oleh

Semakin Tinggi Kualitas Iman, Ujiannya Kian Berat (1)

KETIKA seorang mengalami kecelakaan, kelaparan, ketakutan secara pasti ia lalu menegaskan bahwa sedang ditimpa musibah.

Kecelakaan dan kelaparan yang melahirkan rasa sakit dinilai sebagai gambaran dirinya sedang diuji oleh Allah SWT.

Persepsi itu, tidak salah. Allah SWT, memang kadang sebagai rasa wujud rasa sayang pada hambanya, menguji dengan pelbagai musibah.

Manusia yang disayang Allah itu diingatkan oleh Allah lewat kecelakaan dan bentuk rasa sakit lainnya.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah : 155).

Jangan lupa, semakin tinggi kualitas iman seseorang, ujiannya semakin berat, Ibarat pohon, makin tinggi pohon itu, makin deras hentakan anginnya.

Tetapi, benarkah ujian Allah itu, hanya berbentuk rasa sakit, seperti kecelakaan, kehilangan barang yang disayangi, ditimpa kemalangan dan bentuk-bentuk rasa sakit lainnya?

Ini mungkin, yang kadang lupa dimengerti oleh sebagian ummat Islam. Seakan yang namanya ujian Allah itu, hanya pelbagai bentuk rasa sakit.

Sebenarnyalah, ketika anda sedang mendapat kesempatan menikmati mobil mewah, anda sedang diuji oleh Allah SWT.

Ketika anda, begitu mudah mendapat rezeki, anda sedang dipantau oleh Allah SWT. Kenikmatan dunia yang anda peroleh, yang sering melelapkan, juga merupakan ujian Allah SWT.

Anda dan mungkin juga saya, kadang sangat mudah dan bisa lulus dengan nilai memuaskan saat diuji dengan musibah.

Ketika anda sedang mengalami kecelakaan, anda bisa jadi ingat Allah dan merasa bahwa Allah sedang menguji anda.

Tetapi, sangat sulit dan jarang sekali, orang ingat Allah ketika sedang mereguk kenikmatan.

Saat anda sedang bergelimang uang dan harta yang terbayang pada anda, bukan bagaimana anda menyisihkan sebagian harta yang anda miliki, untuk fakir miskin ataupun anak yatim.

Bisa jadi, yang terpapar di depan mata, rentetan kebutuhan seperti mobil, kulkas , televisi, rumah mewah dan bentuk kenikmatan dunia lainnya.

Ketika anda sedang berada dipuncak keberhasilan, bisa jadi, yang terbayang pada anda, bagaimana anda mengisi hari libur ke Paris, ketempat rekreasi air terjun niagara, Tanah suci Makkah dan Madinah, kadang tak terlintas sedikitpun.

Sungguh, ujian Allah lewat harta, sebenarnya jauh lebih berat ketimbang ujian kemiskinan.

Orang bisa jadi, siap jadi miskin dan bisa lolos dari ujian Allah serta tetap taat kepada Allah. Tetapi, belum tentu ia, tahan uji dengan harta, jabatan dan pelbagai kenikmatan lainnya.

Konon tokoh wara’ dan alim, Abu Dzar Al Giffari, pernah meminta sedikit kenikmatan duniawi kepada Rasulullah SAW.

Namun, dengan penuh kasih Rasul menolaknya dengan pertimbangan, Rasul lebih senang melihat keadaan Abu Dzar sekarang, karena terlihat ketaatannya yang luar biasa kepada Allah SWT.

Masih ingat tokoh miskin Tsa’laba, yang meminta agar Rasul mendo’akannya agar dikaruniai rezeki yang berlimpah?

Rasul awalnya menolak. Namun, tokoh itu meminta berulang-ulang, Rasul akhirnya memenuhi permintaan itu.

Namun, dugaan Rasul ternyata tidak meleset. Tokoh miskin yang berubah menjadi jutawan itu, yang awalnya begitu taat kepada Allah, tiba-tiba tidak pernah lagi muncul di masjid.

Allah tak ada lagi, dalam bayangnya. Masjid yang dekat menjadi jauh. Harta yang melimpah menutupi jalan menuju masjid. (Bersambung bagian 2)

Wallahu a’lam bis shawab

Aswan Nasution

Penulis Aktivis Al Washliyah Prov. Nusa Tenggara Barat (NTB).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *