oleh

Sebanyak 300 Orang Ikuti Roadshow Gernas 1000 Startup Digital di Kota Tarakan

POSKOTA.CO – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI berkolaborasi dengan Dinas Komunikasi Informatika, Statistik dan Persandian (DKISP) Kota Tarakan dan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kalimantan Utara menggelar Roadshow Gerakan Nasional 1000 Startup Digital dengan tema “The Digital Frontier: Navigating the Challenges of Starting a Tech Startup” di Aula RSUD Dr. H. Yusuf SK, Tarakan, Kalimantan Utara pada Kamis (25/5/2023). Kegiatan dihadiri lebih dari 300 peserta.

Roadshow Gerakan Nasional 1000 Startup Digital merupakan seminar publik untuk memperkenalkan definisi startup sekaligus sebagai upaya membangun pola pikir kewirausahaan di masyarakat. Kegiatan ini terbuka untuk umum, terutama dari kalangan mahasiswa, wirausahawan, dan para pegiat startup.

Sekretaris Daerah Kota Tarakan, H. A. Hamid, SE saat membuka kegiatan mengimbau kepada masyarakat untuk memahami peran startup di sektor kewirausahaan dalam menciptakan lingkungan bisnis yang dinamis. “Startup dapat menjalankan peran pentingnya sebagai penunjang pertumbuhan ekonomi, dan pemerintah dapat menjalankan peran pentingnya dalam mendukung pertumbuhan startup dengan menciptakan ekosistem bagi pengembangan wirausaha di Kota Tarakan,” tegas Hamid.

Roadshow diawali dengan Pengenalan Program Gerakan 1000 Startup Digital oleh Yuricha selaku Regional Operational Manager Gerakan 1000 Startup Digital Hub 5. Yuricha menyampaikan bahwa program 1000 Startup Digital sudah diinisiasi sejak tahun 2016 dan memiliki tiga fokus program. Pertama, mengembangkan talenta startup digital supaya Sumber Daya Manusia yang ada di daerah itu dapat ditingkatkan kualitasnya.

“Kedua, kita ingin mendorong terciptanya solusi-solusi baru dari permasalahan yang ada. Dan yang ketiga, kita ingin membangun ekosistem startup digital yang kolaboratif dan juga inklusif,” jelas Yuricha.

Dilanjutkan sesi seminar publik dengan materi Perjalanan Membangun Startup yang dibawakan oleh Founder dari startup Mada.id, Fajar Irvan Setyawan. Sebagai salah satu alumni 1000 Startup Digital di kota Pontianak tahun 2017, Fajar berbagi pengalaman saat timnya membangun startup Mada.id.

“Mungkin ada yang takut tidak punya ide dan tidak punya tim. Saat itu, kita (tim Mada.id) sama sekali tidak mengenal tim saat ini, dan tim ini kami kenal di networking 1000 Startup dari berbagai background. Dan ide (inovasi) juga brainstorming di 1000 Startup. Dari fase yang menurut kita cukup berani itu, kita dapat banyak sekali wawasan, networking tentang dunia baru di dunia startup, sehingga di bidang logistik kita bisa berkembang lebih baik dan mengangkat kesempatan-kesempatan lainnya,” ungkap Fajar.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Kepala Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Ganang Suryo Anggoro menyampaikan bahwa inovasi yang telah disusun bukanlah hal yang sempurna atau seperti istilah ‘one fit for all’, sehingga diperlukan perubahan pola pikir. “Nah, kembali lagi ke mindset. Kalau kita melihat masalah, gampang saja kita menyampaikan kritik ke pemerintah. Mindset ini yang harus diubah. Harus mulai mengubah pola pikir dari ‘apa’ menjadi ‘bagaimana’, dari ‘kenapa’ menjadi ‘bagaimana’,” tegas Ganang.

Sesi selanjutnya adalah diskusi panel bertema “Rombak Pola Pikir: Permasalahan Sosial Menjadi Solusi Produk” yang dihidupkan dengan pertanyaan-pertanyaan dari peserta kegiatan mengenai bagaimana teknologi dapat menyelesaikan masalah atau isu sosial di sekitar mereka. Diskusi diisi oleh Sub Koordinator Kerjasama Kegiatan 1000 Startup Digital, Muhammad Faisal; Manager Unit Implementasi Kebijakan Sistem Pembayaran Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Yudha Pradana; dan ketua STMIK PPKIA Tarakanita Rahmawati, Endyk Noviyantono.

Yudha Pradana memantik diskusi dengan menyampaikan bahwa indeks literasi keuangan dan ekonomi digital masyarakat Kota Tarakan cukup tinggi se-Indonesia, namun masih pada level konsumtif, sehingga perlu dilakukan perubahan pola pikir agar mencapai level produktif. Yudha melanjutkan, Kalimantan Utara masih memiliki isu-isu yang dapat menjadi peluang usaha. “Masalah atau krisis itu sama dengan peluang, jadi kita harus melihat permasalahan ini sebagai peluang, sebagai kesempatan untuk berkembang. Teman-teman disini sudah paham cara menemukan ruang yang bisa jadi peluang usaha, tinggal bagaimana nanti mengembangkannya,” tuturnya.

Endyk Noviyantono sebagai akademisi turut memperkuat diskusi tentang bagaimana startup dapat menyelesaikan masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat. “Mengutip dari Naveen Jain, ‘An entrepreneur is not a person who starts a company, but he’s a person who actually solves the problem’. Artinya, startup itu dibuat untuk menyelesaikan masalah, misal Gojek (ojek online). Ojek sudah ada, tapi kemudian kita tingkatkan menjadi sebuah inovasi berbasis IT,” jelasnya.

Muhammad Faisal juga memberikan pendapatnya tentang bagaimana startup memberikan efisiensi dari sebuah permasalahan. Faisal menganalogikan dari isu kesehatan, startup bisa memberikan solusi rantai bisnis dari sistem kesehatan, misal antrian pasien. “Orang kondisi sakit harus datang ke Rumah Sakit, antri pendaftaran, lalu ke loket, isi data, menunggu dipanggil, baru ke dokter. Kemudian mengantri lagi ke dokter umumnya, mengantri lagi di farmasinya. Dengan adanya startup, muncul Halodoc. Bisa konsultasi dari rumah, diberi resep obat, tinggal order dan datang obatnya. Gambaran dan impact dari startup bisa seluas itu, sebagian proses seperti potong antrian saja sudah memotong dan menyelesaikan masalah (efisiensi waktu),” tutur Faisal.

Di akhir diskusi, Faisal mendorong masyarakat untuk mengambil peran dalam pertumbuhan startup di wilayahnya. “Kita (Kemenkominfo) open apapun yang bisa membangun ekosistem digital, kita support agar ekosistem bisa bertumbuh dan selama itu relate dengan (tupoksi) yang Kominfo kerjakan, apapun bentuk propose-nya, kami terbuka untuk dikerjasamakan,” tutup Faisal. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *