oleh

Dengan Doa, Malapetaka Hilang

DENGAN berdoa kepada Allah adalah memperlihatkan sikap berserah diri dan membutuhkan Allah, karena tidak dianjurkan ibadah melainkan untuk berserah diri dan tunduk kepada Pencipta serta merasa butuh kepada-Nya.

Doa adalah madrasah rohani, dan juga madrasah amal perbuatan. Do’a juga berarti perubahan dari kejelekan diri, dan penolakan atas kelaliman dan kerusakan.

Agar sebuah doa mempunyai daya rohani, mempunyai arti dalam kehidupan kita, di mana kita dapat menciptakan revolusi di dalam diri kita dan mampu menolak sisi kerusakan dan kelaliman pada diri kita, maka hendaknya kita memperhatikannya, mengamalkan apa-apa yang terkandung di dalamnya, dan juga menghafal penggalan-penggalan doa semampu kita, bukan semata-mata sebagai hafalan, melainkan untuk diamalkan.

Allah subhanahu wa taala telah berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang-orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah, 2:186).

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Apabila seorang hamba mengucapkan, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku”, Allah berfirman, “Kudengar panggilanmu, hai hamba-Ku, mintalah, engkau akan diberi”. (HR. Ibnu Abud Dun-ya melalui Siti Aisyah r.a.).

Hadits ini menganjurkan kepada kita agar banyak berdoa kepada Allah Swt. Bilamana seorang hamba meminta sesuatu kepada Allah Swt., niscaya Allah akan mengabulkannya.

“Allah Swt telah berfirman, “Barangsiapa tidak berdoa kepada-Ku Aku murka kepadanya.” (HR. Abu Hurairah r.a.)

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Doa yang paling utama ialah kamu meminta kepada Rabbmu ampunan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Karena bila keduanya diberikan kepadamu di dunia, lalu keduanya diberikan pula kepadamu di akhirat berarti kamu benar-benar beruntung.” (HR. Ibnu Majah melalui Anas r.a.).

Doa yang paling utama ialah memohon ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Doanya berbunyi seperti berikut, ” Rabbanaa aatinaa fid-dun-yaa hasanah wafil aakhirati hasanah, waqinaa ‘ adzaaban naari. ” (Ya Rabbi kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat, dan peliharalah kami dari siksa neraka).

Nabi Saw telah bersabda, “Berdoalah kalian kepada Allah dengan berkeyakinan akan dikabulkan. Dan ketahuilah oleh kalian bahwa Allah Swt. tidak akan mengabulkan doa yang dipanjatkan dari hati yang tidak khusyuk dan lalai.” (HR. Tirmidzi melalui Abu Hurairah r.a.).

Apabila kita menginginkan agar doa kita dikabulkan oleh Allah, maka kita harus merasa yakin bahwa doa kita pasti dikabulkan oleh-Nya. Demikian itu karena Allah Swt. tidak mau menerima doa yang diucapkan oleh hati yang lalai dan tidak khusyuk. Hadits ini mengandung pengertian bahwa berdoa kepada Allah merupakan hal yang harus; Allah Swt. akan murka terhadap orang yang tidak mau berdoa kepada-Nya.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Doa bermanfaat untuk melenyapkan musibah yang sedang menimpa dan untuk menolak musibah yang akan datang, karena itu kalian, hai hamba-hamba Allah, berdoalah.” (HR. Hakim melalui Ibnu Umar r.a.).

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian tertimpa musibah, maka hendaknya dia mengucapkan, “Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sesungguhnya kami semua hanya kembali kepada-Nya. Ya Allah, hanya karena pahala yang ada di sisi-Mu-lah aku (bersabar) menanggung musibah ini, maka berilah aku pahala karenanya, dan gantilah untuk diriku musibah ini dengan hal yang lebih baik daripadanya.” (HR. Ibnu Majah melalui Abu Salmah).

Hadits ini memerintahkan agar ber-istirja’ (mengucapkan kalimah Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun). Barang siapa yang mengucapkan doa tersebut sewaktu tertimpa musibah, maka Allah akan memberinya pahala yang berlimpah, tetapi dengan syarat, yaitu hendaknya ia bersabar dan dalam sabarnya itu ia mengharapkan pahala dari Allah Swt.

“Apabila malapetaka, atau kepayahan, atau cobaan menimpa kalian, maka ucapkanlah, “Allahu Rabbunaa laasyariikalahu ” (Allah Rabb kami tiada sekutu bagi-Nya).” (HR. Baihaqi melalui Ibnu Abbas r.a.).

Dalam hadits yang lain Nabi Saw? bersabda, “Ingatlah, aku akan memberitahukan kepada kalian tentang suatu doa yang apabila seseorang di antara kalian tertimpa malapetaka atau musibah dalam urusan duniawinya, lalu dia berdoa dengan memakai doa tersebut, niscaya Allah akan melenyapkan malapetaka atau musibahnya itu. Doa yang dimaksud adalah doanya Dzin Nun (Nabi Yunus), yaitu, “Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang aniaya.” (Iaa ilaaha illaa annta subhaanaka innii kunntu minazhzhaalimiin).”(HR. Hakim).

Doa yang paling mujarab untuk melenyapkan malapetaka atau musibah yang menyangkut masalah duniawi ialah doa Nabi Yunus a.s. ketika ia berada di dalam perut ikan paus.

“Doa orang yang tertimpa malapetaka adalah, “Ya Allah, hanya rahmat-Mu-lah yang kuharapkan, karena itu janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri barang sekejap pun, dan perbaikilah semua urusanku; tiada Tuhan selain Engkau.” (HR. Bukhari).

Apabila seseorang tertimpa kesusahan atau musibah, hendaknya ia memperbanyak membaca doa ini, insha Allah musibah atau kesusahan yang menimpa kita akan segera lenyap dan Allah akan memberinya jalan keluar.

“Janganlah seseorang di antara kalian mengharapkan mati karena musibah yang menimpa dirinya, apabila tidak ada jalan lain baginya kecuali mengharapkan mati, maka hendaknya ia mengucapkan, “Ya Allah hidupkanlah aku jika hidup lebih baik bagi diriku, dan wafatkanlah aku jika wafat lebih baik bagi diriku.” (HR. Jamaah).

Mengharapkan mati karena tertimpa musibah berat tidak diperbolehkan, tetapi apabila tidak tahan lagi, maka hendaklah seseorang mengucapkan doa ini dengan penuh rasa tawakal dan berserah diri kepada Allah Swt.

Rasulullah Saw. telah bersabda, “Akan dikabulkan doa salah seorang di antara kalian seandainya ia tidak cepat putus asa dengan mengatakan, “Aku telah berdoa tapi tak dikabulkan juga.” (HR. Syaikhan melalui Abu Hurairah r.a.).

Barang siapa yang menginginkan agar doanya diperkenankan, maka janganlah kita berputus asa dalam berdoa, niscaya Allah akan mengabulkannya. Wallahu A’lam bish-Shawabi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *