oleh

Guru Besar Faperta IPB: 50 Persen Spesies Virus Patogen Tumbuhan Ditularkan oleh Kutu Daun

BOGOR – Guru besar Institut Pertanian Bogor University (IPB University) berbagi ilmu tentang strategi pengelolaan virus patogen tumbuhan melalui integrasi cara kultur teknis dengan pemanfaatan bahan hayati untuk mendukung pertanian berkelanjutan.

Prof. Dr. Ir. Tri Asmira Damayanti, M.Agr, guru besar Departemen Proteksi Tanaman, Faperta IPB menjelaskan, virus tumbuhan adalah salah satu patogen penting yang mengganggu kesehatan tanaman.

Sebagai parasit obligat intraseluler, virus memiliki genom terdiri dari RNA atau DNA yang dilindungi oleh selubung protein membentuk berbagai bentuk partikel virus.

Infeksi virus menyebabkan gangguan fisiologis yang ditunjukkan dengan gejala yang sangat bervariasi, dan menyebabkan penghambatan pertumbuhan, serta penurunan produksi tanaman secara kuantitas dan kualitas.

“Setiap tahun infeksi virus menyebabkan kerugian ekonomi secara global berkisar 30 milyar USD,” kata Prof Tri Asmira Kamis (20/6/2024).

Wanita kelahiran Deli Serdang ini menambahkan, virus tumbuhan ditularkan dengan berbagai cara, diantara cara penularan yang penting secara ekonomi adalah melalui serangga vektor, dan melalui benih (biji dan bahan perbanyakan vegetatif).

“Penularan dan penyebaran virus melalui serangga vektor dapat bersifat non-persisten (virus terbawa dalam stilet alat mulut serangga), semi persisten dan persisten (virus terbawa dalam peredaran darah serangga dan atau sampai pencernaan serangga),” paparnya.

“Sekitar 50 persen spesies virus patogen tumbuhan ditularkan oleh kutu daun secara non-persisten. Tipe penularan ini hanya butuh waktu beberapa detik setelah kutudaun mendapatkan virus dari tanaman sakit, segera dapat menularkan ke tanaman sehat dalam waktu detik-menit,” ujarnya lagi.

Wanita lulusan S3 Fitopatologi Kyoto University ini menjelaskan, insektisida sintetis untuk mengelola virus non-persisten sering sekali tidak efektif karena setelah terpapar insektisida, kutudaun lebih aktif probing (menusukkan stilet) menularkan virus sebelum akhirnya mati.

Selain itu insektisida cukup mahal untuk petani kurang mampu, serta tidak kompatibel digunakan pada pertanian organik.

Penggunaan tanaman penghalang menjadi strategi propilaktik secara kultur teknis yang menghalangi kutu daun yang mengandung virus (viruferous) masuk ke pertanaman utama untuk menularkan virus non-persisten.

Cara ini kurang mendapat perhatian petani untuk diterapkan dalam budi daya tanaman sayuran dan pangan non-padi, padahal pada komoditas tersebut banyak diinfeksi oleh virus non-persisten.

Selain cara kultur teknis, bahan hayati seperti ekstrak tanaman dan kitosan dapat dimanfaatkan untuk mengelola infeksi virus karena kedua bahan memiliki kemampuan dalam menginduksi ketahanan tanaman, bersifat antivirus dan efek insektisidal.

Penyemprotan ekstrak kasar daun tanaman meniran, pegagan, sambiloto, dan patah tulang menunjukkan mampu menekan Bean common mosaic virus (BCMV) melalui mekanisme induksi ketahanan tanaman .

Ekstrak kasar rimpang temulawak, daun mrico kepyar, dan daun anyelir menunjukkan memiliki substansi antivirus yang mampu menekan infeksi BCMV.

Ekstrak daun mimba, tempuyung, bugenvil, pukul empat, geranium, jengger ayam, pagoda, jambu biji, kecubung, kulit manggis dan rimpang jahe merah menekan BCMV melalui induksi ketahanan tanaman dengan keefektifan berkisar 68,1 persen – 100 persen tergantung jenis ekstrak tanaman, sekaligus memiliki substansi antivirus dengan keefektifan 79,3 persen – 97,4 persen.

Keefektifan ekstrak daun bugenvil 81.45 persen dan pukul empat 80.68 persen juga terbukti mampu menekan infeksi Squash mosaic virus pada tanaman oyong dan ekstrak daun kelor yang di angka 77 persen serta ekstrak daun bugenvil 82.4 persen dalam menekan infeksi virus belang kacang tanah.

Begitu juga halnya dengan kitosan, menunjukkan mampu menghambat keparahan penyakit mosaik berkisar 39,5 persen – 64,6 persen dan menurunkan konsentrasi virus mosaik berkisar 75,9 persen – 86,7 persen.

Pada konsentrasi 0,9 persen kitosan mampu menurunkan insidensi, keparahan penyakit dan konsentrasi virus secara nyata dibandingkan kontrol, menghambat preferensi makan (antifeedant) dan menekan populasi kutudaun.

Integrasi tanaman penghalang jagung dan ekstrak tanaman mampu memperpanjang waktu inkubasi virus, menekan insidensi BCMV dengan keefektifan 10,3 persen – 58 persen dibandingkan kontrol 100 persen, menekan keparahan gejala BCMV 48,4-89,8 persen dan keefektifan menurunkan konsentrasi BCMV 59,8 persen – 99,1 persen pada pertanaman kacang panjang di Bogor.

Trend yang serupa ditunjukkan oleh integrasi tanaman jagung sebagai penghalang dengan ekstrak daun bugevil, kitosan dan kombinasinya menunjukkan mampu menekan populasi kutudaun dengan keefektifan 57,1 persen – 73,6 persen, insidensi 53,1 persen – 80,6 persen dan keparahan penyakit virus 69,2 persen – 91 persen pada kedelai di Bima, NTB.

Integrasi tanaman penghalang dan bahan hayati dapat diterapkan sebagai satu paket pengelolaan virus non-persisten yang perlu dimanfaatkan dan dikembangkan secara luas.

Pemanfaatan bahan hayati yang mudah didapatkan dapat mengurangi penggunaan insektisida sintetis. Penerapannya dapat dikombinasikan dengan metode-metode pengendalian lain yang kompatibel dan saling mendukung.

“Paket pengelolaan virus non-persisten ini sangat sesuai diterapkan pada pertanian organik dan pertanian skala kecil sampai menengah, dimana mayoritas petani sayuran dan pangan non-padi merupakan petani dalam kelompok ini di Indonesia,” ungkapnya. (yopi)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *