oleh

Bahaya Lisan ketika Kata-Kata Diucapkan

Oleh  Karsidi Diningrat

ALLAH subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan diberi petunjuk (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji.” (QS. Al-Hajj [22]: 24). Dalam firman-Nya yang lain disebutkan, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari; Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa. Mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 2-3).

Keutamaan Diam

Bahaya lisan sangat banyak. Lisan bisa membuat rasa manis dalam hati dan mayoritas motifnya adalah tabiat. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri dari bahaya tersebut adalah dengan diam. Ketahuilah bahwa diam itu bisa menghimpun keinginan dan memfokuskan pikiran. Rasulullah saw telah bersabda, “Barang siapa menjamin apa yang ada di antara dua janggutnya dan kedua kakinya (maksudnya lisan dan kemaluan) untukku, niscaya aku menjamin surga untuknya.” (HR. Bukhari melalui Sahl bin Sa’d).

Dalam suatu hadits disebutkan dalam bagian akhir hadits Mu’adz, beliau bersabda, “Cegahlah ini atas dirimu.” Lalu Mu’adz bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan dihukum atas apa yang kami katakan?” Beliau menjawab, “Ibumu telah bersusah payah melahirkanmu wahai Mu’adz. Apakah manusia akan menelungkupkan wajahnya di atas api neraka?” atau beliau bersabda, “Apakah manusia akan menelungkupkan hidungnya di atas api neraka, melainkan disebabkan oleh lisan mereka?” (HR. Turmudzi).

Dan dalam hadits lain juga Rasulullah bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari). “Diam (tidak bicara) adalah suatu kebijaksanaan dan sedikit orang yang melakukannya.” (HR. Ibnu Hiban). Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih butuh dipenjara (dikekang) daripada lisanku.”  Abu Darda’ bertutur, “Aktifkan dua telingamu daripada mulutmu, karena diciptakan bagimu dua telinga dan satu mulut agar kamu lebih banyak mendengar daripada bicara.”

Juga dalam hadits lain disebutkan, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang mengucapkan kebaikan lalu ia mendapatkan keuntungan, atau dia diam tidak mengatakan hal yang buruk lalu ia selamat.” (HR. Ibnul Mubarak melalui Khalid ibnu Abu Imran). Semoga Allah mengampuni seorang hamba yang melalukan ucapan santun dan baik, lalu ia memperoleh rezeki dari perbuatannya itu, atau ia diam dari suatu perbuatan yang buruk agar dirinya selamat dari tindakan jahat pelakunya.

Begitu juga dalam hadits lainnya dinyatakan, “Semoga Allah merahmati orang yang memelihara lisannya dan ia mengetahui zamannya serta menempuh jalan yang lurus.” (HR. ad-Dailami melalui Ibnu Abbas r.a.). Orang yang mendapat rahmat dari Allah ialah orang yang memelihara lisan dan mengenal keadaan zamannya, sedangkan ia tetap istiqamah dalam jalan yang lurus dan tidak terpengaruh oleh keadaan zamannya.

Ada beberapa bencana lisan, di antaranya :

  1. Perkataan Keji, Mencela, dan Mengumpat

Semua ini termasuk perbuatan tercela dan terlarang. Perbuatan tersebut bersumber dari keburukan dan kehinaan. Rasulullah Saw telah bersabda, “Hindarilah perkataan keji, sebab Allah tidak menyukai perkataan keji dan melontarkan perkataan keji.” (HR. Nasa’i). Dalam hadits lain disebutkan, “Orang mukmin itu bukanlah orang yang gemar mencemarkan kehormatan orang lain dan bukan pula orang yang suka mengutuk, melontarkan perkataan keji, dan mengumpat.” (HR. Turmudzi).

Perkataan keji dan mengumpat adalah ungkapan tentang perkara-perkara yang secara jelas dianggap buruk. Dalam hal ini Rasulullah bersabda, “Bencana itu diakibatkan oleh lisan, seandainya seseorang mencap orang lain bahwa ia menyusu kepada anjing betina, niscaya orang itu benar-benar menyusu kepadanya.” (HR. al-Khathib melalui Ibnu Mas’ud r.a.). Janganlah seseorang mencela orang lain karena sesungguhnya barang siapa yang mencela seseorang melakukan suatu keburukan, niscaya sebelum ia mati pasti dia akan melakukannya terlebih dahulu. Oleh karena itu, hati-hatilah menjaga mulut, sebab berapa banyak musibah yang menimpa diri seseorang karena ia tidak memelihara mulutnya. Dan dalam suatu hadits disebutkan, “… tahanlah lisanmu, kecuali untuk perkara yang baik dengan demikian berarti engkau mengalahkan setan.” Barang siapa yang ingin selamat, hendaklah ia memelihara lisannya, kecuali untuk kebaikan karena berapa banyak orang yang dijerumuskan ke dalam neraka akibat ulah lisannya.

  1. Ghibah atau Menggunjing

Ghibah adalah membicarakan orang lain yang tidak ada dengan hal-hal yang tidak ia sukai jika ia mendengarnya, baik itu berkaitan dengan kekurangan badan, atau juga berkaitan dengan nasab; atau berkaitan dengan akhlak, atau berkaitan dengan pakaian, atau yang berkaitan dengan ucapan orang lain.

Larangan terhadap ghibah telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan pelakunya diumpamakan orang yang makan bangkai. Dalam hadits disebutkan, “Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian adalah haram atas diri kalian.”

Abu Barzah Al-Azlami meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Wahai manusia yang beriman dengan lisannya dan iman itu tidak merasuk dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing kaum muslimin, janganlah kalian mencari-cari aib mereka, karena sesungguhnya orang yang mencari-cari aib saudaranya maka Allah akan mencari-cari aibnya. Dan barang siapa yang aibnya dicari-cari oleh Allah, Dia akan menunjukkan keburukannya meski ia bersembunyi di dalam rumahnya.” (HR. Abu Dawud).

Ketika Nabi ditanya soal ghibah, beliau menjawab, “Olehmu menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak ia sukai.” Orang itu kembali bertanya, “Bagaimana pendapatmu bila pada diri saudaraku terdapat sesuatu yang aku katakan tadi, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jika pada diri saudaramu terdapat apa yang engkau ghibahkan maka engkau sungguh telah mengghibahnya. Dan jika sesuatu tersebut tidak ada pada dirinya maka engkau telah mendustakannya.” (HR. Muslim).

Oleh karena itu, segala hal yang tujuannya untuk mencela, merendahkan, menghina maka itu termasuk dalam kategori ghibah, baik dengan perkataan maupun lainnya, seperti kerdipan mata, isyarat, atau tulisan, karena tulisan adalah salah satu dari dua lisan.

Penyebab Ghibah

Sebab-sebab yang mendorong untuk ghibah sangat banyak, di antaranya: a, ingin melampiaskan amarah. Karena, ada orang yang dianggap merugikan terhadap dirinya atau kelompoknya sehingga membuatnya marah. Ketika amarahnya bergolak maka ia menggunjing orang tersebut. b. ingin mengangkat diri sendiri atau kelompoknya dengan cara menjelek-jelekkan orang lain sehingga ia berkata, “Si fulan demikian, demikian,” atau lainnya. Ia berkata seperti itu dengan tujuan mengukuhkan kebaikan dirinya dan memperlihatkan kepada mereka bahwa ia lebih pinter, lebih benar, tidak salah, dll, dari fulan tersebut.

Begitu juga iri. Iri adalah perasaan tidak senang atau merasa kurang puas ketika melihat kelebihan atau keberuntungan orang lain. Istilah ini juga sering disebut dengki atau hasad. Jika amarah ditahan karena tidak mampu melampiaskannya maka seketika itu juga ia kembali kepada batin, menetap di dalamnya hingga menjadi dengki. Dengki adalah buah dari amarah, sedangkan iri ialah buah dari dengki. Iri terhadap pujian, kecintaan, keberhasilan, dan penghormatan masyarakat terhadap seseorang. Kemudian ia mencemarkan kehormatan orang lain dengan tujuan menghilangkan nama baiknya di mata khalayak.

Ghibah Karena Buruk  Sangka

Ghibah terkadang dilakukan dengan hati, yaitu dengan berburuk sangka kepada orang lain. Persangkaan adalah sesuatu yang menjadi kecenderungan jiwa dan digemari oleh hati. Oleh karena itu, tidak sepatutnya kita berprasangka buruk kepada seseorang kecuali ada bukti yang tidak membutuhkan penafsiran lagi. Bila ada orang berlaku adil, berbuat baik untuk masyarakat yang menyampaikan hal itu, dan hati kita cenderung mempercayainya maka kita dimaafkan, sebab jika mendustakannya berarti kita telah berburuk sangka kepada orang tersebut.

Allah Swt telah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain …” (QS. Al-Hujurat [49]: 12).

Rasulullah bersabda, “Berhati-hatilah terhadap purbasangka. Sesungguhnya purbasangka adalah ucapan paling bodoh.” (HR. Al-Bukhari). Dalam hadits lain disebutkan, “Barang siapa mengintai-intai keburukan saudaranya semuslim maka Allah akan mengintai-intai keburukannya. Barang siapa di intai keburukannya oleh Allah maka Allah akan membongkarnya walaupun dia melakukan itu di dalam (tengah-tengah) rumahnya.” (HR. Ahmad). Juga dalam hadits lain dinyatakan, “Sesungguhnya bila kamu mengintai-intai keburukan orang maka kamu telah merusak mereka atau hampir merusak mereka.” (HR. Ahmad).

Berbaik sangka kepada orang lain adalah sumber untuk menumbuhkan hubungan baik dengan sesama manusia. Sedangkan berburuk sangka menciptakan ketegangan di dalam hubungan sosial, bahkan bisa mendorong kepada kedengkian, retaknya hubungan, perselisihan, dan permusuhan.

Terkadang kita mendengar suatu kalimat dari mulut sesama kita. Janganlah kita cepat-cepat menaruh prasangka buruk kepadanya karena kalimat tersebut. Mungkin saja maksud ucapannya itu tidak seperti yang kita bayangkan. Sebaliknya, artikanlah itu kepada maksud yang baik. Betapa sering kita mendengar perkataan orang lain, lalu kita berburuk sangka kepadanya, tapi kemudian terbukti bahwa yang ia maksudkan tidak seperti yang kita kira.

Ali bin Abi Thalib as berkata dalam wasiatnya kepada putranya Hasan as, “Janganlah sampai buruk sangka mengalahkanmu, karena dia tidak meninggalkan kebaikan antara kamu dengan temanmu.” Ucapan beliau lagi, “Jangan kamu berburuk sangka terhadap ucapan saudaramu padahal kamu masih melihat ada kemungkinan maksud baik dari ucapannya itu.”

Berkatalah yang Diridhai Allah

Dalam suatu riwayat disebutkan, “Seseorang akan berbicara dengan pembicaraan yang diridhai Allah, sedang ia tidak mengira pembicaraannya akan sampai ke mana pun, maka Allah akan mencatatkan baginya keridhaan-Nya hingga hari ia bertemu dengan-Nya. Dan seseorang akan berbicara dengan pembicaraan yang dimurkai Allah, sedang ia tidak mengira pembicaraannya akan sampai ke mana pun, maka Allah akan mencatatkan baginya kemurkaan-Nya di dalam neraka hingga hari ia bertemu dengan-Nya.”

Di dalam sabdanya yang lain, “Sesungguhnya, seorang hamba akan berbicara dengan perkataan yang tidak diperhitungkan terlebih dahulu, sehingga karenanya ia akan dilemparkan ke dalam neraka dari tempat sejauh bintang Tsurayya”.

Kini jelaslah, bahwa lisan itu amat besar bahayanya. Tak seorang pun selamat dari bahayanya, melainkan dengan berdiam diri, tidak berkata-kata jika tidak perlu, dan hanya sekedar yang perlu saja. Dalam suatu hadits disebutkan, “Beruntunglah orang yang dapat menguasai mulutnya, menjadikan rumahnya sebagai surganya dan menangis atas dosa-dosanya.” (HR. Thabrani melalui Tsauban).  Wallahu a’lam bish-shawwab.

-Dosen Akidah dan Pemikiran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

-Dewan Penasihat Pengurus Wilayah Al-Washliyah Jawa Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *