oleh

Novel Hendak Memprovokasi Kasus Kematian Ustaz Maaher, Polri Dipojokkan

POSKOTA.CO – Indonesia Police Watch (IPW) menilai Ciutan Novel soal Ustad Maher memang sangat tidak etis terkesan intervensi profesional Polri serta bisa memperburuk hubungan KPK Polri. Meski demikian Polri tak perlu memanggil dan memeriksa Novel karena hanya buang buang waktu.

Dikatakan Neta, Novel sebagai aparatur KPK dia mantan anggota polri yg sudah mengundurkan diri. Jadi kalau pun dia mau berpendapat sebaiknya disampaikan langsung ke para mantan koleganya yg masih banyak bertugas di polri.

Jika opininya dilempar ke publik akan muncul opini negatif yg bisa menuding novel hendak memprovokasi publik dan memojokkan Polri, yang ujung ujungnya hendak membenturkan Polri dgn KPK.

Sebab, dalam cuitannya Novel menulis, ‘Innalillahi Wainnailaihi Rojiun. Ustadz Maaher meninggal di rutan Polri. Padahal kasusnya penghinaan, ditahan, lalu sakit. Orang sakit, kenapa dipaksakan ditahan? Aparat jangan keterlaluanlah.. Apalagi dengan Ustaz. Ini bukan sepele loh…,’

Ketua Presidium IPW Neta S Pane, desak Polri untuk tidak memberi izin pelaksanaan pertandingan Liga 1 dan 2, dikhawatirkan akan menimbulkan klaster baru Covid-19.

Sebagai anggota masyarakat sangat wajar novel beropini dan beropini dijamin UU. Tapi kapasitas novel sbg penyidik KPK membuat opininya berdampak negatif. Seolah olah novel hendak mengintervensi polri.

Publik bisa menilai bahwa bukan kewenangan Novel mengomentari kerja sesama aparat penegak hukum. Pun terkait kematian Maaher At Thuwailibi, Novel dinilai tak dalam kapasitas membicarakan hal tersebut. Apalagi dia tidak tahu persis kronologi yang terjadi di rutan Polri, sehingga tidak etis novel berkomentar menyudutkan Polri di wilayah publik.

Lalu apakah perlu novel diperiksa sehubungan adanya laporan soal kematian ustad Maher tsb? IPW menilai tidak perlu. Apalagi kapolri baru telah mengatakan polri akan mengedepankan restorative justice dalam penanganan kasus.

Sebab itu Polsek misalnya, pola kerjanya akan diubah. Memeriksa Novel hanya membuang buang waktu Polri. Namun IPW mendesak dewan etik KPK segera menegur novel agar jangan kebiasaan mengurusi kinerja dan kinerja institusi lain dan urusin saja kinerja KPK agar mampu membumi hanguskan korupsi dari negeri ini.(rel)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *