oleh

Songsong Muktamar Al Washliyah, Lima Faktor Hendaknya Jadi Perhatian

ORGANISASI Islam Aljam`iyatul Washliyah (Al Washliyah), menurut rencana menyelenggarakan muktamar pada medio Maret 2021 ini. Muktamar sebagai rapat tertinggi organisasi ini tentu memiliki sejumlah agenda penting. Antara lain memilih ketua umum Pengurus Besar Aljam`iyatul Washliyah [PB Al Washliyah] periode 2020-2025, menyusun program kerja lima tahun, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), peraturan organisasi, rekomendasi Al Washliyah dan lainnya.

Penyelenggaraan muktamar Al Washliyah, seyogia nya dilaksanakan pada April 2020 lalu. Berhubung Covid-19 masih melanda Indonesia, maka muktamar diundur beberapa kali hingga  Maret tahun ini.

Besar harapan pengurus, anggota dan simpatisan, muktamar yang akan berlangsung di Jakarta terlaksana dengan aman, nyaman dan penuh kasih sayang. Tidak diwarnai hiruk-pikuk peserta, namun dalam nuansa kesederhanaan akibat Pembatasan Pemberlakukan Kegiatan Masyarakat [PPKM] skala mikro. Muktamar organisasi Islam ini hendaknya menghasilkan putusan strategis yang berpihak kepada kepentingan umat Islam dan bangsa Indonesia.

Untuk mencapai hal tersebut, ada  lima faktor besar yang harus mendapat perhatian serius;

Satu: Taati Protokol Kesehatan

Masa pandemi Covid-19 ini belum berakhir. Tak seorang pun mampu memprediksi sampai kapan batas waktunya. Karena itu, pihak panitia penyelenggara muktamar hendaknya mengambil sikap dan keputusan tepat, apabila tetap bersikeukeuh menggelar muktamar. Hal itu dapat dilakukan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, yaitu menggelar muktamar secara daring [online]. Jumlah peserta dibatasi dan hanya menghadirkan beberapa unsur PB, Ketua Pengurus Wilayah, Ketua Pengurus Daerah dan Ketua-Ketua Organisasi Bagian tingkat pusat.

Dan terpenting koordinasi dengan Satgas Penanganan Covid-19 tingkat pusat. Koordinasi ini sangat diperlukan terkait pencegahan  pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Kemudian, yang tidak kalah penting yaitu kesiapan panitia dan peserta memberlakukan pemeriksaan kesehatan terhadap peserta muktamar, test swab atau suntik vaksin Covid.

Muktamar secara virtual, tentu menjadi barang baru untuk kalangan Al Washliyin. Dengan memanfaatkan tenaga IT Al Washliyah dari beberapa perguruan tinggi, Insya Allah penyelenggaraan muktamar akan dapat berlangsung baik. Sekaligus taat kepada protokol kesehatan [prokes], yaitu 3M plus mencegah terjadinya kerumunan massa .

Dua: Cegah Munculnya Pengurus Dadakan

Tidak kalah pentingnya adalah dukungan data base yang kuat. Peserta yang hadir di tempat acara maupun yang mengikuti secara virtual, haruslah dilengkapi data terkoneksi. Jangan sampai ada  muncul pengurus dadakan. Maksudnya apa? Jangan sampai ada peserta muktamar membawa surat mandat dari pengurus fiktif, yang baru terbentuk pada saat jelang muktamar.

Hal ini sungguh tidak terpuji. Kemungkinan pengurus atau surat mandat seperti itu hanya muncul untuk kepentingan oknum tertentu. Perilaku seperti ini  tidak dapat diterima dan merusak tatanan organisasi. Yang seperti ini dapat dicegah apabila data base Pengurus Besar (PB) Al Washliyah valid dan terverifikasi.

Tiga: Kesiapan LPJ

Pada agenda pembahasan tata tertib muktamar dan laporan pertanggungjawaban [LPJ] pengurus lama, hendaknya dapat mengantisipasi gejolak. Bagian ini biasanya, banyak mendapat tanggapan atau sorotan. Bukan tidak mungkin, peserta muktamar akan menolak LPJ pengurus lama, atau sebaliknya dapat menerima dengan catatan.

Dari sekian paparan LPJ, perihal keuangan akan menjadi hal sensitif dan menjadi perdebatan peserta. Apabila pertanggungjawaban yang disajikan akurat dan transparan, maka kekhawatiran tersebut dapat terbantahkan.

Empat: Penyusunan Draf AD/ART.

Selanjutnya mengenai draf AD/ART, program kerja, organisasi, rekomendasi, tata tertib muktamar, juga menjadi titik perhatian peserta. Meski demikian perlu adanya antisipasi sehingga agenda demi agenda muktamar terlaksana sesuai jadwal. Tidak perlu berlarut-larut dalam suatu pembahasan yang berkepanjangan.

Solusinya, pihak panitia (SC/OC) hendaknya terlebih dahulu mensosialisasikan draf tersebut melalui aplikasi khusus. Apabila muktamar Al Washliyah dilangsungkan secara virtual, maka akan hemat energi dan akomodasi.  Peranan host {pemandu acara muktamar] haruslah orang yang tepat dan akomodatif.

Pembahasan dan pengesahan peserta muktamar terhadap AD/ART, program kerja, rekomendasi, organisasi adalah buah suatu muktamar. Karena itu, faktor ini harus mendapat perhatian serius. Bila faktor ini terabaikan, maka percuma menyelenggarakan muktamar di tengah pandemi Covid-19.

Lima: System Pemilihan

Mengenai pemilihan calon ketua umum pada muktamar pada tahun ini, menurut saya, tidak perlu babak demi babak. Cukup dilakukan dengan cepat, singkat dan hemat. Yaitu melalui musyawarah untuk mufakat, ya singkat kata kesepakatan forum untuk aklamasi.

Bukan berarti anti demokrasi atau pemilihan langsung. Akan tetapi aklamasi lebih sarat dengan kekeluargaan dan mampu menjaga marwah organisasi yang sebagian besar ulama atau tokoh berpengaruh. Andai ada calonnya lebih dari satu, maka kedua kubu harus musyawarah untuk menentukan hanya satu calon. Peran orang yang dituakan amat penting dalam tataran ini.

Ormas Islam seperti Al Washliyah hendaknya mengedepankan ukhwah, bukan berdasar suara terbanyak. Untuk itu, memilih nakhoda Al Washliyah pada muktamar, tentu diperlukan kriteria yang ulama, ilmuan dan visioner ke depan.

Al Washliyah bertahan sampai usia 90 tahun, tidak lain atas doa dan perjuangan pendiri, ulama dan tokoh Al Washliyah. Yang sebagian besar telah meninggal dunia. Karena itu, tidak elok dipandang mata apabila muktamar Al Washliyah dalam suasana gaduh dan terkena virus atau bergaya parpol.

Ingat Al Washliyah lebih tua dari usia Indonesia Merdeka, maka perjuangan untuk NKRI tidak perlu diragukan.

Pimpinan Al Washliyah harus menjadi contoh dan teladan kepada bangsa dan negara, bahwa system musyawarah dan mufakat itu adalah prinsif-prinsif Islam yang sejalan dengan nilai-nilai demokrasi.

Mari songsong muktamar Al Washliyah di tengah pandemi Covid-19, dengan niat ikhlas, tidak men-bully tanpa solusi. Semoga muktamar 2021 terlaksana dengan penuh kasih sayang. Jadikan Al Washliyah sebagai ladang ibadah, bukan karena ada apanya. Wassalam [syamsir/pensiunan wartawan ibukota]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *