JAKARTA – Kekhawatiran publik mengenai bahaya Bisphenol A (BPA) seringkali dianggap berlebihan. Namun, bukti-bukti ilmiah yang terkumpul selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa BPA adalah ancaman nyata bagi kesehatan, terutama terhadap anak-anak. Zat kimia ini bekerja dengan cara yang sunyi namun merusak, yaitu dengan mengacaukan sistem hormon tubuh.
BPA secara ilmiah diklasifikasikan sebagai Endocrine Disrupting Chemical (EDC) atau pengganggu sistem hormon.
Menurut doktor bidang gizi masyarakat sekaligus Pengurus Perhimpunan Dokter Gizi Medik (PDGMI), Dr. dr. Lucy Widasari, M.Si., BPA memiliki kemampuan untuk meniru hormon estrogen dalam tubuh. “Artinya, BPA dapat menipu tubuh seolah-olah ia adalah hormon vital yang mengatur berbagai fungsi mulai dari reproduksi hingga perkembangan otak,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (23/10/2025).
BPA dapat ditemukan pada berbagai produk, mulai dari botol susu, wadah makanan, hingga galon air minum yang digunakan ulang. Masalahnya, zat ini dapat terlepas dari kemasan dan masuk ke dalam makanan atau minuman, kemudian terakumulasi di dalam tubuh.
Ketika BPA masuk ke tubuh anak, ia mengganggu sinyal-sinyal hormonal yang seharusnya berjalan normal. Salah satu dampak paling mengkhawatirkan adalah pada perkembangan otak. “Paparan BPA pada masa prenatal terbukti dapat mengubah struktur jaringan penghubung di otak. Perubahan kecil ini dapat mengganggu komunikasi antarbagian otak, membuat anak cenderung mengalami masalah emosional atau perilaku seperti cemas dan sulit beradaptasi sosial,” papar Dr. Lucy.
Selain otak, sistem metabolisme juga menjadi sasaran. Dengan meniru hormon, BPA dapat mengacaukan keseimbangan penyimpanan lemak, yang pada akhirnya meningkatkan risiko obesitas. Sistem kekebalan tubuh pun tidak luput dari ancaman. Badan Keamanan Pangan Eropa (EFSA) bahkan secara spesifik telah menyatakan bahwa BPA memiliki efek berbahaya pada sistem imun.
Anak-anak dan bayi menjadi korban yang paling rentan karena dua alasan utama. Pertama, asupan makanan dan minuman mereka per kilogram berat badan jauh lebih besar daripada orang dewasa. Kedua, sistem metabolisme mereka belum berkembang sempurna. Akibatnya, tubuh mereka tidak mampu mengurai dan membuang zat asing seperti BPA seefisien orang dewasa. Zat berbahaya ini tinggal lebih lama di tubuh mereka pada periode perkembangan yang paling krusial.
Temuan ilmiah ini menggarisbawahi bahwa bahaya BPA bukanlah sekadar isu persaingan bisnis. Ini adalah masalah kesehatan publik yang serius dan menuntut perhatian penuh dari masyarakat serta para pembuat kebijakan untuk melindungi generasi masa depan. (mk)








Komentar