Oleh : Karsidi Diningrat
PERTEMPURAN yang terjadi sekarang, bukan pertempuran membela atau menyerang aliran Asy’ariah atau Maturidiah, bukan pula untuk melawan golongan Mu’tazilah atau Jahmiah. Pertempuran dahsyat sekarang ini justru untuk melawan kelompok yang ingkar dan tidak percaya akan adanya Allah, para Rasul dan Kitab-kitab-Nya.
Pertempuran kita sekarang bukan melawan golongan yang mengatakan tentang Allah bahwa tiada tempat bagi-Nya, tetapi pertempuran kita ialah melawan golongan yang mengatakan bahwa “Allah itu tiada wujud-Nya, maka perlu Dia ciptakan.” Bukan pula melawan orang-orang yang menafsiri sifat-sifat Allah, melainkan melawan orang-orang yang mengingkari Allah secara keseluruhan.
Allah Swt Bersifat Qadim
Mengetahui bahwa Allah swt adalah bersifat Qadim Yang tidak pernah sirna, Azali Yang Wujud-Nya tidak berawal, bahkan dia adalah permulaan dari segala sesuatu, dan sebelum adanya mati dan hidup.
Alasannya adalah bahwa seandainya Dia itu baru (huduuts), dan tidak Qadim, niscaya Dia juga membutuhkan kepada sesuatu yang membuat barang baru tersebut, lalu sesuatu yang membuat itu juga akan butuh kepada sesuatu yang membuatnya lagi, begitu seterusnya sampai tak berujung (tasalsul) tidak akan menghasilkan kesimpulan, dan tidak akan berakhir sampai pada Pencipta Awal Yang Qadim. Padahal itu yang dicari, yang disebut dengan Pencipta alam raya ini, Dia-lah Pembuat dan Penciptanya.
Allah Swt Bukanlah Jauhar (elemen)
Mengetahui bahwa Allah swt bukanlah jauhar (elemen) yang memihak suatu tempat, tetapi Dia Mahatinggi dan Mahasuci dari segala bentuk keberpihakan. Alasannya adalah bahwa setiap jauhar mesti akan memihak pada tempat tertentu, sehingga ia memiliki ciri khusus dengan keperpihakannya. Ia tidak bisa lepas dari dua alternatif: Bisa jadi ia bertempat pada sesuatu atau bergerak meninggalkan sesuatu, sehingga ia tidak bisa lepas dari gerak dan tenang, sementara keduanya adalah ciri dari sesuatu yang baru. Sedangkan sesuatu yang tidak bisa lepas dari unsur baru adalah juga baru.
Seandainya jauhar yang memiliki sifat keperpihakan dengan sesuatu itu bisa dianggap qadim, tentu qadimnya elemen-elemen alam ini bisa diterima secara logis. Jika seseorang memberi nama sesuatu dengan sebutan jauhar, sementara ia tidak menghendaki jauhar tersebut dengan sesuatu yang memihak pada yang lain, tentu ia telah berbuat kesalahan dari sisi sebuatan nama (lafadz), dan bukan dari sisi makna yang dimaksud.
Allah Swt Bukanlah Jisim (korporeal)
Mengetahui bahwa Allah swt bukanlah jisim yang terdiri dari elemen-elemen, karena memang jisim itu adalah sesuatu yang terdiri dari elemen-elemen. Apabila tidak dibenarkan bahwa Allah itu jauhar yang punya ciri keberpihakan dengan pihak lain, maka juga tidak dibenarkan bahwa Allah itu jisim, karena setiap jisim adalah memiliki ciri keberpihakan dengan pihak lain dan terdiri dari elemen-elemen.
Maka jauhar (elemen) akan mustahil lepas dari ciri berkumpul dan berpisah, gerak dan tenang, kondisi dan volume, yang semuanya merupakan ciri-ciri makhluk. Dan seandainya boleh berkeyakinan bahwa pencipta alam ini adalah jisim, tentu boleh berkeyakinan bahwa Tuhan itu bisa dari matahari, bulan atau jisim-jisim yang lain. Apabila ada orang yang berani menamakan Allah swt. dengan jisim, sementara dengan pemberian nama itu ia tidak bermaksud dengan sesuatu yang terdiri dari elemen-elemen, maka ia telah keliru dalam memberikan nama, sementara ia benar dalam menafikan makna jisim.
Allah Swt Bukanlah Aradh
Mengetahui bahwa Allah swt bukanlah ‘aradh atau sifat yang ada pada jisim atau bertempat pada suatu tempat, karena ‘aradh adalah sifat yang berada pada jisim. Sementara itu, setiap jisim mesti barang baru (makhluk). Yang Penciptanya sudah Wujud sebelumnya. Lalu bagaimana Dia bertempat pada jisim, sementara Dia sudah Wujud sejak zaman Azali, sendirian tanpa ada pihak lain, kemudian setelah itu Dia mewujudkan jisim dan ‘aradh.
Oleh karena itu, Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa, Maha Menghendaki, Maha Pencipta, yang semuanya sifat ini merupakan sesuatu yang mustahil bagi ‘aradh, bahkan tidak rasional, kecuali bagi Dzat Yang Wujud, Yang Berdiri Sendiri, Yang Mandiri Dzat-Nya.
Dengan demikian, bahwa Dia adalah Dzat Yang Berdiri Sendiri, bukan jisim, bukan jauhar dan juga bukan ‘aradh dan jisim. Sementara itu seluruh alam adalah jauhar, ‘aradh dan jisim. Dengan demikian Dia tidak sama dengan sesuatu, dan tidak ada sesuatu yang mirip atau sama dengan-Nya. Dia Mahahidup dan Berdiri Sendiri dengan banyak beraktivitas, tidak ada sesuatu yang seperti Dia. Lalu bagaimana sesuatu yang diciptakan (makhluk) itu menyerupai Penciptanya, yang ditentukan menyerupai Yang Menentukan, yang dibentuk menyerupai Pembentuknya. Sedangkan segala jisim dan ‘aradh adalah termasuk makhluk dan ciptaan-Nya, maka mustahil untuk memutuskan bahwa semua unsur di atas sama dan mirip dengan-Nya.
Allah Swt suci dari Arah
Mengetahui bahwa Dzat Allah swt. suci dari ciri keterkaitan dengan arah. Sebab semua arah tersebut – baik arah atas, bawah, kiri dan kanan, depan dan belakang – adalah diciptakan oleh Allah melalui penciptaan manusia (makhluk) terlebih dahulu. Karena Dia menciptakan manusia dengan memiliki dua sisi: Pertama, sisi yang berpijak ke tanah yang disebut dengan kaki. Kedua, adalah sisi lain yang berlawanan dengan sisi yang pertama, yang disebut dengan kepala. Akhirnya terjadi suatu sebutan ‘atas’ bagi sisi yang berada di arah kepala, dan ‘bawah’ bagi sisi yang berada di arah kaki. Bahkan semut yang merayap di bawah atap dengan terjungkir, arah bagian atasnya akan terbalik menjadi bagian bawah, sekalipun bagi kita adalah arah bagian atas.
Allah swt. juga menciptakan manusia dengan dilengkapi dua tangan. Biasanya salah satunya akan lebih kuat daripada yang lain, sehingga muncul arah sebelah kanan untuk arah tangan yang lebih kuat, sedangkan sebaliknya adalah disebut kiri.
Allah juga menciptakan dua sisi, yang dari salah satu sisi tersebut, manusia bisa melihat dan bergerak menuju ke arah tersebut. Sehingga terjadi arah bagian depan untuk arah yang dituju, dan arah belakang bagi arah yang berlawanan. Dengan demikian arah-arah tersebut terjadi akibat terjadinya manusia. Andaikan Allah tidak menciptakan manusia dengan bentuk seperti ini, akan tetapi diciptakan dalam bentuk bulat seperti bola, tentu arah-arah tersebut tidak akan terjadi sama sekali.
Dengan demikian jelas bahwa Dia mustahil terdiri dari jauhar atau ‘aradh, maka Dia juga mustahil akan terkait dengan arah. Namun kalau yang dimaksud dengan arah itu bukan dua pengertian ini, berarti salah dalam pemberian nama meskipun maknanya mendukung. Karena kalau misalnya Dia ada di atas alam niscaya Dia lurus dengan alam, sementara itu, setiap sesuatu yang lurus dengan jisim, maka ia bisa jadi persis sejajar dengannya atau lebih kecil atau lebih besar. Sedangkan semua itu adalah ukuran yang membutuhkan sesuatu yang diukur. Padahal Sang Pencipta alam Yang Mahatinggi lagi Mahatunggal dan Maha Mengatur adalah bersih dari segala bentuk ukuran.
Adapun tentang mengangkat kedua tangan ke arah langit ketika seseorang sedang berdoa, adalah karena langit merupakan kiblat untuk berdoa, disamping juga merupakan suatu isyarat bahwa Dzat Yang diminta adalah memiliki Sifat kebesaran dan Keagungan, sekaligus mengingatkan, bahwa arah atas adalah menunjukkan sifat keagungan, karena Allah swt. di atas segala sesuatu yang ada, dengan memiliki wewenang untuk berkuasa dan memaksakan.
Allah Swt dapat dilihat di akhirat
Mengetahui bahwa Allah swt — disamping Dia tersucikan dari bentuk dan ukuran – tersucikan dari arah dan jangkauan lokasi, namun nanti di akhirat Dia dapat dilihat dengan mata seperti yang tertuang dalam Firman-Nya, “Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhanyalah mereka ‘melihat’.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23). Sementara sewaktu di dunia Dia tidak akan bisa dilihat, sebagaimana Firman-Nya, “Dia tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu …” (QS. Al-An’aam: 103). Dan dalam Firman-Nya yang lebih tegas dinyatakan, “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku.” (QS. Al-A’raaf: 143).
Yasin T. Al-Jibouri mengutip Imama Ghazali menyatakan bahwa dari sisi argumentasi dengan ayat secara literal, dimana ada ayat yang menunjukkan bahwa Allah bisa “dilihat” di akhirat, adalah tidak berakibat kepada sesuatu yang mustahil. Karena ru’yah (melihat) adalah salah satu bentuk kasyaf (penyingkapan tabir rahasia) dan ilmu (mengetahui), hanya saja ru’yah itu lebih sempurna dan lebih jelas daripada ilmu. Apabila “mengetahui” (ilmu) Allah itu boleh, sementara Dia tidak terkait dengan arah, tentu saja boleh dan tidak salah “melihat” Allah dengan tanpa arah. Sebagaimana Allah boleh melihat makhluk-Nya dengan tanpa berhadapan atau dengan tanpa terkait dengan arah, tentu makhluk-Nya juga boleh “melihat-Nya” dengan tanpa berhadapan. Sebagaimana Dia boleh diketahui dengan tanpa cara bagaimanapun, tentu Dia juga boleh “dilihat” dengan tanpa cara apa pun
Kalam Allah Swt
Imam Ghazali mengatakan bahwa “Sesungguhnya Allah Swt. Maha Berbicara (Al-Mutakallim), Maha Memerintah dan Melarang, memberi janji yang menyenangkan dan memberi ancaman. Semua itu dilakukan dengan Kalam-Nya yang Azali lagi Qadim, yang terkait dengan Dzat Allah, yang tidak sama atau mirip dengan pembicaraan makhluk. Sebab Kalam-Nya tidak menggunakan suara yang muncul dari getaran udara atau akibat benturan atau gesekan antara benda yang satu dengan yang lain, tidak pula dengan huruf yang bisa dituturkan dengan gerakan bibir dan lidah”.
“Sesungguhnya Al-Qur’an, Taurat, Injil dan Zabur adalah Kitab-kitab-Nya yang diturunkan kepada para Rasul-Nya – semoga keselamatan tetap diberikan kepada mereka. Sesungguhnya Al-Qur’an yang dibaca dengan lisan, yang tertulis dalam mushaf dan yang dihafal dalam hati sanubari, meski demikian ia adalah tetap Qadim yang terkait dengan Dzat Allah yang Qadim, yang tidak dapat dipisah-pisahkan atau dipenggal-penggal dengan memindahkan pada hati dan kertas. Sesungghunya Musa a.s. mendengar Kalam Allah dengan tanpa suara dan huruf, sebagaimana orang-orang bijak di akhirat nanti akan melihat Dzat Allah dengan tanpa terdiri dari elemen (jauhar) maupun sifat yang ada pada jisim (‘aradh).
“Apabila Dia memiliki Sifat-sifat itu, maka Dia hidup dengan sifat Hayat, mengetahui dengan Sifat Ilmu, kuasa dengan Sifat Qudrat, berkehendak dengan Sifat Iradat, mendengar dengan Sifat Sama’, melihat dengan Sifat Bashar, berbicara dengan Sifat Kalam, tidak sekedar dengan Dzat-Nya saja”. Wallahu ‘Alam bish-shawwab.
-Dosen Akidah dan Pemikiran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
-Penasihat Pengurus Wilayah Al-Washliyah Jawa Barat.







Komentar