BOGOR – Sebanyak 4 ribuan warga Bojongkulur dan Ciangsana, Kabupaten Bogor, menggelar Aksi Damai Percepatan Normalisasi Sungai Cileungsi dan Cikeas. Mereka tumplek-blek di Bundaran Marco Jl Vila Nusa Indah mendesak pemerintah pusat dan Pemda Jawa Barat untuk segera mengeruk lumpur dan membangun tanggul kedua sungai yang sering meluap dan mengakibatkan banjir horor di daerah tersebut.
Sejak pukul 07.00, ribuan warga yang mana sebagian besar merupakan penghuni perumahan Vila Nusa Indah 1 sampai 5, serta puluhan komplek perumahan maupun perkampungan mulai berkumpul di Bundaran Marco. Selama tiga jam, masing-masing kelompok warga melakukan orasi diselingi dengan kegiatan teatrikal yang menggambarkan betapa sengsaranya warga saat tertimpa musibah banjir akibat meluapnya Sungai Cileungsi dan Cikeas.

“Pada Aksi Damai ini kami mendesak pemerintah untuk segera melakukan normalisasi Cileungsi dan Cikeas,” ujar Koordinator Aksi Damai Syamsudin Rachyi di Bundaran Marco, Desa Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Minggu (4/5). Menurutnya, pada tahun 2020 Presiden Jokowi pernah mengungkapkan pihaknya telah menyetujui anggaran APBN sebesar Rp 4,2 triliun untuk Proyek Normalisasi Sungai Cileungsi Cikeas di Kabupaten Bogor, Sungai Bekasi, dan sekitarnya.
“Namun hingga saat ini ternyata normalisasi sungai itu sama sekali belum merambah Kabupaten Bogor, sedangkan daerah lain seperti Kota Bekasi sudah ada sedikit kegiatan normalisasi,” kata Syamsudin. Aksi tersebut turut dihadiri Camat Gunung Putri Kurnia Indra. Massa membawa sejumlah spanduk di antaranya bertuliskan ‘Kami Tidak Mau Tenggelam Lagi’.
Salah satu ketua komunitas Puarman berharap normalisasi segera direalisasi demi mengatasi banjir horor yang terjadi di daerah tersebut. “Kedua sungai tersebut sering meluap ke permukiman dan mengakibatkan banjir bandang di Bojongkulur, Cikeas, dan lainnya. Banjir horor terakhir terjadi pada 4 Maret 2025 yang mengakibatkan ribuan rumah terendam hingga beberapa hari. Ketinggian banjir bervariasi mulai dari 1 meter sampai 3 meter,” paparnya. Bahkan lumpur tebal dari banjir tersebut hingga kini masih banyak menyumbat saluran air.
Banjir bandang yang sering menyengsarakan masyarakat kini makin parah jika dibanding beberapa tahun sebelumnya. Sejak berdirinya Kawasan Berikat Terbatas Bekasi pada tahun 2015, mendorong banyak pabrik berdiri. Kemudian pabrik-pabrik tersebut mendirikan tanggul terlalu tinggi, tanpa mempedulikan lingkungan sekitar sehingga air limpasan sungai jadinya cuma mengarah Desa Bojongkulur.
Usai menyampaikan orasi, massa aksi yang sebagian besar mengenakan pakaian dan atribut warna putih membubarkan diri. Namun sebelum pulang, mereka sangat mengharapkan perhatian dari pemerintah. Mereka mendesak pemerintah agar Cileungsi dan Cikeas segera dikeruk lumpurnya, diperlebar, dan dibangun sheet pile atau tanggul. Jika aspirasi kami tidak dipindahkan, maka kami akan kembali menggelar aksi yang lebih besar lagi,” pungkasnya. (jo)







Komentar