oleh

Menghindari Jebakan Hawa Nafsu Akan Membawa Keselamatan dan Keberuntungan

Oleh : H. Nurshobah Abdul Fattah, S.Ag., M.Si/ Rois Syuriyyah PRNU Sukabumi Utara Kebon Jeruk Jakarta Barat.

DALAM sebuah riwayat dijelaskan bahwa pernah suatu ketika sepulang dari medan perang Nabi Muhammad saw bersabda kepada para sahabatnya, “Kalian telah pulang dari suatu jihad kecil menuju jihad besar.” Sahabat pun bertanya,”Apakah jihad yang lebih besar itu, wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “Jihad melawan hawa nafsu.”

Riwayat di atas bukan dimaksudkan untuk mengecilkan keutamaan perang di jalan Allah Swt atau biasa disebut jihad fii sabilillaah. Namun dimaksudkan untuk memperhatikan jihad melawan hawa nafsu, melatih diri dan berjuang melawan segala godaan dan kemauan hawa nafsu.

Sebab memang kita harus menundukkan hawa nafsu sehingga ia tunduk kepada perintah dan kehendak Allah swt. sebagaimana Firman Allah: ”Dan adapun orang-orang yang takutkepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS Al Nazi’at:40-41).

Perjuangan melawan dan menundukkan hawa nafsu adalah perjuangan yang tidak ada kata berhenti hingga akhir hayat. Jika musuh di medan perang dapat terlihat kita bisa memutuskan kapan menyerang atau kapan bertahan. Namun tidak demikian dengan hawa nafsu. Hawa nafsu tidak tampak wujudnya tapi sangat dekat dengan kita, yaitu berada dalam diri kita sendiri yang tidak mungkin kita lari atau bersembunyi darinya. Di manapun kita berada disitulah hawa nafsu berada. Karena itu sangat wajar jika Rasulullah saw mengatakannya sebagai jihad akbar.

Dalam sabdanya Nabi Muhammad saw menyampaikan:” Orang yang berjihad sejati adalah orang yang memerangi hawa nafsunya karena Allah.”(HR. Ahmad). Pada kenyataannya banyak sekali manusia yang ditumbangkan oleh hawa nafsunya sendiri yang akhirnya membawa kesengsaraan dalam kehidupannya. Karena itu jangan anggap sepele melawan hawa nafsu karena butuh kesungguhan dan jihad yang besar dan terus menerus Hawa Nafsu dan Perannya Pada dasarnya hawa nafsu adalah fitrah manusia yang tidak dapat dihilangkan, melainkan dapat dikendalikan dan diarahkan. Sebab Allah swt telah menciptakannya dengan tujuan antara lain agar manusia dapat merasakan kesenangan di dunia.

Kesenangan Hidup di Dunia

Dalam surat Ali Imron ayat:14 Allah Swt berfirman: “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, sawah dan ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.”

Ayat ini menyatakan bahwa Allah swt menjadikan tabiat manusia cinta kepada harta benda dan kesenangan. Namun semuanya itu sebagai sarana ujian untuk menguji keimanan seseorang, apakah dia akan menggunakan semua harta dan kesenangan itu untuk kehidupan duniawi saja ataukah dia akan menggunakan harta bendanya untuk mencari keridhaan Allah Swt.

Dalam surat Al-Kahfi secara lebih tegas Allah swt berfirman: Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami uji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.” (Al-Kahfi:7).

Dalam kehidupan sehari-hari manusia memang diuji dengan dengan keberadaan perempuan, anak-anak, harta benda, kendaraan, dan lain semacamnya. Ujian pertama adalah perempuan.

Ujian ini untuk kaum pria yang secara naluri senang dengan perempuan yang pada Akhirnya menjadi istri untuk mencari ketentraman dan kasih sayang dan disalurkan melalui gerbang pernikahan. (QS. Al-Rum: 21). Namun jika kecintaan dengan perempuan terlalu berlebihan dengan menerjang norma agama dan norma sosial, akan mempunyai efek yang tidak baik bagi kehidupan manusia, seperti adanya perzinaahan, pelacuran, perselingkuhan dan sebagainya yang disebabkan adanya dorongan hawa nafsu.

Sebagaimana perempuan, mencintai anak juga merupakan bagian dari fitrah manusia. Anak adalah hiasan rumah tangga, penerus keturunan dari generasi ke generasi. Namun anak juga dapat menjadi ujian jika mencintainya secara berlebihan,, tidak medidik dengan ajaran agama, memanjakan hidupnya dengan segala kemewahan dan membiarkannya tercebur dalam pergaulan bebas, kriminalitas dan sebagainya. Akibatnya kehadiran anak bukan menjadi permata hati tetapi justru menjadi tekanan hati kedua orang tuanya. Dalam Surat At Thaghobun ayat 15 Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu…”

Memiliki Harta Benda Berlimpah Tidak Dilarang

Memiliki harta benda yang yang banyak dan berlimpah tidaklah dilarang dalam Islam. Namun jika keberadaannya hanya untuk bermegah-megahan, sombong, dapat menyibukkan diri sepanjang hari hanya untuk menjaga dan menimbunnya membuat manusia lupa dengan Tuhannya. Hawa nafsu akan mendrong manusia tidak hanya memiliki harta melainkan juga keinginan menambah dan mencintainya secara terus menerus, tak akan pernah selesai dan tak kan pernah puas.

Dalam sejarah Nabi Muhammad saw ada sahabat yang bernama Tsa’labah. Seorang yang sebelumnya rajin ibadah meskipun miskin, selalu berjamaah bersama Rasulullah saw dan sahabat lainnya. Karena kemiskinannya dia mohon didoakan oleh Rasulullah saw agar memiliki harta yang melimpah dan berjanji akan memberikan hak harta orang yang berhak menerimanya.

Meski awalnya menolak karena bagi Nabi saw kemiskinannya adalah yang terbaik baginya dari Allah swt, namun karena diminta terus akhirnya Rasulullah mendoaannya agar menjadi orang yang berlimpah harta. Namun apa yang terjadi. Setelah semakin kaya dan sibuk dengan urusan kekayannya yang melimpah, Tsa’labah sedikit demi sedikit meninggalkan kewajibannya, sholat berjamaah, sholat jumat, mengingkari janjinya untuk membayar zakat bahkan tidak mengikuti jihad fii sabillah di medan perang bersama Nabi saw dan para sahabatnya. Keingkaran Tsa’labah ini direkam dalam Al-Qu’an Surat Al A’raf ayat 75-76. Demikianlah dahsyatnyasalah satu contoh godaan hawa nafsu bagi pemilik harta.

Demikian pula dengan kepemilikan kepada kendaraan berupa kuda, motor, mobil, kepemilikan hewan ternak yang banyak dan bahkan sawah dan ladang yang luas dan apapun juga dapat menggelincirkan manusia ke lembah kenistaan dorongan hawa nafsu. Semua itu sebenarnya merupakan alat kelengkapan hidup untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup. Adapun kekayaan berlimpah adalah merupakan bonus dari Allah Swt yang juga dapat dimanfaatkan bukan untuk memenuhi keinginannya saja melainkan untuk kemaslahatan umat manusia. Di sinilah jebakan hawa nafsu yang akan selalu mendorong manusia berbuat kerusakan, kemunkaran di muka bumi. Berapa mereka yang telah memiliki jabatan tinggi, karir cemerlang namun bearkhir di penjara, mereka yang rumah tangganya berantakan hanya karena masalah perselingkuhan, anak-anaknya brokenhome, istrinya minta berpisah, sedangkan karirnya juga habis. Berapa banyak keluarga harus dibantai hanya karena dorongan nafsu ingin milikiki kekayaan? Dan masih banyak contoh-contoh memprihatinkan disebabkan dorongan hawa nafsu yang tidak bisa dikendalikan.

Allah Swt menggambarkan mereka yang telah dikuasai hawanafsunya “Apakah kau pernah lihat orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan. Allah swt membiarkannya tersesat dalam kesadarannya. Allah telah mengunci pendengaran dan kalbunya, serta menutup pandangannya.

Maka siapakah yang mampu menuntunnya ketika Allah swt sudah menyesatkannya. Tidakkah kalian ingat?” (Al-Jatsiyah: 23)

Jihad Melawan Hawa Nafsu dan Metodenya

Allah swt dengan segala kemurahannya juga telah mempersiapkan alat yang membantu manusia agar tidak dikuasai oleh hawa nafsu. Menurut Ibnu Sina, selain adanya nafsu dalam diri manusia, Allah swt juga menciptakan kalbu atau hati nurani dan akal yang jika difungsikan dapat mengontrol hawa nafsu untuk tidak menguasai manusia. Hati nurani menjadi sumber spiritualitas dan akal-pikiran berperan membedakan mana yang benar dan yang salah. Nabi Muhammad saw pernah menyampaikan kepada sahabatnya Wabishah: “Wahai Wabishah, mintalah fatwa pada kalbumu kaarena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan dosa yang membuat bimbang hatimu dan membuat goncang dadamu…”(HR. Ahmad).

Namun demikian dalam praktik kehidupan sehari-hari banyak orang yang tidak meminta fatwa kepada kalbunya karena dorongan hawa nafsu sudah sedemikian besar. Karena itu diperlukan langkah-langkah agar bisikan hati nurani dalam kalbu ini. Langkah-langkah tersebut antara lain:

Pertama, memperkuat keimanan dengan cara banyak bertanya kepada para ulama, mengunjungi majlis ilmunya.

Kedua, milikilah teman spiritual yang memiliki persepsi, maksud dan tujuan yang sama yaitu bersungguh-sungguh untuk memperbaiki diri untuk taat beribadah, menghindar dari segala maksiyat dan kemungkran. Teman spiritual itu bisa istri atau suami, dan kawan yang lainnya.

Karena, seperti dikatakan oleh ulama, keberkahan itu adanya dalam berjamaah, kebersamaan, dan sebaliknya jika sendirian berjuang melawan hawa nafsu maka akan sulit dan berat.

Ketiga, banyak membaca Al-Quran sebagai bacaan mulia dan satu-satunya. Al-Quran yang kita baca saat ini sama persis yang dibaca oleh para sahabat, yang dibaca oleh Nabi Muhammad saw dan berasal dari Wahyu Allah swt melalui perantara malaikat mulia Jibril alaihissalam. Tidak adasatu huruf pun yang berbeda antara bacaan kita sekarang dengan yang diwahyukan kepada Nabi saat itu. Karena itu bagi orang beriman dan Islam sepatutnya bangga dan mendapat kehormatan bisa membaca ayat-ayat suci yang tidak lekang oleh waktu dan zaman. Bacalah Al-Qur’an meski belum mengerti artinya. Bacalah Al-Quran seolah-olah diturunkan kepadamu.

Keempat, untuk melawan dan mengontrol hawa nafsu dengan memperbanyak puasa. Puasa itu jadi benteng, sabda Nabi Muhammad saw. Dengan berpuasa kita belajar untuk menahan diri dan mengontrol diri. Saat berpuasa kita rela bertahan untuk tidak makan dan minum karena yakin ada saatnya berbuka dan yakin bahwa puasa ini sangat bermanfaat bagi diri kita, jasmani maupun rohani. Berpuasa memang salah satu cara yang paling efektif untuk belajar kontrol diri dari ajakan hawa nafsu yang menyesatkan dan menghancurkan hidup kita di dunia dan akhirat.

Sebagaimana Firman Allah swt:”Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepadamu untuk berpuasa sebahgaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelummu semoga kamu bertakwa. (Albaqarah:183). Semoga ibadah puasa Ramadhan yang sebentar lagi datang kita dapat menfaatkan semaksimal mungkin dan kita dapat belajar untuk memiliki kemampuan kontrol diri, menundukkan hawa nafsu untuk keselamatan dan keberuntungan hidup di dunia dan tentu saja di akhirat nanti. Semoga. (tarta).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *