POSKOTA.CO – Brazil dibantai Jerman 7 -1, Brazil tersingkir dan sang pelatih Brazil yang dijuluki, ‘Felipao’ atau ‘Big Phil’ tak jadi cukur kumis, dan tak jadi masuk sorga. “Saya tidak memiliki otorisasi untuk mencukur kumis, tapi saya akan mempertimbangkannya (jika Brazil juara),” demikian Luiz Felipe Scolari sebelum laga melawan Jerman. Statement lain Scolari adalah, menjadi juara dunia seperti mencapai sorga.
Kekalahan adalah suatu hal yang biasa dalam sepakbola. Tapi kekalahan Brazil ( baca : Brazil) dengan skor 7 -1 atas Jerman memang sungguh keterlaluan. Apalagi Brazil tuan rumah Piala Dunia 2014, dan timnya kini dihuni oleh nama-nama besar yang memperkuat club-club elite dunia.
Ada yang mengatakan, kekalahan Brazil atas Jerman lebih disebabkan karena tanpa Neymar yang cidera dan Thiago Silva yang terkena hukuman. Benarkah begitu?
Mari kita lihat perjalanan Brazil di Piala Dunia 2014 ini. Saat laga perdana digelar, dimana Brazil bertemu Kroasia, sebenarnya tanda-tanda tim Brazil meragukan performanya sudah nampak. Brazil sangat tidak impresif.
Brazil bahkan tertinggal lebih dulu oleh Kroasia. Andai saat itu wasit asal Jepang Yuichi Nishimura tak ‘membantu’ dengan menghadiahkan penalty, hasilnya bisa lain. Dalam laga itu wasit menilai Dejan Lovren melanggar Fred di kotak terlarang. Sebagian besar pecinta bola tahu itu, bahkan remaja Jepang mengaku malu memiliki warga bernama Yuichi Nishimura.
Hal ini memicu kemarahan kubu Kroasia sampai ke acara jumpa pers, dan mengatakan, “Kalau Piala Dunia kualitasnya seperti ini, langsung saja serahkan trofi ke kubu Brazil, tak usah ada Piala Dunia.”
Lalu fase dipenyisihan grup, Brazil juga tak mampu mengalahkan Mexico, hanya skor kacamata alias 0 – 0. Dan di 16 besar, Brazil nyaris tersingkir andai diperpanjanang babak kedua, tendangan pemain Chile, Mauricio Pinilla tak membentur mistar gawang Julio Cesar.
Akhirnya dilanjutkan dengan adu penalty, dan Brazil menang, meski diwarnai oleh dua pemain Brazil yang gagal menendang penalty, Willian Borges tendangannya melebar dan Givanildo Vieira de Souza, atau lebih dikelan dengan Hulk tendangannya berhasil diblok, tentu itu menguatirkan. Dan ketika melawan Columbia, meski Brazil menang tapi tak impresif.
Alhasil, dari fase grup sampai sampai perempat final, Brazil memang tidak menunjukkan sebagai tim calon juara. Yang dihadapi sebelumnya adalah tim-tim yang belum pernah mengecap trofi piala dunia.
Artinya Brazil belum teruji. Baru ketika bertemu Jerman, itu adalah laga yang sesungguhnya. Jadi sebenarnya tidak mengagetkan kalau Brazil disikat Jerman dengan skor telak.
Kelemahan Brazil lainnya, sebagai tuan rumah Brazil otomatis lolos, artinya tidak ikut kualifikasi, ini menjadi faktor kelemahan banyak negara yang menjadi tuan rumah Piala Dunia maupun Piala Eropa.
Hal ini yang juga membuat tim Brazil tak teruji, dan tidak memperoleh ukuran seberapa tangguh kekuatan Brazil sesungguhnya. Memang ada uji coba, tapi itu tak bisa dijadikan ukuran. Kalau sebelumnya pencinta bola mengunggulkan Brazil hanya melihat faktor tuan rumah dan banyaknya bintang didalamnya, dan juga track record sebagai jawara sepakbola.
Sementara Jerman sendiri memang pantas menang, bahkan dengan mencukur Brazil Jerman menjadi favorit juara. Di perempat final Jerman menyingkirkan Perancis yang pernah merasakan juara Dunia dan juara Eropa.
Pesta gol bagi Jerman di Piala Dunia memang bukan barang baru, khususnya melawan tim Amerika Latin yang kuat. Di Piala Dunia Afrika Selatan 2010, Jerman mempermalukan Argentina yang saat itu sangat kuat dibawa asuhan Diego Maradona, dengan skor telak 4 – 0. Di Piala Dunia 2002 di Korea Selatan – Jepang, Jerman mengawali laga dengan menggilas Arab – Saudi 8 -0.
Dengan tersingkirnya Brazil, bukan tidak mungkin juaranya nanti berasal dari Eropa, bisa Jerman, atau Belanda. Ini tentu ‘aib’ tersendiri bagi benua yang negaranya rata-rata gila sepakbola. Akhirnya, bisa jadi harapan benua ‘Latinos’ tertuju kepada Argentina.
Bukan tidak mungkin Argentina yang selama ini musuh bebuyutan fans Brazil berbalik membela Argentina (jika Argentina lolos dari Belanda). Disamping faktor sesama ‘Latinos’, sentimen terhadap Jerman yang merambat ke sentimen Eropa yang mempermalukan Brazil, bisa saja membuat hal itu terjadi. Kita lihat saja….







Komentar