BOGOR – Pakar ilmu tanah dari IPB University, Basuki Sumawinata, menilai bahwa limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) memiliki potensi besar sebagai sumber daya bernilai ekonomis yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Menurut Basuki, LCPKS seharusnya tidak lagi dipandang sebagai limbah yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber nutrisi strategis yang dapat dikembalikan ke dalam sistem produksi pertanian.
“Jika dikelola dengan pendekatan ilmiah yang tepat, limbah tersebut berpotensi menggantikan sebagian kebutuhan pupuk kimia yang selama ini masih bergantung pada impor,” ujarnya Senin (13/4/2026).
Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia menghasilkan sekitar 50 juta ton minyak sawit per tahun. Dari jumlah tersebut, dihasilkan sekitar 100 juta ton limbah cair setiap tahunnya.
LCPKS memiliki kandungan Biological Oxygen Demand (BOD) rata-rata sekitar 25.000 ppm, yang menunjukkan tingginya kandungan bahan organik di dalamnya.
Selain itu, limbah ini mengandung unsur hara penting seperti, Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg) serta unsur mikro lainnya.
Kandungan tersebut menjadikan LCPKS sebagai pupuk organik alami bernilai tinggi yang dapat dimanfaatkan langsung untuk meningkatkan kesuburan tanah, khususnya pada perkebunan sawit.
Basuki menjelaskan bahwa tingginya kandungan bahan organik dalam LCPKS menjadikannya sumber karbon penting bagi tanah.
Tanpa bahan organik yang cukup, struktur tanah memburuk, aktivitas mikroorganisme menurun, produktivitas lahan dalam jangka panjang ikut menurun.
Kondisi ini pada akhirnya membuat petani dan perusahaan semakin bergantung pada pupuk kimia.
Basuki juga menyoroti kebijakan pengolahan LCPKS yang terlalu ketat, seperti standar BOD di bawah 100 mg/L.
Menurutnya, standar tersebut justru dapat menghilangkan nilai ekonomis limbah karena, kandungan karbon organik hampir habis, fungsi sebagai pupuk organik menjadi hilang.
“Jika diterapkan secara luas, hal ini dapat menjadi pemborosan karena nutrisi yang seharusnya dimanfaatkan justru terbuang, sementara Indonesia masih bergantung pada pupuk impor,” tegasnya.
Optimalisasi pemanfaatan LCPKS dinilai mampu memberikan berbagai manfaat strategis, antara lain, mengurangi ketergantungan pada pupuk impor, menekan biaya produksi perkebunan, meningkatkan efisiensi nutrisi tanaman, dan memperkuat daya saing industri sawit.
Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian, termasuk fluktuasi harga energi dan geopolitik, langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas sektor pertanian nasional.
Basuki menekankan pentingnya regulasi yang seimbang antara perlindungan lingkungan dan kebutuhan produktivitas pertanian.
Pendekatan berbasis ilmu tanah dinilai mampu mengubah LCPKS dari potensi masalah lingkungan menjadi aset strategis ekonomi.
“Pemanfaatan limbah sawit bukan sekadar solusi lingkungan, tetapi juga strategi nyata untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional,” pungkasnya. (yopy/fs)







Komentar