oleh

Kita Masak Omlet

POSKOTA.CO – Pada awal awal penugasan kami tinggal bersama di Maputo kurang lebih satu bulan. Kami kontrak di apartemen lantai 14. Setengah dipakai pemilik rumah dg keluarganya kami setengahnya ber lima belas. Bisa dibayangkan seperti apa kami tidur. Tentu di mana ada bidang datar kami bisa ndlosor.

Lumayan lift bisa berjalan walau kami selalu was was karena bunyi klothok klothok seakan baut bautnya akan mrotholi. Kami menenangkan jiwa ya hitung hitung lumayan daripada jalan kaki lewat tangga. Saya sebagai anggota pasukan paling yunior tentu ke sana sini hanya berkata siap.

Bangun paling awal beberes menanak nasi dng rice cooker. Merebus telur dan masak mie instan makanan sarapan kami. Saya dibantu Lettu Joko lukito dan Kapten Zulkarnaen juga Kapten Budi susanto. Setiap pagi harus bangun duluan mandi bergantian dan hrs cepat, karena jam 08.00 jemputan dari head quarter sudah datang.

Pada hari minggu kami libur dan berjalan jalan keliling kota. Mayor Andayono mengajak saya belanja ke pasar. Tentu saya berkata siap. Kami berdua blusukan pasar yang dibeli telor daun bawang dan bawang bombai. Minyak goreng kami beli satu liter. Saya bertanya :” bang arep masak opo”.

Letnan Satu Chryshnanda bersama warga setempat

Beliau sambil tertawa berkata : kita masak omelet” dengan logat medhok jawanya. Saya bertanya lagi :” omelet ki opo?” Saya yang memang tidak tahu apa itu omelet. Malum polisi ndeso ke luar negeri pertama kali saja di Mozambique. Tentu agak gagap gagap dengan nama nama makanan.

Kami terus saja berjalan jalan sampai hampir jam 11.00. Mayor Andayono mengajak pulang kita makan di kontrakan saja. Saya tidak tahu teman yang lain pada plesir ke mana. Akhirnya kami berdua jalan pulang ke apartemen kontrakkan. Seperti biasa dg lift klothok klothok kami naik sampai lantai 14.

Mayor Andayono langsung memerintahkan :” ini telor dicuci bawang bombai dirajang, daun bawang dirajang, tepung ada tho siapkan”. Setelah semua beres saya menanak nasi. Setelah sekian lama umek memasak tiba tiba mayor Andayono berteriak :” omelet sudah siap”. Saya melihat telur yg digulung. Dan saya bilang ” oalah bang mung ndog dadar to kok gaya temen omelat omelet”.

Mayor Andoyono tertawa ngikik dan berkata: ” wis rasah nganggo ribut ayo madhang ndi kecap e”. Kita makan siang agak seret seret karena hanya nasi dan omelet dan kecap saja. Mayor Andayono bertanya:” piye, enak to?” Saya enak: ” enak bang soale jemeng e omelet nek ndog dadar yo ra enak”. Mayor Andayono ngikik lagi dan terus makan. Enak ga enak harus enak.(cdl) Cerita lantai 14 apartemen pindhang dg lift klothokan Jakarta 11 pebruari 2021.

 40 total views

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *