JAKARTA – Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) melalui Deputi Pengembangan Pemuda menggelar Training of Facilitator (TOF) bagi para dosen kewirausahaan. Kegiatan yang berlangsung hingga akhir 2024 tersebut akan menyasar 15 titik dimana setiap titik melibatkan perguruan tinggi yang ada di daerah baik PTN maupun PTS.
“Materi training sudah kami kemas dalam buku panduan Training of Facilitator yang disusun secara tim melibatkan akademisi, pemerintah maupun praktisi. Dari buku panduan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pelatihan para dosennya,.” ujar Dr Susertya Herawati, salah seorang trainer Program Kewirausahaan Kemenpora.
Ia berharap melalui kegiatan training ini, para dosen akan semakin luas wawasannya sehingga bisa memberikan kuliah kewirausahaan dengan tepat dan menarik kepada para mahasiswa. “Alhamdulillah teman-teman dosen antusias mengikuti program ini,” katanya.
Menurut Herawati kewirausahaan di kalangan pemuda kini menjadi salah satu fokus yang digarap oleh Kemenpora. Tujuannya adalah menumbuhkan jiwa kewirausahaan pemuda yang pada akhirnya mereka diharapkan dapat lebih mandiri dan dapat menciptakan peluang-peluang baru di tengah masyarakat.
“Program ini seperti disampaikan Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora, Bapak Raden Isnanta, bertujuan melahirkan talenta-talenta muda dibidang wirausaha sehingga mereka tidak hanya pandai di bidang akademik tetapi juga tangguh dan sukses dalam bisnis. Selain itu program ini ingin mencetak mahasiswa yang nantinya bisa menjadi job creator bukan menjadi job seeker,” tegasnya.
Herawati yang juga seorang dosen menekankan bahwa untuk menggeluti dunia usaha, kemampuan beradaptasi sehingga mampu bertahan belumlah cukup. Kemampuan untuk menjadi pioneer atau perintis perubahan juga sangat dibutuhkan.
“Jadi perintis memiliki banyak keuntungan, salah satunya dikenal oleh banyak orang dan ini akan memudahkan bahkan membuka berbagai kemudahan berikutnya,” ujar Herawati, yang juga pegiat kewirausahaan dan kebudayaan.
Tentunya kata Herawati, menjadi seorang perintis harus siap dengan segala resiko. Seseorang harus melakukan beberapa cara yang terbilang tidak mudah, unik dan juga kreatif. Bahkan mungkin pada beberapa tahapan, mental dan fisik akan diuji cukup berat.

Menurutnya untuk menumbuhkan mindset kewirausahaan pemuda perlu mengembangkan domain pribadi pemuda . Misalnya selalu berinisiatif, pantang menyerah, berkemaunan menggerakkan mekanisme sosial dan ekonomi untuk mengubah sumber daya atau situasi menjadi lebih berguna.
Semua upaya tersebut kata Herawati tentu perlu didukung oleh pemerintah dalam menumbuhkan ekosistem kewirusahaan melalui kebijakan, kebudayaan, sumber daya manusia (SDM), pendidikan, pembiayaan, pasar, dan penunjang lainnya. “Negara berkepentingan untuk menumbuhkan ekosistem kewirausahaan karena negara tidak selalu dapat menyiapkan lapangan kerja. kekurangan lapangan kerja akan berpengaruh kepada pengangguran yang mengakibatkan hilangnya pendapatan warga negara,” tegasnya.
Herawati sendiri sebelum terlibat menjadi trainer kewirausahaan di Kemenpora merupakan seorang atlet nasional pencak silat. Ia pernah bertanding di Pekan Olahraga Nasional (PON), pernah juga mengikuti program pertukaran Pemuda Asean Plus Cina di Institute of Guangzi pada 2008.
Ketertarikannya menjadi trainer Kewirausahaan di kalangan pemuda karena menurutnya kewirausahaan merupakan solusi tepat menghadapi bonus demografi di Indonesia pada tahun 2030 dan Indonesia Emas 2045. “Pada saat bonus demografi peduduk usia produktif mencapai 64 % dari total penduduk Indonesia yang pada tahun 2030 di perkirakan 297 Juta jiwa,” tegasnya.
Pada negara maju rata -rata 14 % dari total jumlah penduduk usia kerja adalah Wirausaha, sementara di Indonesia baru3,47 % (2024). Karena itu mendorong para pemuda menjadi seorang wirausaha menjadi sangat penting dan strategis.
Di perguruan tinggi, kewirausahaan sudah menjadi mata kuliah wajib dengan bobot 2-3 SKS yang wajib ditempuh mahasiswa. Menjadikan wirausaha sebagai mata kuliah wajib merupakan tuntutan kurikulum agar mahasiswa tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan sikap kewirausahaan
“Membentuk sikap mental ditindaklanjuti dengan kegiatan yang dapat mewujudkan minimal entrepreneur pemula. Kurikulum di desain sedemikian rupa sehingga pendidikan kewirausahaan akan terjadi selama mahasiswa menempuh matakuliah dapat pula menjadi hidden kurikulum artinya bahwa Sebagian besar matakuliah mempunyai muatan pendidikan kewirausahaan,” jelas Herawati.
Ia menekankan bahwa menggerakkan jiwa dan semangat kewirausahaan di lingkungan perguruan tinggi melalui mindset entrepreneur dan core ilmu dari setiap jurusan yang ada merupakan pekerjaan rumah bersama bagi para dosen.
Kegiatan Training of Facilitator 2024 itu sendiri sudah berjalan di 3 titik yakni Yogyakarta, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Di Yogyakarta diikuti 17 kampus dengan 46 orang dosen peserta , di Jabar diikuti 18 kampus dengan 43 dosen peserta dan DKI Jakarta diikuti 26 kampus dengan 49 dosen peserta.
Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kemenpora Raden Isnanta berharap melalui kegiatan Training of Facilitator ini para dosen dapat menetaskan lulusan yang tidak hanya memiliki kecakapan dalam bidang akademik saja, tapi juga mencetak wirausaha muda yang tangguh dan sukses. (*/fs)







Komentar