oleh

Sukses Ciptakan Gelombang Uji, Pakar Sebut Klaim Produk AMDK Ini Kuasai Pasar Masih Terlalu Dini

JAKARTA – Gebrakan Aquviva, merek Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) terbaru dari Wings Group, dianggap sukses mencuri perhatian sejak peluncurannya pada Februari 2025. Promosi masif dan penawaran harga murah untuk volume yang lebih besar membuat merek ini dianggap berhasil menciptakan gelombang uji coba (trial) yang signifikan di kalangan konsumen. Namun, pengamat industri dan akademisi menilai klaim keberhasilan Aquviva menggebrak dominasi pasar AMDK masih jauh dari kenyataan.

Praktisi komunikasi pemasaran sekaligus peneliti di LSPR Institute, Safaruddin Husada, berpandangan lonjakan penjualan awal tidak bisa serta-merta diartikan sebagai kemenangan pasar. Menurutnya, Aquviva saat ini baru berada pada tahap penetrasi awal yang didorong oleh besarnya anggaran promosi.

“Masih terlalu dini untuk menyebut sukses dalam konteks pangsa pasar. Yang bisa dikatakan saat ini adalah Aquviva berhasil menciptakan awareness awal dan memicu trial dari konsumen,” ungkap Safaruddin.

Ia menambahkan bahwa untuk disebut sukses secara nyata, keberhasilan sebuah merek harus tercermin dalam data pembelian ulang (repeat purchase), distribusi yang merata, serta pangsa pasar yang stabil dan tidak hanya bergantung pada promosi.

Pandangan serupa disampaikan oleh Yuswohady, pengamat bisnis dan marketing sekaligus Managing Partner Inventure. Ia menilai momentum satu tahun belum cukup untuk mengukur daya tahan sebuah merek Fast-Moving Consumer Goods (FMCG). Yuswohady memberikan tolok ukur yang jelas bahwa stabilitas pangsa pasar selama lima tahun berturut-turut adalah syarat mutlak.

“Kalau dibilang Aquviva sukses menurut saya dalam waktu setahun itu belum. Minimal lima tahun kalau bisa mengambil market share secara konstan itu baru bisa dikatakan berhasil,” kata Yuswohady.

Ia mengingatkan membangun merek jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan mempertahankannya di tengah gempuran pesaing.

Klaim kesuksesan Aquviva apalagi kini mulai diuji oleh realitas penerimaan konsumen terhadap kualitas produk. Safaruddin menjelaskan, dalam kategori AMDK, kepercayaan konsumen terhadap aspek keamanan, kebersihan, dan kredibilitas sumber air merupakan faktor dominan yang menentukan loyalitas. Di titik inilah Aquviva menghadapi tantangan.

Sejumlah percakapan di media sosial menunjukkan adanya gelombang kekecewaan dari konsumen yang awalnya tergiur oleh harga murah Aquviva. Banyak konsumen mengeluhkan kualitas yang dianggap biasa saja, bahkan menyamakannya dengan rasa air keran. Yuswohady pun menyatakan, “Sebenarnya dari produk tidak ada yang istimewa.”

Kekecewaan ini terekam jelas di platform X (Twitter). Pengguna dengan akun @PutraSanja41702 mencuit dua kali terkait hal ini, menyebutkan, “Aquviva air nya gak enak, kek ada rasa tanah di lidah” dan “Berasa ada rasa tanah nya tu air minum, aquviva kureng enak.” Keluhan tentang rasa juga datang dari @wilipradewa yang menulis, “Aquviva segernya dari mana sih gw minum aquviva rasanya kok kek air keran ya,” serta @BobyDar4 yang menambahkan, “Dingin tetep gak enak, apalagi kalau gak dingin malah eneg pas minum aquviva.”

Kekecewaan sensorik tersebut semakin memburuk menyusul temuan mengenai asal-usul sumber air Aquviva. Berdasarkan kunjungan Komisi VII DPR RI ke pabrik PT Tirta Alam Segar di Cikarang pada April 2026, terungkap bahwa pasokan air baku Aquviva tidak berasal dari mata air pegunungan, melainkan dari pengelola kawasan industri MM2100 yang terhubung dengan Perumda Tirta Bhagasasi, yang notabene adalah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) milik Pemerintah Kabupaten Bekasi.

Fakta ini langsung memicu reaksi negatif dari warganet. Akun @TeguhArsya6742 merespons, “Kek air PDAM baru bener, aquviva kan rasa rasanya kek ada bau dan rasa tanah.” Sementara itu, @HanafiPutro mencuit, “Air nya aquviva kan hasil bor tanah, cek aja di pabrik nya bekasi. Jadi ya ada rasa air keran ny.” Kecurigaan lebih jauh diungkapkan @alamsyah_torik yang menyebut airnya “hambar terus pabrik nya di bekasi dan pakai air sumur bor doang,” bahkan @RakhmatHendra mengeluhkan “banyak orang kapok minum aquviva karna sakit ke tenggorokan juga.”

Bagi konsumen Indonesia yang telah lama teredukasi bahwa air minum berkualitas identik dengan kemurnian mata air pegunungan, fakta penggunaan “air PDAM olahan” atau sumur bor ini dianggap sebagai sebuah kompromi kualitas. Pada akhirnya, harga murah dan promosi agresif mungkin berhasil membuka pintu pasar bagi Aquviva, tetapi tanpa diferensiasi kualitas yang nyata dan sumber air yang meyakinkan, mempertahankan konsumen untuk terus membeli akan menjadi misi yang sangat sulit dicapai. (in)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *