oleh

Kuartal III 2020, Prodia Mencatatkan Laba Bersih Rp122,28 Miliar

POSKOTA.CO – Perseroan Terbatas (PT) Prodia Widyahusada Tbk (kode saham: PRDA) berhasil mencatatkan laba bersih menjadi sebesar Rp122,28 miliar pada kuartal III 2020. Perseroan juga berhasil mencetak pendapatan bersih sebesar Rp1,20 triliun dan laba bruto sebesar Rp654,54 miliar.

Di samping itu, beban usaha mengalami penurunan hingga 13,13 persen menjadi Rp 533,54 miliar dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp614,18 miliar. Penurunan beban usaha didukung oleh upaya efisiensi yang dilakukan perseroan secara bijaksana tanpa mengurangi kualitas pelayanan dan produk tes laboratorium yang diberikan oleh Prodia, dan dengan tetap memperhatikan pengembangan nilai dan inovasi pasca pandemi oleh Perseroan.

Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty mengatakan, di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang berdampak pada sebagian besar sektor usaha, kami masih dapat mencatatkan kinerja keuangan yang cukup baik pada kuartal III 2020. Kami terus berupaya untuk meningkatkan pendapatan, menjaga arus kas, memaksimalkan produktivitas dan pengendalian biaya, serta terus fokus pada keunggulan operasional bisnis inti perseroan dengan tetap memprioritaskan keamanan, kesehatan dan keselamatan karyawan dan pelanggan kami.

“Pemanfaatan teknologi dimanfaatkan guna meningkatkan layanan bagi pelanggan di tengah situasi pandemi ini terutama dalam merespon kebutuhan pelanggan untuk tes Covid-19 mulai dari rapid test, tes serologi antibodi EIA, sampai PCR Covid-19 ini. Kami berkomitmen untuk mempertahankan kinerja perseroan mulai dari kualitas layanan khususnya di masa pandemi ini, kinerja operasional dengan standar kualitas Prodia, dan kinerja keuangan, sehingga dapat terus memberikan imbal hasil dan nilai tambah bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan Perseroan,” tutur Dewi.

Pada kuartal III 2020, total aset Perseroan sebesar Rp2.069,91 miliar, yang terdiri dari aset lancar Rp1.189,48 miliar dan aset tidak lancar menjadi Rp880,43 miliar. Sedangkan, total liabilitas menjadi Rp401,62 miliar, yang terdiri dari liabilitas jangka pendek Rp157,84 miliar dan liabilitas jangka panjang Rp243,79 miliar. Total ekuitas Perseroan mengalami sedikit kenaikan menjadi Rp1.668,28 miliar. Dari sisi arus kas, perseroan berhasil mempertahankan arus kas bersih dari aktivitas operasi per 30 September 2020 dalam posisi surplus menjadi sebesar Rp269,99 miliar.

Dewi menambahkan, dari segi segmen pelanggan, segmen pelanggan individu dan rujukan dokter menyumbang sekitar 62,7 persen kepada pendapatan Perseroan. Sedangkan, segmen referensi pihak ketiga dan klien korporasi menopang sekitar 37,3 persen terhadap pendapatan Perseroan. Hingga akhir September 2020, perseroan telah melakukan lebih dari 533.000 pemeriksaan terkait Covid-19 yang terdiri atas tes serologi antibodi berbasis rapid test, tes serologi berbasis instrumen laboratorium (serologi EIA), dan tes PCR Covid-19.

“Permintaan tes terkait Covid-19 diprediksi akan terus dibutuhkan hingga tahun depan. Sejak dimulainya pemeriksaan Covid-19 sampai dengan tanggal 30 September 2020, kami telah menerima permintaan pemeriksaan terkait Covid-19 sekitar 464.000 tes serologi antibodi (rapid test dan tes serologi EIA), dan 69.000 tes PCR Covid-19,” ujar Dewi.

Perseroan mulai melakukan pemeriksaan SARS-CoV-2 RNA (PCR Covid-19) sejak awal Mei 2020 dan bergabung menjadi bagian dari jejaring Laboratorium Resmi Rujukan Nasional Pemeriksaan RT-PCR Covid-19 di Indonesia pada bulan yang sama. Pada Juli 2020, perseroan menggunakan alat otomatis PerkinElmer untuk pemeriksaan PCR Covid-19 di Laboratorium Pusat Rujukan Nasional dan Laboratorium Rujukan Regional Prodia di Surabaya, Makassar dan Medan.

Pada September 2020, perseroan terus memperbesar kapasitas pemeriksaan PCR Covid-19 hingga lebih dari 2.000 tes/hari dengan menambahkan alat otomatis Cobas 6800 di Laboratorium Pusat Rujukan Nasional (PRN) Prodia, Jakarta. Saat ini, Prodia adalah laboratorium kesehatan swasta pertama dan satu-satunya di Indonesia yang menggunakan alat otomatis penuh Cobas 6800 System, setelah sebelumnya digunakan oleh RS Pertamina Jaya dan Lembaga Eijkman. (*/rihadin)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *