oleh

Untuk Memberikan Efek Jera, Stefanus: ‘Hukum Berat Bagi Pelaku Teroris’

POSKOTA.CO – Bom bunuh diri di tempat peribadatan sudah sangat memprihatinkan. Peristiwa peledakan bom yang diduga bunuh diri di depan Gereja Katedral, Sulsel pada Minggu (28/3/2021) ini bukanlah peristiwa yang baru pertama kali terjadi. Peristiwa tersebut juga pernah terjadi di Surabaya pada Mei 2018 lalu.

Atas petistiwa terdebut, pengamat hukum Stefanus Gunawan, SH, M.Hum, menyatakan keprihatinannya. Apalagi perisitiwa ini terjadi  disaat umat Katolik sedang merayakan misa palma. Untuk itu ia mengecam keras perbuatan pelaku dan jaringan atau kelompok lainya yang terlibat.

Menurut Ketua DPC Peradi SAI (Perhimpunan Advokat Indonesia – Suara Advokat Indonesia) Jakarta Barat ini, peristiwa tersebut harus diusut tuntas sampai ke akar-akarnya. Pasalnya, perbuatan mereka ini sudah merupakan terorisme.

“Oleh karena itu, untuk memberi efek jera, tak ada salahnya mereka (pelaku-red) sebaiknya dihukum seberat-seberatnya. Barangkali inilah salah satu solusinya, baik hukuman berat bagi pelakunya itu sendiri maupun calon pelaku lainnya,” katanya.

Stefanus yang juga menjabat sebagai Ketua LBH Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) Jabodetabek ini, menambahkan seperti dalam peristiwa yang sama di Medan, pelaku teror bom di salah satu gereja beberapa tahun silam dikenakan Undang-Undang Pemberantasan Teroris.

Seperti Ivan Armadi Hasugian yang masih berusia 18 tahun, pelaku tunggal percobaan bom bunuh diri di Gereja Katolik Stasi Santo Yoseph Doktor Mansyur, Medan ketika itu dikenakan undang-undang tersebut.

Pelaku dijerat Pasal 6 dan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Teroris juncto Pasal 53 KUHP subsider Pasal 1 ayat 1 UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 yang ancaman hukumannya mati.

Advokat ibukota yang pernah menerima penghargaan ‘The Leader Achieves In Development Award’ dari ‘Anugerah Indonesia’ dan ‘Asean Development Citra Award’s dari Yayasan Gema Karya ini menambahkan agar peristiwa serupa tidak terulang lagi, negara dan semua aparat terkait tidak boleh lengah.

“Negara dan semua anak bangsa harus lebih extra serius dalam memerangi faham radikalisme dan terorisme,” tegasnya.

Selain itu, tambahnya, untuk memerangi faham radikalisme tersebut tidak cukup oleh peran aparat saja, tetapi tokoh- tokoh agama juga harus memberikan pemahaman kepada umatnya akan bahaya faham radikalisme dan terorisme yang masih ada di indonesia.

Untuk itu ia menghimbau kepada seluruh umat beragama dan bangsa Indonesia tetap tenang dan menahan diri. “Hendaknya semua pihak tenang, menahan diri untuk tidak memberikan komentar yang macam-macam,” katanya.

“Biarkan pihak kepolisian bekerja untuk mengungkapnya. Saya yakin siapa pun pelakunya, tidak terkait dengan urusan agama apa pun karena semua agama tidak pernah mengajarkan umatnya untuk melakukan teror kepada siapa pun,” pungkas Stefanus. (budhi w)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *