oleh

Gegara ‘Ngompol’ Sembarangan, Gagal Deh Jadi Kompol

Salah satu Kelebihan Polisi dengan kebanyakan orang lain adalah ‘pistol’- nya yang ada dua. Satu pistol milik negara yang hanya boleh dibawa saat bertugas dan satunya ‘pistol air’  yang selalu dibawa kemana saja dan kapan saja tetapi tidak boleh ‘ditembakkan’ kepada sembarang orang kecuali yang berhak.

Sebagai polisi berpangkat Iptu dan punya jabatan pula sebagai Kapolsek, Bambang pastinya punya daya tarik tersendiri. Setidaknya di mata dan hati Nurlela, yang kebetulan sama-sama bertugas dalam rangka suksesnya Pemilihan Presiden 2019 lalu di Kabupaten Kolaka. Iptu Bambang bertugas dalam hal pengamanan sedangkan Nurlela bertugas sebagai di bagian pemilihan.

Kalau keduanya menjalankan tugasnya masing-masing sesuai SOP.(Standar Operasional Prosedur) pastinya tidak akan terjadi apa-apa di belakang hari. Akan tetapi keduanya sama-sama bertugas ganda. Iptu Bambang selain bertugas mengamankan Pilpres, ia juga ‘mengamankan’ Nurlela supaya bisa disela-sela kesibukan masyarakat melakukan pencoblosan, sang inspektur juga bisa ‘ mencoblos’ Nurlela, wanita ‘stw’ berusia 34 tahun itu.

Akan halnya Nurlela yang ditugaskan sebagai panitia pemilihan, malah lebih fokus memilih Iptu Bambang sebagai PIL ( pria idaman lain)-nya. Tak perduli di rumah sudah ada suami yang siap mencoblos kapan saja ketika dirinya minta, Nurlela rupanya lebih kesengsem dengan ‘ coblosan’ sang inspektur.

Entah kapan dan dimana keduanya melakukan ‘pencoblosan’ apakah sebelum atau sesudah pencoblosan Pilpres, yang jelas kemudian Nurlela mulai berbadan dua. Dibuai oleh janji Pak Inspektur yang akan menikahi secara siri, Nurlela pun mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama pada November 2019. Harapan Nurlela, setelah akta cerai keluar dia langsung dinikahi Iptu Bambang sebaimana janjinya sebelumnya. Syukur -syukur kemudian malah dinikah resmi hingga bisa jadi ibu Bhayangkari.

Namun sampai sang jabang bayi brojol pada Januari 2020 dan sebulan kemudian akta cerai keluar, Iptu Bambang mulai hilang dari peredaran dan semakin sulit dicari. Tak ada pilihan lain, Iptu Bambang pun dilaporkan ke atasannya untuk kemudian dilakukan sidang etik kepolisian pada Mei kemarin.

Sidang etik kemudian memutuskan Iptu Bambang ditunda kenaikan pangkatnya hingga empat tahun kedepan.

Padahal empat tahun kedepan itu, Iptu Bambang mungkin saja bakal menjadi Kompol. Cuma jadi gagal gara-gara ‘ngompol’ sembarangan. (agus suzana)
Catatan: nama-nama dalam peristiwa ini sengaja disamarkan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *