oleh

PERDOSRI Luncurkan SIG Sarkopenia: Hadirkan SinergiI, Interdisiplin dan Terobosan Teknologi Skrining Otot Nasional

JAKARTA – Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (PERDOSRI) secara resmi memperkenalkan kelompok studi klinis terbarunya, yaitu Special Interest Group (SIG) Sarkopenia. Momentum ini diresmikan melalui perhelatan Webinar Awam Nasional bertajuk “Inisiasi Kerja Interdisiplin dalam Tatalaksana Sarkopenia dengan Orientasi Penyesuaian Perilaku dan Budaya yang Suportif” pada Minggu (12/7). Acara ini mengintegrasikan edukasi praktis berbasis komunitas dengan literatur sains global mutakhir untuk mengatasi ancaman penurunan massa dan fungsi otot di Indonesia.

Sarkopenia kini disorot sebagai tantangan kesehatan nasional yang serius. Data Asia-Pasifik berdasarkan kriteria AWGS (Asian Working Group for Sarcopenia) menunjukkan bahwa prevalensi kondisi ini mencapai kisaran 29%, dan dapat melipatgandakan risiko mortalitas serta disabilitas fungsional pada lansia. Melalui peluncuran kelompok peminatan baru ini, PERDOSRI menegaskan urgensi pergeseran paradigma pelayanan kesehatan dari yang bersifat penanganan penyakit (diseasebased) menuju perlindungan dan pengoptimalan kapasitas fungsi tubuh secara paripurna (functionbased paradigm).

“Kita harus mendobrak stigma di masyarakat yang menganggap bahwa tubuh yang melemah, melambat, atau mudah jatuh adalah konsekuensi maklum dari proses penuaan. Profesi Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi hari ini menyatakan dengan tegas: Lemah otot bukan sekadar tua! Ini adalah Sarkopenia, sebuah kondisi medis objektif yang bisa kita intervensi sejak dini melalui strategi promotif, preventif, dan rehabilitatif yang terukur,” jelas DR.Dr Rumaisah Hasan, Sp.KFR, SubSp., N.M.(K)., FEMG., Ketua Umum Pengurus Pusat PERDOSRI dalam pidato pembukaannya.

Dalam pemaparan ilmiah dari jajaran narasumber interdisiplin—yang melibatkan pakar Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (Sp.K.F.R), Penyakit Dalam Konsultan Geriatri (Sp.P.D. K-Ger), serta Gizi Klinik (Sp.G.K)—dijelaskan alur penegakan diagnosis yang berjenjang dan aplikatif. Mulai dari penapisan mandiri sederhana di komunitas menggunakan metode Tes Cincin Jari (Finger-ring test) dan kuesioner SARC-F, evaluasi kekuatan otot lewat uji kekuatan genggaman tangan (Hand Grip Strength), penilaian performa fisik fungsional melalui uji Chair Stand Test (kemampuan berdiri-duduk 5 kali), hingga konfirmasi kuantitatif massa otot paha depan menggunakan Ultrasonografi (USG) muskuloskeletal dengan rasio STAR (Sonographic Thigh Adjustment Ratio).

Visi teknologi masa depan turut diperkuat dengan dipaparkannya hasil studi multisenters internasional terbaru, SARCO X Study, yang dipublikasikan pada jurnal ilmiah ternama JAMDA. Riset tersebut memperlihatkan efisiensi tinggi dari pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Machine Learning) dalam penapisan sarkopenia. Dengan menganalisis variabel klinis dasar seperti usia, aktivitas fisik, serta komorbiditas kronis berupa Hipertensi dan Diabetes Mellitus, algoritma cerdas ini mampu memangkas kebutuhan tes kekuatan fisik konvensional hingga 38,1% dan meminimalisasi penggunaan perangkat pencitraan medis hingga 49,5%.

“Implementasi sains modern ini membuka jalan bagi pemerataan layanan kesehatan otot di Indonesia. Skrining berbasis kecerdasan buatan dapat diadopsi secara luas di fasilitas kesehatan primer seperti Puskesmas, memberikan penapisan yang cepat, efisien, dan berbiaya rendah bagi masyarakat luas, bahkan jauh sebelum manifestasi klinis disabilitas fisik muncul,” tambah DR.Dr Rumaisah Hasan.

Sebagai fondasi utama tata laksana komprehensif, webinar ini merumuskan 3 Pilar Utama Penyelamatan Otot yang harus diimplementasikan oleh masyarakat dan tenaga medis secara sinergis, yaitu:

1. Nutrisi Protein Adekuat: Memastikan asupan protein tinggi yang terdistribusi merata berkisar antara 1,2 hingga 1,6 gram per kilogram berat badan per hari, ditunjang suplemen pendukung sesuai indikasi klinis.

2. Latihan Kekuatan Spesifik (Resistance Exercise): Menjalankan latihan beban atau resistansi terarah (seperti gerakan *squat*, *sit-to-stand*, dan penggunaan *resistance band*) sebanyak 2–3 kali seminggu, menegaskan pesan penting bahwa *jangan hanya mengandalkan jalan kaki* untuk menjaga kekuatan otot rangka.

3. Optimalisasi Vitamin D & Gaya Hidup Aktif: Mempertahankan kadar kecukupan Vitamin D dalam tubuh guna mendukung stabilitas, koordinasi gerak neuromuscular, serta meminimalisasi risiko jatuh pada populasi lanjut usia.

Melalui pembentukan SIG Sarkopenia ini, PP PERDOSRI berkomitmen penuh untuk mendorong pengembangan riset terapan berkelanjutan, penyusunan panduan praktik klinis nasional yang integratif, serta program edukasi publik yang konsisten guna menginspirasi masyarakat membangun “tabungan otot” sejak usia produktif demi tercapainya Indonesia yang sehat, aktif, dan tangguh.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *