oleh

Ambulan Bawa Pemudik, Diamankan Satlantas Polres Bogor

POSKOTA. CO – Melanggar Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, sebuah ambulance ditahan Satlantas Polres Bogor.

Dari temuan dilapangan, ambulance ini ternyata tidak membawa orang sakit, melainkan membawa sejumlah orang dengan tujuan mudik lebaran. Atas pelanggaran ini, ambulance dengan atribut ARB disamping bodi kendaraan ini ditahan polisi.

Kapolres Bogor, AKBP Iman Imanuddin kepada wartawan mengatakan, ambulance menerobos sistim one way di Puncak, Bogor pada Sabtu (7/5/2022).

Kata Kapolres, awalnya polisi yang bertugas dilapangan hendak memberikan pengawalan kepada ambulance tersebut, agar dapat melaju di jalur Puncak menuju ke rumah sakit tanpa mengalami hambatan.

“Kami sudah tekankan ke anggota dilapangan, jika ada ambulans butuh pengawalan, maka prioritas. Akan dikawal,” kata AKBP Iman kepada wartawan, Sabtu (7/5/2022).

Namun anggota dilapangan curiga. Setelah diperiksa, ambulance tersebut ternyata tidak sedang membawa orang sakit, melainkan
mengangkut beberapa orang yang hendak liburan. “Ternyata setelah diperiksa di dalamnya bukan orang sakit, tapi orang mau berlibur,” tegas AKBP Iman.

Polisi akhirnya menghentikan ambulance bernomor polisi B 1070 KIX itu. Atas perbuatannya, polisi menjerat sopir dengan
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Kanit Regident Sat Lantas Polres Bogor, Iptu Danny Sutarman saat dikonfirmasi wartawan Poskota. Co Sabtu malam mengatakan, sopir ambulance yang menerobos sistim satu arah di Puncak, melanggar beberapa peraturan lalu lintas.

Sopir saat dimintai keterangan dari mana dan hendak kemana juga memberikan keterangan berbelit-belit.

“Sopir nggak jujur. Saat ditanya darimana mau ke mana, jawab dari Jakarta. Di tanya lagi jawab dari Sukabumi. Ditanya lagi, jawab dari dekat sini. Nggak jujur sopir,” kata Danny.

Ambulance yang membawa sepuluh orang yakni 2 orang laki-laki dewasa yang duduk didepan, 3 ibu-ibu, 2 pemuda dan 1 remaja serta 1 orang balita usia 4 tahun ini juga ternyata STNK nya mati sejak tahun 2014. Pajaknya juga mati. “Kami cek juga nomor polisinya tidak diperbaharui, jadi kami terapkan Undang-undang Lalu Lintas,” ujarnya.

Ambulance yang dikemudikan Muhamad Ali melawan arah saat melaju di puncak ini juga ternyata tidak menggunakan rotator berwarna merah dan biru. Padahal, sesuai Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009, ambulance seharusnya rotator berwarna merah.
“Kami tilang, lalu kami minta bayar pajak, bawa BPKB, baru bisa diambil kendaraannya,” tegas Iptu Danny.

Ambulance bertuliskan Relawan Beringin dengan huruf ARB kapital ini diketahui melaju dari arah Jakarta, menuju Puncak saat kepolisian memberlakukan satu arah ke Jakarta. Masih kata Iptu Dani, saat semua penumpang turun dan dilakukan pemeriksaan, ternyata ada satu ibu yang mengaku sakit.

Oleh polisi, ibu ini dibawa ke UGD rumah sakit. Usai mendapat pertolongan medis, petugas bertanya, tujuannya hendak kemana.
Ibu ini lalu mengaku ke petugas, jika mereka hendak ke Cibodas. Ibu ini juga membuat pengakuan, jika mereka juga membayar ke sopir ambulance.

“Ambulance bernomor polisi B 1070 KIX itu, tidak terdapat peralatan pendukung medis, seperti oksigen maupun tandu. Ambulance ini jika tidak diberhentikan justru akan membahayakan penumpang dan pengguna jalan lain,”ujarnya sambil menambahkan,
hingga pukul 19.00 WIB malam nanti, jalur Puncak berlaku one way ke arah Jakarta. (yopi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.