oleh

Menguji Netralitas Pers, Masih Adakah?

TANPA sengaja pagi hari dua pekan lalu saya bertemu dengan seorang sahabat. Kami dulu sama-sama meniti karier sebagai jurnalis. Sama-sama berjibaku meliput pembongkaran kawasan PI alias Pejompongan Indah, lokalisasi di sekitar rel kereta api tak jauh dari Tanah Abang. Ya banyak sekali kejadian di Ibu Kota yang kami cover.

Belum lagi kami diajak teman cepu untuk 810 kawanan penjambret di angkutan malam hari di kawasan Daan Mogot Jakarta Barat. Wah pokoknya seru. Ladang pencarian berita kami berlangsung ketika orang terlelap tidur dibuai mimpi. Dari sana kami nongkrong di Palhit kawasan Petamburan Jakarta Barat untuk cek jika ada ambulans yang mau mengangkut banden atau mayat. Entah itu gepeng yang mati sia-sia di emperan trotoar atau bajing loncat karena ngebobol gudang di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara.

“Hai. Apa kabar Man? Masih jadi wartawan elu,” kata sobat saya itu. Maaf saya tak sebut identitas sahabat saya itu.

“Gue sekarang dagang saja untuk hidupi anak-bini gue. Gue terpaksa gantung kartu pers karena dunia pers yang katanya netral atau independen itu ternyata sebaliknya,” tuturnya.

Dia lalu cerita panjang lebar bagaimana banyak berita yang ditulisnya ketika menjadi wartawan masuk ke keranjang sampah karena banyak ‘permainan’ di dalam redaksi.

“Elu tahulah soal itu. Elu pernah ngalamin juga kan? Gue nggak tahan. Akhirnya gue gantung kartu pers. Gue cari ladang baru ya dagang. Ini lebih mulia,” dia menambahkan.

Ia sesekali membetulkan maskernya karena suka melorot. Saya hanya diam saja. Sesekali saya menimpali pernyataan sobat saya itu. Kami berpisah di Stasiun Manggarai. Katanya, dia mau beli sepeda lipat untuk anaknya.

“Kan sekarang lagi booming sepeda. Anak gue yang bontot jadi korban dan minta dibelikan sepeda,” ujarnya.

Hari mulai siang ketika kami berpisah. Sementara saya masih di kereta Commuter Line karena hendak turun di Stasiun Sudirman.
Namun curcol sobat itu terus menyeruak di relung hati ini. Benarkan media (baca: pers) sudah tak netral lagi? Di mana independensi media?

Di era kemajuan teknologi komunikasi seperti sekarang ini dan ketika media siber menjadi raja ternyata sosok idealisme pers mulai luntur. Perkembangan teknologi yang dinikmati pers ternyata tidak berbanding lurus dengan profesionalisme dan kualitas media termasuk wartawan di dalamnya.

Sikap wartawan menegakkan prinsip-prinsip profesionalisme sama sekali tak menunjukkan kemajuan yang berarti.

Kelemahan yang hampir terlihat di media adalah karena tidak konsisten melaksanakan prinsip-prinsip kode etik yang sangat elementer yakni “keseimbangan” (balance).

Penyuguhan informasi kepada publik yang proporsional dan ekual. Jika sebuah objek berita akan sangat lemah secara politis maka kecenderungan pemberitaam tentang objek berita tersebut akan sangat semena-mena.

Berita dan opini dibingkai dan ‘diaransir’ sedemikian rupa dengan frekuensi berkali-kali –repetitife– mengungkapkan apa saja yang negatif mengenai objek berita tersebut. Tetapi jika objek berita kuat secara politis maka keadaan bisa terbalik: justru media tersebut yang menjadi pecundang. Mereka bisa dikalahkan melalui opini dan bahkan dalam pengadilan jika dilanjutkan melalui penyelesaian hukum.

Lalu yang terjadi kemudian atas nama solidaritas, media lain sebagai teman seprofesi beramai-ramai mengadakan pembelaan. Bukan karena keyakinan teman seprofesi benar tetapi sebagai pernyataan tanda setia kawan. Karena itu, netralitas dan objektivitas yang seharusnya menjadi ukuran sebuah berita yang dikemas oleh media massa, hampir hanya menjadi sebuah mitos.

Kondisi itu diperburuk lagi atas nama ‘kelangsungan hidup’ media. Di daerah misalnya banyak wartawan yang serabutan cari sampingan lain agar bisa tetap dapur ngebul. Sulit rasanya hanya hidup dari pers. Sayangnya ada teman-teman yang mengambil ‘jalan pintas’ dengan mengadaikan berita. Akhirnya etika dan profesionalisme dikhianati. Di sini biasanya profesionalisme wartawan dipertaruhkan. Di satu sisi ada nilai idealisme. Namun di sisi lain dapur di rumah harus tetap ngebul. Teman-teman kadang menggantungkan penjualan produk mereka –satu-satunya– kepada kemurahan hati. Ya bisa penguasa atau pengusaha.

Di sini biasanya, tidak ada lagi perhitungan prinsip kebenaran fakta, verifikasi berita, akurasi, keberimbangan, chek and recheck. Secara telanjang ‘informasi’ betul-betul menjadi komoditas jualan. Mau pujian dan sanjungan keberhasilan? Mau kritikan lunak atau keras? Mau berita halaman utama atau halaman dalam? Semua dibingkai berdasarkan kepentingan pemilik media. Profesionalisme dan kode etik profesi urusan belakangan.

Persoalan ini agaknya menjadi ‘pekerjaan rumah’ bagi organisasi profesi wartawan. Jangan tiba-tiba saja sibuk ketika hajatan Hari Pers Nasional atau sibuk membagi lencana emas organisasi kepada pejabat. Atau seperti sekarang ini sibuk ikut-ikutan membagi bantuan soal di tengah pandemi virus Corona. Itu semua tidak salah tetapi memperhatikan teman-teman wartawan tak boleh diabaikan begitu saja. Dunia pendidikan terutama yang mencetak wartawan juga sepatutnya ikut andil mencari jalan keluar dalam persoalan ini.

Ya setidaknya tidak seperti sobat saya yang akhirnya frustrasi dengan profesinya, dan akhirnya menggantung kartu persnya. Sobat saya itu menambatkan hidupnya sebagai pedagang bukan sebagai wartawan lagi. (norman meoko)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *