oleh

KELUARGA KORBAN MINTA BRIGADIR BM DITINDAK

topi polisiPOSKOTA.CO – Keluarga korban kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) meminta agar oknum anggota Polresta Samarinda, Kalimantan Timur berinisial Brigadir BM diproses sesuai hukum yang berlaku.

“Kami datang kesini (Polresta Samarinda) untuk meminta kejelasan terkait proses hukum terhadap BM, yang diduga melakukan KDRT sehingga adik saya meninggal,” ungkap Hj Murni, kakak kandung Sur,31, yang meninggal diduga akibat dianaya suaminya, BM di Samarinda, Jumat.

Istri oknum anggota polisi tersebut meninggal pada Kamis (19/6) sekitar pukul 04. 00 Wita, setelah sempat menjalani perawatan intensif di RSUD AW Syahranie Samarinda, selama tiga hari, diduga akibat luka penganiayaan yang dilakukan oknum personel Polresta Samarinda berpangkat Brigadir berinisial BM.

Kakak kandung korban KDRT itu mendatangi Polresta Samarinda bersama empat kerabatnya pada Jumat, untuk menanyakan proses hukum terhadap kasus dugaan kekerasan yang diduga dilakukan BM terhadap istrinya, hingga menyebabkannya meninggal dunia.

Bahkan pihak keluarga kata Hj Murni, baru mengetahui adanya surat perjanjian yang menyatakan bahwa BM akan memberikan uang Rp300 juta jika Sur mencabut laporan KDRT tersebut.

“Semasa hidup adik saya sempat menyebut ada uang Rp300 juta dan awalnya kami mengira dia hanya mengigau. Namun, setelah kami mengetahui ada surat perjanjian yang ditandatangi oleh BM itu, kami baru mengetahui kalau selama ini Sur benar dan setelah kami cari uang itu ternyata tidak ada,” katanya.

Bahkan, kata dia, adiknya terpaksa menggadaikan kalung emasnya untuk membeli susu dan jajan anaknya. Jadi, uang yang dijanjikan sebagai iming-iming agar adik saya mencabut laporan atas kekerasan yang dialaminya tidak pernah diberikan. Bahkan, setelah laporan itu dicabut, BM masih kerap menganiaya istrinya,” ungkap Murni.

Sebelum Sur meninggal, kata dia, sempat mendapat perawatan intesnif selama satu minggu di Rumah Sakit Haji Darjat, kemudian dirawat selama tiga hari di RSUD AW Syahranie.

“Sempat dirawat satu minggu di Rumah Sakti Haji Darjat kemudian dibawa pulang ke rumah karena kondisinya dianggap sudah baik namun tidak cukup sehari kondisinya kembali kritis sehingga dia dilarikan ke RSUD AW Syahranie dan setelah tiga hari di ruang ICU adik saya meninggal. Dari keterangan dokter Rumah Sakit Haji Darjat ada pembengkakan di kepala,” katanya.

Menurut dia, kalau penganiayaan itu sudah lama dan semua tetangganya tahu termasuk di Aspol Loa Janan. Anaknya juga sering cerita kalau ibunya kerap dianiaya oleh bapaknya.

“Jadi, kami keberatan dan berharap kasus ini diusut untuk memasatikan apakah meninggalnya Sur ada hubungannya dengan penganiayaan yang selama ini dilakukan suaminya itu,” kata Murni.

Sementara, Wakil Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Samarinda AKP Suryono mengakui, kedatangan keluarga Sur itu hanya untuk menanyakan penanganan kasus tersebut.

Polisi, kata Suryono, telah menghentikan kasus KDRT yang diduga dilakukan Brigpol BM karena pengaduan itu sudah dicabut korban, sebelum meninggal dunia.

“Kasus yang dilaporkan adalah KDRT dan itu adalah delik aduan sehingga jika korban mencabut maka kasusnya dihentikan. Namun, jika ada lain maka itu sedang kami lakukan penyidikan,” ungkap Suryono.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *