oleh

Raksha Loka Angkat Aksi Komunitas Jaga Lingkungan melalui Penyelenggaraan Festival di M Bloc Space, Jakarta Selatan

JAKARTA-Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia akan menyelenggarakan Festival Raksha Loka pada 22–23 Mei 2026 di M-Bloc Space, Jakarta Selatan. Mengusung tema “Menjaga Alam, Menjaga Masa Depan” (Protecting Nature, Protecting the Future), festival ini menjadi penanda penutupan Fase Operasional ke-7 (2021–2026) sekaligus ruang kolaboratif untuk mempertemukan komunitas lokal, pemerintah, akademisi, sektor swasta, hingga generasi muda dalam memperkuat gerakan pelestarian lingkungan berbasis masyarakat.

Festival Raksha Loka hadir di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim, degradasi lingkungan, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Melalui festival ini, GEF SGP Indonesia ingin menunjukkan bahwa komunitas lokal memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus menciptakan solusi ekonomi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

GEF SGP Indonesia merupakan program hibah lingkungan berskala kecil yang didukung oleh Global Environment Facility (GEF), diimplementasikan oleh United Nations Development Programme (UNDP), dan dilaksanakan secara nasional oleh Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL). Program ini berfokus pada pemberdayaan kelompok masyarakat akar rumput dan organisasi masyarakat sipil dalam isu konservasi keanekaragaman hayati, perubahan iklim, pengelolaan hutan berkelanjutan, hingga perlindungan wilayah pesisir dan perairan.

GEF Focal Point Indonesia, Erik Teguh Primiantoro, menegaskan bahwa program ini tidak hanya berbicara tentang pelestarian lingkungan, tetapi juga mendorong lahirnya ekonomi baru berbasis konservasi. Menurutnya, dana hibah yang diberikan kepada masyarakat harus menjadi pemicu kolaborasi dan inovasi, bukan sekadar bantuan sesaat.

“Kalau kita bicara lingkungan hanya romantisme, masyarakat akan lapar. Karena itu, pengelolaan lingkungan harus mampu menciptakan ekonomi baru yang membuat masyarakat merasa memiliki dan menjaga alamnya sendiri,” ujar Erik.

Berbagai Praktik Kreatif

Ia mencontohkan berbagai praktik kreatif yang telah dilakukan masyarakat, seperti wisata edukasi penanaman mangrove di wilayah pesisir hingga transplantasi terumbu karang berbasis wisata selam di Bali. Melalui pendekatan tersebut, kegiatan konservasi tidak lagi menjadi beban biaya semata, melainkan mampu menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal sekaligus mendukung restorasi lingkungan.

Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala, menjelaskan bahwa program ini juga memiliki strategi keberlanjutan melalui skema pendanaan lanjutan bagi komunitas yang dinilai berhasil mengembangkan programnya. Salah satunya melalui program Bantuan Usaha Melalui Investasi (BUMI) yang memungkinkan kelompok masyarakat memperoleh dukungan tambahan untuk meningkatkan kapasitas usaha berbasis lingkungan.

“Program ini tidak berhenti setelah hibah selesai. Kami punya strategi keberlanjutan agar kelompok masyarakat bisa naik kelas dan terus berkembang,” kata Sidi.

Direktur Eksekutif Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL), Yani Witjaksono, menambahkan bahwa berbagai komunitas dampingan telah membuktikan bagaimana potensi sumber daya alam lokal dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi. Mulai dari pengolahan madu hutan, pengembangan hasil laut, hingga penguatan koperasi nelayan berbasis energi terbarukan menjadi contoh konkret pemberdayaan masyarakat yang terhubung dengan pasar lebih luas.

Menurut Yani, pendekatan “Local Action, Global Impact” yang diusung GEF SGP Indonesia menekankan bahwa solusi terhadap krisis lingkungan global dapat dimulai dari aksi-aksi lokal yang relevan dengan konteks budaya dan kebutuhan masyarakat setempat.

Sementara itu, Anggota Panitia Pengarah GEF SGP Indonesia, Latipah Hendrarti, menilai pentingnya melibatkan generasi muda dalam upaya pelestarian lingkungan melalui pendekatan pendidikan yang holistik. Dalam Festival Raksha Loka, pelajar dan anak muda akan diajak mengenal empat bentang alam dampingan GEF SGP Indonesia melalui kegiatan edukatif dan interaktif.

“Anak muda perlu melihat langsung bahwa mereka bagian dari ekosistem. Karena itu pendekatan pendidikan lingkungan harus terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari dan konteks lokal masyarakat,” ujar Latipah.

Selama Fase Operasional ke-7, GEF SGP Indonesia telah menyalurkan lebih dari USD 2,8 juta dana hibah dan melibatkan lebih dari 80 mitra aktif dari unsur komunitas, organisasi masyarakat sipil, dan akademisi. Program ini dijalankan melalui pendekatan empat bentang alam, yakni DAS Bodri di Jawa Tengah, DAS Balangtieng di Sulawesi Selatan, kawasan Nantu dan Tahura di Gorontalo, serta Pulau Sabu Raijua di Nusa Tenggara Timur.

Festival Raksha Loka akan menghadirkan pameran inisiatif komunitas, diskusi publik, pertunjukan seni budaya, hingga forum kolaborasi multipihak yang menampilkan praktik-praktik baik pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia. (fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *