oleh

Khutbah di Tengah Pandemi Corona, Protokol Kesehatan Sebagai Ikhtiar

Bismillahirrrohmanirohim….. Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Jemaah Salat Jumat yang Dimuliakan Allah.

Alhamdulillah wasyukrilah, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Atas nikmat hidup, nikmat iman dan nikmat Islam dan nikmat kesehatan, kita semua dapat hadir pada kesempatan Salat Jumat pada hari ini, meski pun masih dalam suasana pandemi virus corana di mana-mana.

Tidak lupa seiring sholawat dan salam kita sampaikan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, keluarganya, sahabat-sahabatnya, pengikut setia dari dahulu hingga yaumil akhir ini.

Nabiulllah, Habiballah Sholollahu ‘alaihi wassalam, adalah pimpinan umat manusia yang mau beriman. Rasulullah melalui ajaran Islam yang diwahyukan, mampu menyelamatkan umat manusia dari dunia kegelapan kepada dunia terang benderang. Yang hidup dalam penghidupan, memiliki suatu aturan dan tatanan kehidupan yang jelas dan qoth`i bersumber landasan hukum yang kuat yaitu Al Qur`an dan Hadist.

Melalui mimbar khutbah ini, khotib tidak bosan-bosannya mengingatkan diri dan keluarga sendiri, umumnya kepada seluruh jemaah, mari kita tingkatkan iman dan taqwa kita dengan sebenar-benarnya.Tanpa keimanan niscaya seluruh perintah Allah akan kita kerjakan, demikian juga seluruh larangan-Nya akan kita jauhkan atau kita hindari. Janganlah ada di antara kita menjadi manusia munafik. Ngaku Islam malah benci kepada agama dan umat Islam.

Saudaraku Seiman Karena Allah.

Dalam khutbah singkat ini,  khotib mengulas sekilas bahwa wabah penyakit bernama Corona telah menghantui dan memporak-porandakan makna kehidupan dan tatanan sosial kita sejak beberapa bulan lalu. Pemerintah mulai dari pimpinan teratas presiden, gubernur, walikota, bupati, camat dan lurah hingga kepada aparat paling bawah RT/RW, pengurus masjid sibuk membuat dan melaksanakan kebijakan terpadu.

Intinya adalah, kita semua tidak mau warga kita, keluarga kita, sahabat kita, orang-orang dekat kita, orang-orang terkasih dan kasihi terkena penyakit Covid-19. Penyebarannya sungguh massif dari satu tempat ke tempat lain dari negara yang satu ke negara lain.

Akhirnya keluarlah kebijakan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19, antara lain pemberlakukan protokol kesehatan, pakai masker,cuci tangan, cek suhu tubuh, pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), atau lebih ketatnya lockdown. Artinya apa? Seluruh pergerakan manusia dibatasi, tidak berkerumun di suatu tempat, stay di rumah, tidak melakukan kontak fisik dengan yang bukan anggota keluarganya.Tidak asal bicara, atau bersin di sembarang ruang dan waktu.

Kebijakan itu tentu berdampak ekonomi. Banyak saudara-saudara kita terkena PHK, dirumahkan, dagangan sepi dan sebagainya. Sementara bantuan sosial pemerintah belum mampu menjangkau semua penduduk. Di sinilah dituntut tingkat kesabaran yang tinggi dan tidak mudah putus asa.

Firman Allah SWT dalam surah Al Baqoroh ayat 195:

Bismillahirohmairrohim….Walaa tulquu biaidikum ilaat tahlukati wa ahsinuu innallaha yuhibbul muhsiniin. (Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang berbuat kebaikan.” (QS Al Baqoroh 195).

Jemaah Jumat yang Dimuliakan Allah

Ayat tersebut memerintahkan kepada umat beriman untuk beriktiar/berusaha menghindari ancaman dan wabah penyakit. Kita yang sedang sholat ini, dengan menggunakan aturan protokol kesehatan, memakai masker, jaga jarak, periksa suhu tubuh dan sebagainya adalah ikhtiar bersama,  agar kita semua tidak menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan.

Sahabat Rosul, Khalifah Umar Bin Khattab saat mau kunjungan kerja ke Negeri Syam (Sekarang Syiria), balik kanan tidak jadi melanjutkan perjalanan,  karena apa? Karena  di Negeri Syam sedang menular wabah penyakit. Sekelas sahabat Rosul, yang sudah jelas tingkat keimanannya teruji, masih ikhtiar dari takdir yang satu ke takdir yang lain.

Apa pelajaran yang kita petik dari wabah corona ini, sesungguhnya banyak sekali. Saya berulang kali menyatakan bahwa corona telah mengajarkan kita makna kehidupan yang sesungguh dan sebenarnya. Makna hidup kita secara hakiki adalah pada posisi hamba Allah. Maka tempatkan lah diri kita pada posisi hamba, maka melihat musibah, ujian dan teguran ini pasti lah dengan kaca mata seorang hamba, ciptaan Allah. Yakinkan diri bahwa dari Allah akan kembali juga kepada Allah SWT.

Semua penyakit akan ada obatnya sebagaimana hadist yang diriwayatkan Muslim bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Likulli daain dawaa u, faizaa ushiba dawaa ud daa a, baroo a biiznillahi azza wa Jalla. (Setiap penyakit itu ada obatnya, jika tepat obat itu pada penyakitnya, maka ia akan sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla).

Terakhir, mari kita mengambil pelajaran dan makna kehidupan dari ini semua. Lebih dekatkan diri kepada Allah Swt. Tidak ada manusia yang bisa menghindar tanpa seizin Allah. Tingkatkan imunitas tubuh, hiduplah dengan pola hidup bersih dan sehat. Jaga ujian dan teguran Yang Maha Kuasa ini, jangan sampai merusak jaring dan sel-sel keimanan kita. Allahua a`lam bishowab. (syamsir)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.