi yang bertujuan untuk memberikan efek estetika yang diinginkan dan dapat mengobati kondisi dermatologis.

Ia menegaskan, telah berhasil dibuat masker wajah berbahan spirulina dan kolagen ikan yang dapat menghambat bakteri-bakteri penyebab jerawat.

Formulasi masker peel-off berbasis spirulina dan kolagen ikan telah mendapatkan sertifikat paten (granted), yang merupakan kerjasama dengan PKSPL IPB.

Cosmeceutical lain adalah lip balm menggunakan minyak/lemak spirulina. Formulasi lip balm menggunakan spirulina telah terdaftar paten.

Ditegaskan Prof Iriani, Mikroalga untuk bioenergi permintaan energi (termasuk biomassa) terus meningkat. Pemerintah menurutnya terus mengupayakan peningkatan kemandirian dan ketahanan energi yang menjadi parameter negara berdaulat.

Bioetanol misalnya, dapat dihasilkan dari mikroalga Chlamydomonas dan Synechococcus sp melalui proses fermentasi glukosa menggunakan bantuan yeast terutama jenis Saccharomyces cerevisiae.

Eksopolisakarida dari Pophyridium cruentum juga berpotensi untuk menghasilkan bioetanol.
Pengembangan aplikasi mikroalga memiliki peluang sangat besar, karena beragamnya jenis mikroalga dan masih terbatasnya jenis mikroalga yang dikategorikan food grade.
Tidak hanya itu, budidaya mikroalga tidak tergantung musim dan dapat dipanen dalam waktu singkat dan masih terbatasnya produk berbasis mikroalga, sehingga perlu diversifikasi produk.

Walau demikian, Prof Iriani mengaku, masih menjadi tantangan dalam pengembangan mikroalga seperti, beragamnya jenis mikroalga khususnya mikroalga tropis dengan karakteristik yang berbeda, masih sedikitnya industri mikroalga di Indonesia, perancangan pangan fungsional baru, nutraceuticals, dan pharmaceuticals dari mikroalga selain spirulina dan isolasi single compound dari senyawa aktif yang memiliki fungsi fisiologis dan menjadi kandidat obat. (yopi/bw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *