oleh

Tepis Terlibat Zionis Israel, Banyak Perusahaan Berlindung di Balik Aksi Donasi untuk Palestina

JAKARTA – Berlanjutnya boikot terhadap produk-produk terafiliasi Israel di Indonesia agaknya membuat gerah beberapa pihak yang terdampak. Ini berakibat pada munculnya disinformasi yang berupaya menepis keterkaitan produk mereka dengan negara zionis Israel yang saat ini sedang melakukan genosida di Gaza, Palestina.

Disinformasi untuk memunculkan kebingungan di tengah konsumen muslim ini juga dikampanyekan melalui media chatting WhatsApp. Sasarannya, dari ibu rumah tangga, kelompok profesi, hingga ibu-ibu pengajian.

Upaya pembelaan diri dengan taktik disinformasi seperti ini secara sinis disebut dengan istilah “Palestina Washing”. Kampanye berbaik-baik dengan Palestina ini, lazimnya menyebut bagaimana sejumlah perusahaan multinasional telah ikut menyumbangkan donasi kemanusiaan untuk membantu warga Gaza, atau menyebut produk mereka diproduksi di  Indonesia –walaupun sebetulnya markas pusatnya ada luar negeri.

“Konsumen muslim seharusnya menggunakan produk-produk alternatif sebagai pengganti,” kata Direktur Eksekutif YKMI, Ahmad Himawan, mengingatkan soal ‘Palestina Washing’ ini dalam diskusi publik bertema “Ramadhan Tanpa Produk Genosida” di Jakarta (15/3).

YKMI lanjut Ahmad Himawan telah mengidentifikasi sepuluh produk pro genosida dengan sejumlah kriteria. Salah satu yang menjadi acuan adalah data dari situs Boycott.Thewitness dan Bdnaash.

Ahmad menyebut bahwa berdasarkan analisa dan kajian internal, YKMI merekomendasikan boikot massal atas sepuluh brand produk perusahaan multinasional asing, termasuk Starbucks, Danone, Nestle, Zara, Kraft Heinz, Unilever, Coca Cola Group, McDonalds, Mondelez, Burger King, dan produk kurma dari Israel.

“Kami menyarankan konsumen muslim menghindari semua produk tersebut sejak Ramadhan ini, “ katanya.

Selain situs Boycott.Thewitness dan Bdnaash yang paling popular di Indonesia, situs gerakan Boycott, Divestment and Sanctions (BDS) sejak lama juga aktif membagikan link yang mendorong ajakan boikot terhadap produk-produk terafiliasi Israel. Bahkan pada 2009, BDS melalui situs bdsmovement.net ikut mendorong kampanye boikot yang dicetuskan Asosiasi Konsumen Turki dengan menyebarkan link untuk memboikot produk-produk terafiliasi Israel, termasuk  Danone, Coca Cola, Starbucks, dan Mc Donald’s. (Link: https://bdsmovement.net/news/turkish-group-calls-citizens-boycott-israeli-products)

Boikot produk terafiliasi Israel harus diakui memang telah berdampak. Tak kurang, kanal berita Al Jazeera mengungkapkan bagaimana boikot telah berdampak pada produk-produk terafiliasi Israel di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia dan Malaysia. Media internasional ini melaporkan kencangnya gerakan boikot konsumen muslim sebagai protes atas pembersihan etnis yang dilakukan militer Israel di Gaza.

“Ini bukanlah boikot langsung, melainkan perasaan tidak senang yang mendalam terhadap Israel,” kata Putra Kelana di Medan, Sumatera Utara, kepada Al Jazeera, tentang alasannya memboikot produk makanan siap saji global, McDonald’s (20/3).

Kelana  bersama keluarga dan teman-temannya telah melakukan boikot terhadap McDonald’s sejak Oktober 2023, ketika McDonald’s Israel menyumbangkan ribuan makanan gratis kepada militer Israel di tengah pengeboman masif di Gaza.

Kelana, yang bergabung dalam grup WhatsApp di mana anggotanya secara berkala memposting daftar produk yang harus dihindari, juga telah berhenti minum air minum Danone Aqua, terutama  setelah  maraknya pemberitaan bahwa produsen Prancis, Danone, berinvestasi di beberapa perusahaan dan startup Israel.

Aktif Donasi ke Palestina

Danone Indonesia, yang mengoperasikan 25 pabrik dengan 13.000 karyawan di Indonesia, tentu saja berupaya keras membantah adanya “hubungan atau keterlibatan dalam pandangan politik” terkait dengan genosida di Gaza, dan kemudian aktif mengumumkan  sumbangan donasi kemanusiaan perusahaan itu ke Palestina.

Danone menjadi merek paling popular yang menjadi target boikot di Indonesia, karena investasinya yang dimulai sejak beberapa dekade silam di Israel. Harian The Jerusalem Post dan The Times of Israel pada Maret dan  April 2023, sudah memberitakan kalau Danone sudah menanam investasi awal di sebuah perusahaan start up Israel bernama Wilk sebesar 3,5 juta USD.

Danone bahkan punya investasi lebih besar lagi di konglomerasi makanan milik Strauss Group dan menguasai  20 persen saham di situ.  Asal paham saja, Strauss Group ini dikenal sebagai pendukung militan militer Israel yang dikenal sangat brutal terhadap warga Palestina.

Akhir tahun lalu, Danone juga membuat geger, ketika produknya terlihat di antara pasukan Israel yang sedang menyerbu Gaza. Produk air mineral dengan merek Sirma tersebut asalnya didirikan di Turki, namun  kemudian dibeli Danone pada 2013.

Video yang beredar luas di media sosial menunjukkan tentara Israel tersenyum duduk mengelilingi meja di barak militer darurat yang tampaknya adalah sebuah sekolah. Saat itu, tampak sebotol air Sirma ada di atas meja. Kontan saja ini mengundang ajakan boikot terhadap air mineral Sirma. Dengan menggunakan tagar #BoykotSirmaSu, pengguna media sosial mendesak konsumen untuk berhenti membeli air milik Danone tersebut.

“@sirmaturkiye menjaga pasukan pendudukan Israel tetap terhidrasi saat mereka melakukan genosida terhadap warga Palestina di Gaza,” tulis salah satu pengguna di platform X, dikutip dari The New Arab, Jumat, 15 Desember 2023.

“Kami melanjutkan boikot sekuat mungkin. Kami tidak membeli produk-produk pembunuh bayi dan Zionis. #BoykotS?rmaSu,” tulis pemilik akun X lain.

Dari pihak Sirma sendiri saat itu jelas menyatakan di situs webnya, bahwa produk Sirma yang diproduksi Danone tersebut memang bisa ditemukan di Israel.

Di Indonesia, bulan suci Ramadhan telah menjadi momentum kembali menggerakkan kesadaran konsumen Muslim untuk boikot produk-produk terafiliasi Israel.

Bahkan menjelang bulan Ramadhan 2024, pasca keluarnya Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No 83/2023,  gerakan boikot konsumen Muslim makin diperkuat dengan dukungan MUI  melalui deklarasi berupa  instruksi atau “Irsyadat Majelis Ulama Indonesia”, di Gedung MUI, Jakarta (10/03).

Salah satu dari lima poin instruksi MUI itu secara tegas, “Menyeru umat Islam agar mulai bulan Ramadhan ini untuk tidak menggunakan lagi produk yang diproduksi oleh perusahaan yang terafiliasi dengan penjajah Israel dan pendukungnya, seperti produk kebutuhan konsumsi sahur, berbuka puasa, dan barang hantaran Lebaran (hampers) maupun produk-produk lainnya.”

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *