JAKARTA – Pemprov DKI Jakarta mendorong para pengelola gedung di Ibukota untuk memanfaatkan rooftop sebagai lahan bercocok tanam. Tujuan utama mewujudkan program urban farming bukan dari hasil panennya, melainkan lebih memprioritaskan pada upaya antisipasi perbaikan udara.
Rooftop atau atap gedung yang terbuka, bisa dimanfaatkan untuk kegiatan urban farming atau pertanian kota, dengan cara menanam sayuran, tanaman hias, maupun pohon buah. Media tanam bisa dilakukan di dalam pot atau langsung menggunakan tanah ditaruh di dak rooftop yang umumnya terbuat dari cor beton. Kegiatan yang tampak sepele ini banyak manfaatnya.
Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono menyatakan kegiatan urban farming, tidak hanya memanfaatkan lahan kosong atau lahan nganggur di gang sempit. “Namun juga bisa diterapkan di atas bangunan gedung,” kata Heru kepada wartawan di Jakarta, Selasa (13/8). Daripada atap gedung kosong begitu saja, lebih baik dibangun taman atau kebun. Kalau tanamannya sudah tumbuh subur, mampu menangkal panas matahari sehingga menurunkan suhu udara di lingkungan gedung.
Menurutnya, kalau semua pengelola gedung di Jakarta menerapkan urban farming di rooftop, maka akan memberikan kontribusi terhadap perbaikan udara. Heru memerintahkan kepada para walikota, camat, dan lurah serta SKPD terkait lainnya untuk mengajak masyarakat memanfaatkan rooftop nganggur menjadi kegiatan positif. Adapun jika ada hasilnya dari tanaman tersebut, misalnya sayuran atau buah-buahan bisa menjadi nilai tambah bagi pengelola.
Salah satu kegiatan urban farming di atap gedung sudah diterapkan di Pasar Mayestik, Jalan Tebah III, Kelurahan Gunung, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kegiatan ini sekaligus ikut berkontribusi menjaga ketahanan pangan. Saat ini, bagian rooftop Pasar Mayestik digunakan untuk kegiatan pertanian perkotaan.
PIC Green House Pasar Mayestik, Adi Haris mengatakan, kegiatan bercocok tanam di atap bangunan pasar ini sudah dilakukan sejak 24 Februari 2024 lalu. “Saat ini budi daya tanaman kita lakukan dengan teknik Biotech,” ujar Adi usai menyaksikan kegiatan panen sayuran dan cabai.
Adi menjelaskan, di lahan seluas 75 meter persegi ini, total ada 215 pohon cabai yang ditanam di dalam pot. Dalam satu pekan, rata-rata berhasil dipanen satu kilogram cabai. “Untuk hasil panennya kita manfaatkan sendiri atau dijual murah kepada pedagang di sini untuk bisa berkontribusi menjaga stabilitas harga,” terangnya.
Adi menambahkan, ke depan pihaknya akan berusaha melakukan pengembangan jenis tanaman lainnya seperti anggur, melon, dan semangka. “Kita berharap pemanfaatan lahan dengan kegiatan urban farming ini akan menjadi percontohan bagi pasar-pasar lain di bawah pengelolaan Perumda Pasar Jaya. Sehingga, ketahanan pangan juga semakin terjaga,” pungkasnya. (jo)
Teks foto: Kegiatan panen cabai di rooftop gedung Pasar Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.







Komentar