oleh

Memastikan Anak Indonesia Mendapat Asupan Paket Gizi Lengkap melalui Susu MBG

DAIYYAH mendekap paket kudapan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang baru diterimanya. Siswa kelas 7 MTs Nurussyifa Kabupaten Bekasi tersebut senang karena  paket kudapan MBG yang diterima hari Sabtu ada sekotak susu rasa vanila, jenis minuman yang sudah jarang dinikmati.

“Waktu masih kecil biasanya suka dibeliin mama minuman susu kotak. Setelah SD sampai sekarang nggak pernah lagi,” katanya.

Karena itu, ketika dalam paket kudapan MBG yang diterima akhir pekan ada sekotak susu, Daiyyah senang bukan main. “Kalau beli kan mahal. Alhamdulillah ada dapat susu,” lanjutnya.

Minum susu secara rutin, Daiyyah berharap tubuhnya bisa lebih tinggi. “Katanya kalau minum susu terus, kita bisa lebih tinggi,” kata Daiyyah yang baru menginjak usia 13 tahun tersebut.

Binar serupa juga nampak pada Lutfiyah. Siswa kelas 8 MTs Nurusyifa tersebut juga senang menerima sekotak susu pada menu MBG. “Kalau hari lain belum ada susunya. Kalau Sabtu pasti dapat susu,” katanya gembira.

Meski dalam sepekan hanya sekali dapat susu kotak. Daiyyah dan Lutfiyah sudah sangat bersyukur. Setidaknya, ia bisa menikmati bagaimana mengonsumsi menu makanan yang lengkap nutrisinya dalam sepekan sekali.

Tidak hanya Daiyyah dan Lutfiyah yang senang mendapatkan susu kotak pada pada menu MBG. Hikmatul Khasanah, Kepala MTs Nurusyifa mengatakan ada banyak siswa yang gembira mendapatkan paket MBG lengkap dengan sekotak susu. “Sabtu hari yang ditunggu-tunggu, karena dapat susu MBG,” katanya.

Meski baru sepekan sekali mendapatkan susu, diakui Hikmatul Khasanah, siswa sangat senang. Mereka sangat bersemangat menunggu paket kudapan MBG lengkap dengan susu kotak.

Sekolah yang dipimpinnya diakui baru mendapatkan jatah program MBG sejak awal Januari 2026. Ratusan siswa dari kelas 7, 8 dan 9 kini dapat menyantap makan siang dengan menu lengkap dan bernutrisi tanpa harus mengeluarkan uang jajan.

“Alhamdulillah, semua siswa mengonsumsinya. Jadi tidak ada ompreng yang masih penuh makanan saat kami kembalikan ke pengelola dapur MBG,” tegasnya.

Sejak siswa mendapatkan makanan MBG, semangat siswa untuk hadir dan belajar di sekolah meningkat. Mereka tidak perlu lagi menahan lapar saat jam makan siang tiba.

Ia berharap susu tidak hanya hadir pada hari Sabtu saja. “Kalau mungkin, tiap hari ada susunya. Biar lengkap gizinya. Pasti anak-anak akan jauh lebih bersemangat sekolahnya,” katanya.

Pasokan Susu Masih Kurang

Seperti halnya siswa MTs Nurussyifa Kabupaten Bekasi, di banyak sekolah di DKI Jakarta, susu juga belum bisa diberikan setiap hari pada menu MBG. Nena Firdaus, pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kebon Jeruk, Jakarta Barat mengatakan susu baru bisa dihadirkan satu kali dalam sepekan. Alasannya sejak prrogram MBG digulirkan, stok susu UHT plain di pasaran harganya naik. “Sudah harganya naik, barang juga nggak selalu ada,” katanya.

Padahal susu menjadi produk penting yang sebenarnya disukai anak-anak. Semestinya memang harus ada pada menu harian MBG.

“Kandungan nutrisinya yang lengkap sangat dibutuhkan oleh anak-anak sekolah baik untuk mendukung pertumbuhan badan maupun untuk meningkatkan kecerdasan anak. Susu juga penting untuk menjamin asupan gizi dan mencegah risiko obesitas, diabetes dan menghindari alergi,” ujar Nena.

Ia sendiri membeli susu UHT plain dari supplier susu secara eceran. Untuk satu dapur MBG, Nena membutuhkan setidaknya 3.033 kotak susu dalam sekali saji. Jika dalam sepekan anak mendapatkan susu setiap hari, maka dibutuhkan setidaknya 15.000 kotak susu UHT plain.

“Itu untuk satu dapur. Saya sendiri lagi membangun tiga dapur MBG di Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat. Pasti kebutuhan susu jauh lebih banyak,” tambah Nena.

Jika nantinya susu menjadi komponen wajib dalam menu MBG harian, menurut Nena, pemerintah perlu menjamin pasokan susu di pasaran. Sebab jika susu sulit diperoleh, maka bisa jadi harga susu akan merangkak naik dan ini akan mengganggu program MBG.

Kelangkaan susu UHT plain di pasaran telah direspon oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Dalam pernyataan resminya, Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan pengelola dapur MBG bisa menggantikan zat yang terkandung dalam susu dengan jenis makanan lainnya.

Meski demikian Nena, menilai susu tetap harus ada. Penggantian protein dan kalsium yang terkandung dalam susu dengan sumber pangan lainnya, hasilnya belum tentu sama. “Anak-anak akan jauh lebih menikmati jika protein dan kalsium diberikan dalam bentuk susu,” tegasnya.

Upaya memenuhi kebutuhan susu program MBG, Nena menilai pemerintah perlu mengakomodir pengusaha susu lokal untuk memproduksi susu UHT plain khusus MBG. Usulan ini penting diperhatikan secara serius oleh pemerintah mengingat saat ini harga susu UHT plain terus merangkak naik.

“Kami SPPG kan butuh susu, minimal sekali dalam sepekan. Kami butuh pasokan susu dalam jumlah besar dengan harga terjangkau,” tegasnya.

Ia sendiri bersedia menerima pasokan susu segar dari peternak lokal. Syaratnya, produk susu tersebut harus memenuhi standar kualitas gizi, standar mutu, legalitas yang sudah ditentukan, volume susu dan tentu saja harganya terjangkau.

Senada juga disampaikan Ketua Perhimpunan Jasaboga Mitra Mandiri MBG, R. A Hj. Ning Sudjito. Ia mengaku saat ini baru bisa memberikan susu sekali dalam sepekan. “Biasanya saya kasih susu pada hari Sabtu berupa paket kudapan. Anak-anak senang bukan main,” kata Ning Sudjito.

Saat bertemu dengan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, Senin (27/10/2025), pemilik 7 dapur MBG tersebut mengusulkan agar pemerintah menjamin pasokan bahan pangan yang dibutuhkan dapur MBG termasuk kebutuhan susu. Sebab jika tidak ada pasokan memadai, pasti hara bahan makanan bakal terus merangkak naik. “Awal program MBG berjalan, harga ayam dan telur saja sudah naik 15 sampai 20  persen. Karena memang kebutuhannya cukup besar,” jelasnya.

Inisiasi pemerintah untuk membangun kandang  atau peternakan sapi di daerah, menurut Ning sangat bagus. Keberadaan kandang termasuk peternakan sapi perah di daerah tidak hanya membuka lapangan kerja baru, tetapi juga bisa lebih menjamin kebutuhan bahan pangan untuk mendukung operasional program MBG.

Mengapa Harus Susu?

Guru Besar Ilmu dan Teknologi Susu IPB University Prof. Dr. Epi Taufik, S.Pt., M.V.P.H., M.Si mengatakan sejak awal digulirkan, sebenarnya susu menjadi komponen penting dalam menu harian MBG. Artinya, susu akan ada dalam menu harian siswa penerima MBG.

Menurutnya, susu merupakan nutrisi penting yang sangat dibutuhkan oleh anak-anak usia sekolah. Susu merupakan paket gizi lengkap yang mengandung 13 zat gizi esensial seperti protein, kalsium, dan vitamin D. “Kandungan zat gizi ini sangat penting untuk mendukung pertumbuhan tulang, perkembangan otak dan imunitas tubuh pada anak-anak usia sekolah,” papar Epi pada Oktober 2025 lalu.

Ia mengingatkan bahwa masa usia 9-12 tahun bagi anak adalah peak growth velocity, di mana anak mengalami percepatan pertumbuhan tinggi badan dan peningkatan kebutuhan energi. Pada fase ini kebutuhan anak akan zat kalsium sangat besar dan itu tidak cukup hanya mengandalkan makanan harian. Misalnya anak usia 4-9 tahun membutuhkan 1000 mg per hari, anak remaja membutuhkan 1.200 hingga 1.300 mg per hari.

“Kandungan kalsium dari makanan harian umumnya sekitar 7-12 persen dari kebutuhan harian anak. Konsumsi susu dapat membantu menutupi kekurangannya,” lanjutnya.

Begitu pentingnya susu dalam mendukung tumbuh kembang anak, dalam semua panduan makan (dietary guidance) di beberapa negara seperti Malaysia, Jepang, dan China termasuk panduan gizi seimbang IsiPiringku Kemenkes kata Prof Epi, memasukkan susu (dairy) sebagai komponen penting dalam menu harian anak-anak.

Kepala BGN Dadan Hindayana

Kepala BGN Dadan Hindayana saat mengunjungi pameran Perjalanan Gizi untuk Indonesia pada Oktober 2025 di Antara Heritage Center, Jakarta menegaskan susu memang menjadi komponen penting menu MBG sejak awal program ini digulirkan. Namun fakta di lapangan, belum semua dapur MBG bisa mengakses produk susu dengan mudah.

Karena itu, BGN tidak memaksa SPPG menyiapkan susu pada menu MBG setiap hari selama pasokan susu di pasaran belum bisa dipenuhi oleh peternak lokal. Untuk sementara SPPG bisa menggantinya dengan sumber protein lain seperti ikan bertulang lunak, brokoli dan daun kelor. “Susu bisa digantikan oleh sumber protein dan kalsium lain jika kesulitan pengadaan susu. Pengganti susu banyak ya terutama sumber protein,” ujarnya.

Dadan merinci, jika target sasaran program MBG sudah terjangkau semua sekitar 82 juta pemanfaat, maka dibutuhkan setidaknya 3,6 juta ton susu segar setiap tahunnya. Jumlah sebesar itu saat ini belum bisa dipenuhi oleh peternak lokal.

“Susu untuk program MBG diutamakan dari hasil peternak lokal untuk mendorong perekonomian, bukan produk impor,” tegasnya.

Dadan Hindayana juga mengklaim bahwa banyak anak Indonesia baru pertama kali minum susu melalui program ini, dan BGN berkomitmen meningkatkan gizi anak secara merata. “Satu porsi MBG adalah wujud nyata komitmen negara dalam memastikan akses gizi yang merata, berkualitas dan berkelanjutan bagi masyarakat,” katanya.

Hingga 20 Februari 2026, program MBG telah menjangkau 60.242.899 penerima manfaat yang terdiri atas anak sekolah, balita, ibu menyusui dan ibu hamil, dengan 23.676 SPPG di seluruh Indonesia.

MBG Dongkrak Konsumsi Susu?

Masuknya susu dalam komponen menu program MBG mendapat apresiasi dari Direktur Utama PT Lami Packaging Indonesia (LamiPak) Hongbiao Li. Dalam jumpa pers dengan awak media di pabrik Lamipak Selasa (20/01/2026), ia menyebut bahwa pemberian susu dalam menu MBG adalah keputusan yang sangat tepat pemerintah Indonesia. Mengingat tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia di banding negara-negara lain di dunia masih sangat rendah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, tingkat konsumsi susu nasional saat ini hanya berkisar di angka 17,76 liter per kapita per tahun. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara seperti Malaysia 42,7 liter, Vietnam 37,2 liter, dan Singapura 46,1 liter.

Rendahnya tingkat konsumsi susu nasional tersebut, menurut Hongbiao Li, berisiko menghambat ambisi Indonesia mencapai masa keemasan di tahun 2045. Mengingat susu merupakan salah satu sumber protein hewani terbaik yang mampu mencukupi kebutuhan nutrisi harian anak-anak.

Bahkan susu menjadi instrumen vital untuk memerangi stunting dan meningkatkan kecerdasan kognitif generasi muda, menekan prevalensi anemia dan defisiensi mikronutrien pada anak usia sekolah, yang menjadi penghambat utama dalam mencapai potensi akademik.

“Jadi susu bukan sekadar menu pelengkap dalam menu harian anak-anak. Ini adalah produk penting untuk mendukung pertumbuhan dan kecerdasan anak-anak,” tegas Hongbiao Li.

Karena itu, ia mengapresiasi masuknya komponen susu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjadi kebijakan nasional pemerintah Indonesia. Pemberian susu dalam menu MBG, memungkinkan konsumsi susu terutama pada anak-anak dapat meningkat secara signifikan. Program serupa kata Hongbiao Li sudah banyak dilakukan di banyak negara maju di dunia seperti Jepang, China dan Amerika Serikat.

Sejumlah penelitian ilmiah menyebutkan bahwa anak-anak yang rutin mengonsumsi susu cenderung memiliki perkembangan otak dan fungsi kognitif yang lebih baik, memperbaiki daya ingat, meningkatkan daya konsentrasi, dan kemampuan anak dalam memecahkan masalah. Rutin minum susu juga membantu meningkatkan kemampuan nalar dan konsentrasi anak usia sekolah.

“Indonesia baru memulai dan saya pikir itu sangat bagus. Kami sangat mendukung program MBG,” lanjut Hongbiao Li.

Ia percaya bahwa program ini menjadi langkah yang tepat untuk menjadikan masa depan anak-anak Indonesia yang lebih sehat. Ini adalah salah satu program untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang sudah dilakukan di banyak negara seperti  China, India, Amerika Serikat dan banyak negara maju lainnya.

Direktur Utama PT Lami Packaging Indonesia Hongbiao Li menjelaskan kemasan aseptik LamiPak

Untuk memenuhi kebutuhan susu kemasan pada anak-anak Indonesia, tentu membutuhkan dukungan material berupa produk kemasan dalam jumlah besar. Dalam hal ini, LamiPak, lanjut Hongbiao Li siap memproduksi kemasan susu untuk memenuhi kebutuhan program MBG.

“LamiPak mendukung program MBG dengan menyediakan kemasan aseptik. Berapapun kebutuhannya, kami siap memproduksi,” jelasnya.

Senada juga disampaikan Manager PR PT Lamipak Indonesia Ahmad Rizaldi. Indonesia bisa belajar dari negara-negara lainnya bagaimana susu memiliki peran penting dalam meningkatkan indeks kualitas hidup penduduknya. “Di beberapa negara seperti India yang tingkat konsumsi susunya tinggi, kita dapat melihat bahwa dalam hal teknologi, di mana pun CEO atau direkturnya berada, mereka juga orang India,” ujar Rizaldi.

Menurutnya, Indonesia sudah berada pada jalur yang tepat dalam upaya meningkatkan konsumsi susu, yakni melalui program MBG. Pemberian susu MBG dapat memastikan bahwa anak-anak mendapatkan nutrisi terbaik berupa susu secara rutin dan berkesinambungan.

“Saya ingat seorang profesor dari BGN, Profesor Epi, pernah berkata ketika ia masih mahasiswa di Jepang, meskipun istrinya bukan orang Indonesia, ia dikirimi susu gratis. Istrinya berasal dari Jepang. Ia tinggal di sana selama 2 tahun,” lanjjutnya.

Ini menjadi bukti bagaimana susu merupakan komponen penting dalam pemenuhan nutrisi harian masyarakat. Terbukti, 50 tahun kemudian, penduduk Jepang mengalami peningkatan tinggi badan sekitar 13-15 cm setelah diberlakukan program makan gratis lengkap dengan susunya.

Untuk memenuhi kebutuhan susu dalam program MBG, memang dibutuhkan pasokan susu siap minum dalam jumlah yang besar. Untuk itu dibutuhkan dukungan material kemasan susu dengan teknologi yang memadai.

Sebagai bentuk dukungan terhadap program MBG, LamiPak, salah satu pemimpin industri penyedia produk dan solusi kemasan aseptik berkualitas tinggi dan ramah lingkungan, secara resmi telah memulai pembangunan pabrik pertamanya di Indonesia pada Mei 2022. Pabrik yang berlokasi di Cikande, Kabupaten Serang, Banten ini mulai beroperasi secara komersial pada April 2024.

Kemasan aseptik yang bisa digunakan untuk wadah susu ini, memiliki sejumlah keunggulan dibanding produk kemasan biasa. Salah satu keunggulannya adalah sterilitas produk yang tinggi, sehingga memungkinkan makanan dan minuman tahan lebih lama hingga berbulan-bulan tanpa pengawet dan tanpa perlu lemari pendingin tapi cukup disuhu ruang. Teknologi ini sekaligus menjaga nutrisi, rasa, dan aroma lebih baik karena sterilisasi suhu tinggi waktu singkat (UHT), serta menghemat biaya distribusi.

“Dengan kapasitas produksi lebih dari 21 miliar kemasan aseptik per tahun, kami siap memenuhi kebutuhan kemasan di Indonesia baik untuk produk minuman, maupun makanan, termasuk mendukung kebutuhan kemasan untuk program susu MBG,” tandas Rizaldi. (inung m kurniawati)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *