oleh

Peluncuran Indonesia Supply Chain Exhibition & Conference 2026, Soroti Konektivitas, Teknologi, dan Kolaborasi Global

JAKARTA – Peluncuran Indonesia Supply Chain Exhibition & Conference 2026 menjadi momentum penting bagi penguatan ekosistem rantai pasok nasional. Dalam acara yang digelar di The Westin Hotel Jakarta pada Kamis (30/4/2026) tersebut, Senior Commercial Director APAC Mike Nissen dari Hannover Fairs Australia and Asia Pasific menyampaikan pandangan strategis mengenai arah perkembangan industri logistik dan rantai pasok di era pasca-pandemi.

Nissen menyampaikan kepada para mitra yang terlibat, termasuk Debindo Global Expo, LogiSYM dan Cargo Now, serta dukungan berbagai asosiasi industri. Ia juga mengapresiasi tim penyelenggara yang dinilai sukses menghadirkan acara peluncuran yang solid dan kolaboratif.

Nissen mengajak para peserta menengok kembali penyelenggaraan CeMAT Southeast Asia di Jakarta pada 2017 dan 2018 yang digagas oleh Deutsche Messe bersama Debindo. Namun, momentum tersebut sempat terhenti akibat pandemi COVID-19 yang melumpuhkan industri pameran global.

Meski demikian, ia menilai pandemi justru memicu perubahan besar dalam lanskap bisnis global. “Pasca-COVID, konektivitas antara pasar, pembeli, dan penjual meningkat secara signifikan. Hal ini terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Jerman dan berbagai negara lainnya,” ujarnya.

Ia juga menyoroti perubahan pola interaksi manusia yang semakin mengandalkan teknologi digital seperti rapat virtual. Namun, menurutnya, peran pameran dan konferensi tetap tidak tergantikan.

“Interaksi digital memang efisien, tetapi tidak dapat menggantikan sentuhan personal yang hanya bisa didapat melalui pertemuan langsung. Pameran dan konferensi menjadi ruang penting untuk membangun hubungan yang lebih kuat,” tegasnya.

Ledakan Teknologi dan Peran AI

Selain konektivitas, Nissen menekankan pesatnya perkembangan teknologi global, khususnya dalam perangkat keras yang banyak didorong oleh Tiongkok. Ia juga menyinggung revolusi teknologi berbasis kecerdasan buatan yang kini mulai mendominasi berbagai sektor industri.

Menurutnya, perkembangan ini akan menjadi salah satu fokus utama dalam konferensi mendatang, terutama dalam konteks efisiensi dan transformasi rantai pasok Indonesia. Ia optimistis bahwa forum tersebut akan menjadi wadah diskusi strategis bagi pelaku industri untuk bertukar gagasan dan solusi inovatif.

Dalam kesempatan yang sama, Director of Debindo Global Expo, Rafidi Iqra, menegaskan komitmen kuat dalam mendukung sektor Rantai pasok di Indonesia. Sebagai platfpr,m lintas industri, Indonesia Supply Chain Exhibition & Conference 2026 hadir untuk memperkuat kolaborasi dalam ekosistem rantai pasok sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi.

Didukung sinergi global sebagai bagian dari CeMAT, ISC 2026 menjadi momentum penting untuk menampilkan inovasi sekaligus mendorong pelaku industri memperkuat posisi dan kemitraan. Ke depan, digitalisasi dan efisiensi akan menjadi pendorong utama dalam meningkatkan daya saing sektor rantai pasok Indonesia,” ujar Rafidi Iqra, Director of Debindo Global Expo.

Menurutnya, persoalan logistik di Indonesia berada pada titik krusial, di mana biayanya melebihi 20% dari PDB, Peluncuran Indonesia Supply Chain menjadi intervensi penting bagi ketahanan ekonomi nasional. “Dengan menghadirkan jaringan CeMAT, CargoNOW, dan LogiSYM ke Jakarta, kami menyediakan teknologi dan otomasi berkualitas tinggi yang dibutuhkan untuk memodernisasi infrastruktur nusantara,” tegasnya.

Tantangan Konektivitas dan Peluang Kolaborasi

Ia juga menyoroti berbagai tantangan yang masih dihadapi industri rantai pasok, terutama terkait kesenjangan konektivitas antarwilayah di Indonesia. Namun demikian, ia sepakat bahwa tantangan tersebut juga membuka peluang besar untuk inovasi dan kolaborasi.

“Melalui penyelenggaraan pameran dan konferensi pada November 2026, para pemangku kepentingan—mulai dari pemerintah, asosiasi, hingga pelaku industri—diharapkan dapat berkumpul dan merumuskan solusi bersama,” katanya.

Keterlibatan berbagai asosiasi seperti Asosiasi Logistik Indonesia dan Asperindo turut memperkuat ekosistem diskusi yang inklusif dan berbasis keahlian.

Sebagai mitra lokal, Debindo lanjut Rafidi, memegang peran penting dalam menyukseskan acara ini. Selain mengelola aspek teknis penyelenggaraan, Debindo juga bertanggung jawab dalam mengundang pemangku kepentingan nasional, termasuk kementerian, asosiasi, media, dan pelaku usaha.

Kolaborasi antara Hannover Fairs, Debindo, serta mitra internasional dan lokal diharapkan mampu menciptakan platform yang tidak hanya bersifat pameran, tetapi juga menjadi pusat pertukaran ide dan solusi strategis.

Dengan menggabungkan pameran dan konferensi sebagai dua pilar utama, Indonesia Supply Chain Exhibition & Conference 2026 diharapkan mampu menjawab tantangan jangka pendek sekaligus merumuskan strategi jangka panjang bagi industri.

“Acara ini bukan sekadar pameran tetapi sekaligus platform untuk membangun masa depan rantai pasok Indonesia, mulai dari e-commerce hingga cold chain. Serta menjembatani inovasi global dengan implementasi lokal,” ungkap Dr. Raymon Krishnan, President, The Logistics & Supply Chain Management Society Exhibition Highlight.

Nissen menutup dengan optimisme bahwa melalui kolaborasi yang kuat dan dialog terbuka, berbagai tantangan dalam rantai pasok dapat diselesaikan secara bertahap—baik dalam satu tahun, lima tahun, maupun satu dekade ke depan.

Acara ini pun diharapkan menjadi katalis penting dalam mendorong transformasi industri logistik Indonesia menuju sistem yang lebih terintegrasi, efisien, dan berbasis teknologi.

Dijadwalkan berlangsung pada 25–27 November 2026 di Nusantara International Convention & Exhibition (NICE – PIK 2), Jakarta, Indonesia Supply Chain akan mempertemukan produsen, penyedia logistik, perusahaan teknologi, operator logistik dan kargo, bisnis e-commerce, serta pemangku kepentingan pemerintah dari seluruh Indonesia dan kawasan ASEAN.

Pameran ini akan menampilkan berbagai solusi yang mencakup transportasi dan logistik, pergudangan dan material pengelolaan, teknologi rantai pasok, dukungan manufaktur, keberlanjutan, infrastruktur, logistik e-commerce, serta sektor khusus seperti cold chain dan rantai pasok farmasi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *