MANUSIA benar-benar dapat merasakan kebahagiaan hidup dan ketenangan jiwa di saat ia mengadakan komunikasi dan kontak huhungan dengan Tuhan-Nya.
Sehingga Nabi Muhammad SAW bersabda kepada bilal; “Hai Bilal (panggillah manusia dengan adzan), sehingga aku akan terhibur dengan shalat.”
Malahan dalam hadits yang lain beliau bersabda: Qurratu ain fis-shalati…Salat adalah buah hatiku.”
Dengan salat, manusia akan merasakan ketenangan jiwa. Dengan salat manusia akan selalu berada di bawah bimbingan dan tuntunan Allah Subhana Wa Ta’ala.
Berarti segala aspek kehidupan manusia harus selalu ditujukan agar tetap “sujud” di hadapan Allah Subhana Wa Ta’ala.
Di tengah-tengah kesibukan kerja, manusia tetap membutuhkan bimbingan Ilahi, maka segeralah menghadapkan jiwa dan raga kepada Pemilik Kehidupan Allah Subhana Wa Ta’ala.
Sewaktu manusia beristirahat di malam hari, maka seluruh persoalan kehidupan diserahkan kepada pemilik kehidupan, Allah Subhana Wa Ta’ala.
Apalagi dalam tidur, manusia tidak akan berdaya ketika datangnya secara tiba-tiba bencana, musibah dan lain sebagainya.
Tiada lagi tempat manusia memohon perlindungan kecuali kepada Allah semata. Dia-lah yang Maha Menjaga dan Maha Kuasa atas segala sesuatu di atas dunia ini.
“Dan minta tolonglah kamu dengan tetap bersabar dan melaksanakan salat. Dan sesungguhnya hal demikian itu sangatlah berat, kecuali bagi mereka yang khusyu.” (QS. Al Baqarah : 45).
Dengan demikian dijelaskan betapa Islam telah menetapkan waktu salat siang dan malam dengan maksud agar seorang muslim dalam kegiatan sehari-hari tetap merasakan kehadiran Tuhan Yang Maha Kuasa Allah Subhana Wa Ta’ala.
Dia selalu bersamanya setiap waktu. Dialah yang tetap membimbing, memelihara dan mengawasi manusia dimanapun manusia berada.
Seorang muslim dalam mengisi waktunya setiap hari tidak dapat melupakan Allah Subhana Wa Ta’ala walau se-detikpun.
Baik sewaktu berada di kantor, di sawah, di pabrik, dan tempat-tempat kegiatan dan aktivitas lain sebagainya.
Dengan demikian, seorang muslim harus tetap melaksanakan ajaran dan perintah Allah Subhana wa ta’ala dimanapun dan kapanpun, di setiap tempat dan waktu, bukan hanya sewaktu ia berada di masjid saja tetapi dalam seluruh kegiatan dan kehidupannya.
Manusia yang beriman haruslah selalu “bersujud” kepada-Nya dalam setiap aktivitas kehidupan dan dalam setiap waktu, di manapun ia berada.
Sehingga dalam hadits disebutkan, “Setiap jengkal tanah adalah tempat bersujud”. (fi kulli ardhin masjidun).
Wallahu a’lam bish shawab.
Aswan Nasution
*Aktivis Al Jam’iyatul Washliyah Wilayah Indonesia Bagian Tengah-Lombok-NTB).







Komentar