oleh

Puskopau Pertimbangkan Penurunan Biaya Sewa di Bandara Halim Perdanakusuma

JAKARTA – Pusat Koperasi Angkatan Udara (Puskopau) akan mempertimbangkan penurunan biaya sewa tempat makan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Langkah itu diambil setelah sebelumnya para pemilik usaha mengaku mengalami penurunan omset akibat pemindahan separuh penerbangan ke bandara Soekarno-Hatta.

Kepala Puskopau Lanud Halim Perdanakusuma, Mayor Pnb Rachmad Syaputra mengatakan, pihaknya memang sudah menerima permohonan dari para pemilik tempat usaha terkait permintaan peniruan harga sewa. “Sekarang kami sedang lakukan mendata pendapatan dari setiap tenan di bulan Agustus terlebih dahulu,” katanya, Kamis (4/9).

Menurut Mayor Pnb Rachmad, pendataan yang dilakukan pihaknya akan menjadi dasar bagi Puskopau untuk menentukan besaran biaya sewa dikurangi. Meski begitu dirinya juga berharap bisa menemukan solusi atas apa yang saat ini dialami pemilik tempat usaha. “Sebagian tenan memang ada yang berdampak langsung, gulung tikar karena enggak ada penumpang. Dalam hal ini terdampak dari kebijakan,” ujarnya.

Rachmad mengatakan, pada Juli 2025 lalu atau sebelum kebijakan pengalihan penerbangan berlaku, para pedagang memang sempat mengajukan permintaan penurunan harga sewa. Dan setelah kebijakan pengalihan penerbangan berlaku dan dampak sudah dirasakan pedagang, pihaknya mulai mendata pemasukan para pedagang di Bandara Halim Perdanakusuma.

“Juli mereka ajukan itu mungkin benar, tapi saya kan harus ada datanya. Tidak bisa langsung iya-iya saja. Ada proses yang harus kita jalankan untuk mengabulkan keinginan dari teman-teman,” terang Mayor Pnb Rachmad.

Sebelumnya diberitakan, akibat separuh penerbangan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, sejak 1 Agustus lalu dipindahkan ke Bandara Soekarno Hatta, para pemilik usaha kini mulai menjerit karena sepinya pembeli, bahkan ada tiga tempat usaha yang akhirnya gulung tikar karena tak bisa membayar sewa tempat.

Chika, 27, salah satu pegawai tenan mengatakan, tempat kerjanya selalu sepi pengunjung sejak beberapa tahun belakangan ini. Dan pengurangan penerbangan menambah derita bagi tempat kerjanya karena tak ada penumpang pesawat yang datang.

“Jadi sejak 1 Agustus 2025 ada banyak pengurangan penerbangan maskapai di bandara ini, sehingga tenan kami jadi sepi pembeli, sehari paling hanya sekitar enam pelanggan saja mampir makan dan minum di tenan,” kata Chika, Rabu (3/9).

Menurut Chika, akibat sepinya pembeli, penurunan omset mencapai 50 persen dialaminya sejak awal Agustus lalu. Hal itu tidak sebanding dengan pengeluaran rata-rata untuk membayar sewa yang nilainya belasan juta dan gaji pegawai. “Satu hari pendapatan Rp400 ribu, tenan lain ada yang hanya dapat Rp43 ribu untuk satu hari pemasukannya. Merugi ya pasti, kan belum lagi untuk bayar sewa,” imbuhnya. (Ifand/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *