Kisah Seorang Jago Tai Chi (ke-2)

Tai-Chi-Chuan-with-armsPOSKOTA.CO – Selama dia belajar di sekolah seni bela diri, Chiu tak pernah absen. Dia merasa bahwa segala sesuatu yang dia pelajari harus dilakukan dengan segenap hati dan perhatian penuh, dan dia tak boleh takut akan kerja keras atau menjadi tak sabar jika dia ingin berhasil.

Alhasil, dia menyelesaikan tingkat ketiga dalam Karate hanya setelah belajar beberapa tahun. Selama masa-masa sukses ini, dia mengunjungi banyak sekolah seni bela diri di seluruh Formosa untuk mencari orang-orang yang bisa menguji keahliannya.

Suatu hari, saat dia berumur 20 tahun, dia mengunjungi sebuah sekolah Tai Chi dan menyaksikan pelajaran di sana. Ketika dia melihat gerakan Tai Chi sangat lembut dan tiada kekuatan, dia memandang rendah.

Dia bertanya-tanya, apa hebatnya Tai Chi sehingga membuat semua orang sangat memujinya. Setelah pelajaran berakhir, Chiu tetap tidak yakin dan dengan terus terang menanyakan apakah dia bisa mengadu keahlian dengan sang guru. Yang mengejutkan dirinya, saat gerakan karate yang penuh kekuatan bersentuhan dengan gerakan Tai Chi yang lembut, tenaganya terserap sepenuhnya seperti batu yang tenggelam ke dasar laut.

Semua serangannya tertahan dan karenanya menjadi tidak efektif. Dia benar-benar dikalahkan oleh guru Tai Chi itu di tempat itu. Chiu menjadi benar-benar yakin setelah kalah dalam duel tersebut. Dia tak pernah mengira bahwa Thai Chi begitu mendalam dan luar biasa sehingga bisa menggunakan empat ons tenaga untuk menjatuhkan seribu pon.

Dia segera ingin menjadi murid dari guru Tai Chi itu. Guru tersebut melihat bahwa dia sangat tulus dan berkata kepadanya, “Jika engkau ingin seorang guru, aku akan memperkenalkanmu dengan kepala di sekolah kami.” Begitulah Chiu mulai belajar dari master Tai Chi tertinggi, Liu Hsi Hung.

Saat baru mulai berlatih, Chiu diberikan izin khusus untuk berlatih dengan rekan-rekan sebaya Master Liu di sekolah itu. Pada satu sisi, ini membuatnya senang, tapi khawatir pada sisi lain.

Dia senang karena dia bisa maju dengan cepat, dan khawatir karena Tai Chi benar-benar berbeda gayanya dari Karate. Tai Chi menetralkan kekuatan dengan kelembutan, dengan penekanan untuk menjadi kendur, halus dan lembut. Karate justru sebaliknya, menggunakan kekuatan untuk mengatasi kekuatan, menekankan pada keganasan, intensitas, dan kekerasan.

Sekarang dia telah mulai berlatih Tai Chi, dia tak bisa memadukannya dengan apa yang telah dia pelajari sebelumnya, yang merupakan perubahan yang sangat sulit. Dia khawatir dia tak bisa menyesuaikan dalam waktu singkat. Namun demikian, asalkan kita sungguh-sungguh belajar, kita bahkan akan bisa mengatasi kesulitan yang lebih besar daripada ini.

Chiu mengatakan bahwa, selama lebih dari 20 tahun, dia sangat berhati-hati dan tidak menggunakan satu pun gerakan Karate, mengabdikan dirinya untuk belajar intisari Tai Chi yang mendalam. Ini memiliki makna yang sama dengan apa yang Guru pernah katakan dalam salah satu ceramah-Nya, “Dalam berlatih rohani, kalian bisa dengan bebas memilih guru dan metode ideal kalian sendiri.

Namun, sekali kalian telah memutuskan untuk mengikuti satu jalur, kalian harus fokuskan semua perhatian kalian padanya. Janganlah kalian bercabang atau menginjak di dua perahu pada saat yang sama; itu adalah sikap yang tidak benar dalam berlatih. Dengan cara ini, kalian tak bisa  mengonsentrasikan kekuatan kalian, dan tidak bisa mengalami kemajuan dalam latihan kalian. Kalian mungkin bahkan menimbulkan masalah pada diri kalian.”

Dengan Rajin Berlatih dan Berkonsentrasi, Seorang Murid Hebat Lebih
Cemerlang daripada Gurunya

Chiu mengalami banyak ujian ketika dia pertama mulai berlatih dengan rekan-rekan sebaya Master Liu, yang dengan sengaja memberikan tekanan berat kepadanya selama melakukan sparing. Sering kali mereka mendorong dia dengan keras, membuat dia terguling-guling, demi melenyapkan keangkuhannya.

Terkadang mereka dengan sengaja bicara kasar tentang gurunya, mengatakan bahwa keahlian gurunya hanya sedang-sedang saja, hanya untuk melihat apakah dia akan menjadi marah atau tak percaya lagi kepada gurunya dan mencari guru lain. Semua ujian ini bahkan semakin memotivasi Chiu. Dia bertekad untuk berlatih dengan rajin. Setiap hari dia terserap dalam dunia Tai Chi, berlatih sedikitnya 13 jam.

Dia tak pernah keluar berbelanja atau pergi ke bioskop atau restoran, menjauhkan dirinya dari semua hiburan duniawi. Dia hanya mengucapkan beberapa kalimat selama setahun penuh. Para kolega, teman, dan kerabatnya, semua mengatakan bahwa dia aneh. Karena berlatih dengan rajin, latihan Tai Chi-nya selama dua tahun dapat sejajar dengan rekan-rekan sebaya gurunya. Alhasil, dia mendapatkan pelatihan dan perhatian khusus dari Master Liu.

Sering kali Master Liu menyuruh Chiu untuk tetap tinggal setelah suatu sesi sehingga dia bisa mengajari Chiu secara individu dan menjelaskan banyak poin penting dan detail tentang jurus-jurusnya. Guru Liu mengatakan alasannya, “Aku lebih suka untuk tidak menerima murid-murid yang tidak serius.

Asalkan engkau tulus dan sungguh-sungguh dalam latihanmu, aku akan mengajarimu sebaik mungkin. Jika seseorang tidak tulus dan tidak bekerja keras, dia tak bisa memahami seberapa pun banyaknya aku ajarkan dia.”

Ini sama seperti apa yang Guru telah ajarkan kita, “Saya lebih suka mengajari beberapa murid yang benar-benar tulus dalam niat mereka untuk berlatih daripada menyia-nyiakan waktu dan upaya untuk mengajari puluhan ribu murid yang sepertinya sibuk dan hiruk-pikuk, tapi tidak benar-benar ingin berlatih.” (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *