oleh

Era Jurnalisme Zooming, Dulu Wartawan Wajib ke TKP

-Komunitas-177 views

PANDEMI Covid-19 mengubah segalanya. Termasuk juga dengan cara kerja wartawan dalam mencari berita. Dulu jurnalis wajib ke tempat kejadian perkara (TKP) apalagi teman-teman desk metropolitan. Sang editor bakal marah besar bahkan bisa banting bangku atau gebrak meja jika saat deadline reporter asik di ruang redaksi.

Saya pernah mengalami hal itu ketika masih jadi reporter kriminal. Baru piket malam hingga subuh karena ikut tim buru sergap. Istilah untuk teman-teman yang kebagian “ngalong”. Tak ayal lagi sang editor dongkol. Parahnya lagi redpel saya juga ngamuk. Maka “Keluarga Kebon Binatang Ragunan” meluncur deras! Parah gais. Harus tebal telinga lho!

Tapi kini zaman sudah berubah. Perlahan tapi pasti jurnalis kini mudah mendapatkan berita. Ada rilis yang dalam sekejap membanjir whatsApp Grup. Belum lagi yang diemail bertubi-tubi. Belum lagi ada keterangan resmi yang ditayangkan secara virtual.

Achmad Yurianto juru bicara penanganan Covid-19 saat memberikan keterangan memanfaatkan Youtube Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Reporter tinggal panteng di Youtube BNPB maka berita update corona di Indonesia dalam sekejap pun jadi. Cukup tunggu waktu jelang pukul 16.00 WIB maka keterangan Sang Juru Bicara Covid-19 segera muncul.

ilustrasi

Teknologi informasi telah mengubah cara kerja para pemburu berita. Sesuatu yang sangat jauh berbeda dengan kondisi di era masa lalu. Reporter wajib hukumnya ke TKP. Telepon genggam belum ada. Cuma dimodalin pager dan handy talky untuk monitor taruna demi taruna.

Dari kasus 303 hingga Jaya 65. Paling seru jika tersangka atau TSK di-810! Itu yang dicari. Jadi sangat rugi bandar jika reporter tidak ke TKP. Dia akan kehilangan banyak fakta. Bahkan, ia bisa mengalami apa yang dinamakan erosi fakta apalagi hanya mengandalkan nara sumber yang bukan sumber lingkaran pertama atau A1 (istilah para cepu di kepolisian).

Yang agak sedikit maju ketika saya bertugas di lingkungan DPR tahun 1990-an. Kebetulan kordinator wartawan di sana Pak Mawardi Ittam jurnalis senior Berita Buana. Di press room DPR tersedia banyak komputer yang bernomor.

Masing-masing reporter berbagi tugas untuk meliput rapat kerja komisi di DPR. Usai meliput maka reporter yang bersangkutan akan membuat berita itu di komputer di press room DPR. Kemudian dengan disket waktu itu teman-teman meng-copy berita dan saling berbagi. Berita copy paste pun terjadi.

Pola seperti itu juga terjadi untuk teman-teman yang meliput lingkungan Istana Kepresidenan. Biasanya reporter yang masih baru diplonco memindahkan hasil rapat terbatas di Bina Graha ke komputer dan selanjutnya dibagi bersama. Karena itu mudah ditebak kemudian: menjadi seragam dengan ciri berita seperti ini: “Presiden Soeharto mengatakan…dan selanjutnya.” Tak ada berita eksklusif!

Itu dulu tetapi kini di masa pandemi virus corona, wartawan bisa memperoleh berita melalui zooming meeting atau webinar alias web-seminar. Dengan cara ini tidak terjadi kontak fisik antara nara sumber dengan reporter. Setidaknya hal ini sebagai upaya untuk mencegah penularan Covid-19.

Seorang sahabat kebetulan fotografer di sebuah koran berbahasa Mandarin kemudian menyebut istilah “Jurnalisme Zooming”.
Zaman telah berubah. Pandemi Virus Corona juga sedikit banyak ikut mengubah cara para reporter dalam mendapatkan berita.
Setujukah Anda?(norman meoko)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *