oleh

Jadilah Pencinta dan Penyeru Persatuan

DUA HAL yang merupakan bagian penting tujuan Islam: persatuan dan perdamaian. Islam adalah agama persatuan dan perdamaian. Tidak ada agama di atas permukaan bumi ini yang begitu menghormati keduanya dan berusaha menegakkannya sebagaimana Islam.

Seorang mukmin, sebagaimana agamanya, mencintai persatuan dan merindukannya. Jika dia melihat ada gerakan yang akan memecah belah persatuan maka dia akan tampil untuk menghancurkannya. Dia mencintai perdamaian dan merindukannya. Tetapi, jika dia melihat ada orang yang hendak mencemari dan menghancurkan negara dan nilai-nilai agamanya, dia pun mencintai peperangan dan merindukannya, bukan karena peperangan itu sendiri, melainkan untuk membela tanah airnya dan nilai-nilai serta ajaran yang diyakininya.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran, 3:103). Dan dalam firman-Nya yang lain disebutkan, “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah, 2:208).

Ayat ini merupakan perintah Allah yang nyata untuk berpegang teguh kepada agama yang diridhai-Nya. Yakni, menjaga dan mempelajarinya, meluruskan diri dan bersatu dalam memeluknya. Ayat ini juga merupakan peringatan dari Allah, agar kaum Muslimin tidak bercerai berai di dalam menganut agama Allah, karena persatuan adalah rahmat, sedang perpecahan adalah adzab. Pertolongan Allah juga senantiasa menyertai orang-orang yang bersatu padu, sebagaimana maksud sabda Nabi Saw.

Oleh karena asas-asas agama yang mulia ini dan asalnya terpateri dalam permufakatan, persatuan dan saling bantu membantu, maka berpecah belah dan tidak saling bantu membantu dalam upaya mendirikannya, tentu akan merendahkan derajat agama dan melemahkan keadaannya. Kini jelaslah, bahwa persatuan adalah pokok segala kebajikan dan kebaikan, sedang perpecahan adalah sumber segala kejahatan dan malapetaka.

Allah Swt. berfirman, “Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu.” (QS. Ali Imran, 3: 103).

Ayat ini merupakan perintah dari Allah Swt. untuk bersyukur kepada-Nya atas nikmat persatuan yang telah dikaruniakan-Nya. Yaitu tatkala permusuhan antara kaum Aus dan Khazraj telah mencapai puncaknya (kemudian mereka menjadi pembantu-pembantu Allah dan Rasul-Nya), dan permusuhan antara seluruh bangsa Arab umumnya. Pada masa itu, mereka saling berbunuh-bunuhan antara satu dengan lainnya. Mereka juga saling merampas dan menzalimi antara sesama sendiri, sehingga Allah mengutus Rasul-Nya dan menurunkan Kitab-Nya kepada mereka. Sejak itu, berkat rasul dan Kitab Al-Qur’an, mereka menjadi bersatu-padu, satu hati. Maka, segala bibit permusuhan dan dendam kesumat pun lenyap, segala rupa fitnah dan pembaikotan pun hilang. Bahkan mereka bertukar kulit menjadi saudara seagama, menyokong tugas-tugas Rasulullah Saw. dan mendukung syi’ar-syi’ar Allah Swt. Bukankah semua itu disebabkan oleh nikmat Islam?.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Dari Ummi Kultsum binti ‘Uqbah bin Abi Mu’aith r.a., ia berkata: Saya pernah mendengar Rasulullah Saw, bersabda, “Bukanlah pendusta orang yang menciptakan perdamaian di antara orang-orang, lalu ia berkata baik dan menyampaikan perkataan orang untuk kebaikan.”Kata Ummi Kultsum ”Saya belum pernah mendengar beliau memberi dispensasi tentang sesuatu yang dikatakan orang dusta, kecuali dalam tiga macam keadaan. Yaitu dalam peperangan, menciptakan perdamaian antara orang-orang, dan percakapan suami terhadap istrinya dan percakapan istri terhadap suaminya (yang tidak sampai merusak hak).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan mereka, kecuali bisikan dari orang yang menyuruh seseorang untuk bersedekah, berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian, karena mencari ridha Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. Annisa, 4:114).

Dalam firman yang lainnya dikatakan, “Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin, dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal. 8: 62-63).

Sebelum Allah mengutus Rasul-Nya, memang demikianlah, mereka berada di tepi jurang neraka. Yakni, disebabkan kekufuran mereka terhadap Allah Swt, dan penyembahan mereka terhadap berhala-berhala. Lalu, Allah menyelamatkan mereka dari kemusyrikan dengan mensyariatkan atas mereka pentauhidan kepada Allah dan beramal menurut petunjuk-Nya. Allah juga memerintahkan agar mereka mensyukuri segala nikmat dan karunia-Nya yang telah menyelamatkan mereka dari kesesatan dan mempersatukan mereka setelah berpecah belah. Disamping mengancam mereka agar menjauhkan diri dari sumber-sumber perpecahan dan salah paham itu, setelah mereka merasakan nikmat persatuan dan permufakatan.

Ketika menegaskan tentang pentingnya persatuan umat manusia, ajaran islam menekankan prinsip persamaan bagi seluruh ras, bangsa dan suku. Allah Swt. berfirman, “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti” (QS. Al-Hujuraat, 49:13).

Ajaran yang sama disampaikan oleh Rasulullah Saw. ketika menunaikan Haji Wada’, yang disaat itu beliau membacakan ayat tersebut lalu mengatakan, “Bangsa Arab tidaklah lebih baik daripada bangsa non-Arab. Tidak pula bangsa non-Arab lebih baik daripada bangsa Arab. Bangsa yang berkulit hitam pun tidaklah lebih baik daripada bangsa yang berkulit merah. Bangsa yang berkulit merah pun tidaklah lebih baik daripada bangsa yang berkulit hitam – kecuali dengan taqwa.”

Jadi, persatuan umat manusia mengharuskan adanya persahabatan melalui saling pengertian, bukan permusuhan akibat dari perbedaan. Islam menyerukan supaya umat manusia untuk mengimani semua Rasul Allah tanpa membeda-bedakan. Allah Swt berfirman, “Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata): “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” (QS. Al-Baqarah, 2:285).

Diperingatkan bahwa membuat diskriminasi dalam hal mempercayai para Rasul merupakan suatu tindakan kekafiran, dan bahwa mengimani mereka semuanya tanpa membeda-bedakan sama dengan memiliki keimanan sejati kepada Allah. Ini merupakan bukti universalitas ajaran Islam dan bukti bahwa Islam mengutamakan panggilan perikemanusiaan.

Sesungguhnya, perbedaan itu terletak dalam bentuk ibadat dan peraturan-peraturannya, menjadi berbeda-beda karena disesuaikan dengan kerangka berpikir setiap bangsa (Umat) serta disesuaikan dengan kebutuhan zaman dan tempat, hingga akhirnya diutuslah Penutup para Rasul untuk menyampaikan prinsip-prinsip asasi yang sesuai dengan setiap zaman dan tempat. Adalah fakta bahwa sudut pandangan yang tepat dan komprehensif ini merupakan pandangan yang khusus dianut oleh umat Muslim, dengan menyampingkan para pengikut agama-agama lain dan tata cara peribadatannya. Hal ini merupakan kehormatan yang diberikan oleh Allah Swt. kepada umat manusia, yang mempermudah jalan bagi terciptanya sikap saling menyayangi dan persaudaraan antara sesama manusia.

Jika masing-masing kita di suatu masyarakat merasa saling mengasihi serta terikat satu sama lain niscaya banyak dari permasalahan lingkungan maupun kegelisahan hidup yang kita hadapi akan dapat diselesaikan. Hal ini disebabkan mayoritas dari problema sosial yang muncul berasal dari perselisihan pribadi di antara kita yang kemudian merembet kepada timbulnya rasa marah, dendam, dan permusuhan.

Islam adalah agama yang sangat mendorong terciptanya hubungan baik di antara sesama kita. Salah satu tanda terbinanya hubungan yang baik antara seseorang dengan orang lain adalah orang tersebut merasa suka atau senang jika saudaranya itu mendapatkan kebaikan sebagaimana dirinya juga suka mendapat kebaikan. Demikian juga, jika saudaranya itu mendapat kesulitan, maka dia selalu siap di sampingnya untuk membantu. Selain itu, apabila terjadi perselisihan di antara saudaranya maka dia berusaha mendamaikan. Jika masing-masing kita berperilaku seperti itu maka dapat diyakini akan muncul pribadi-pribadi yang baik dan selanjutnya mengarah kepada terbentuknya masyarakat yang bersatu padu, yaitu yang kokoh laksana satu tubuh. Apabila satu bagian menderita sakit, maka yang lain juga akan ikut demam dan merasa gelisah.

Rasulullah Saw. bersabda, “Jauhilah (kata-kata yang berupa) prasangka karena sesungguhnya dia merupakan ucapan yang paling banyak mengandung kebohongan. Janganlah kalian saling berusaha mencari tahu aib orang lain, saling memata-matai gerak gerik orang lain, saling iri dengki, dan saling membelakangi serta saling membenci. Akan tetapi, jadilah kalian hamba-hamba Allah Swt. yang bersaudara.” (HR. Bukhari). Dalam hadits yang lain Beliau bersabda, “Muslim yang lain adalah saudara bagi masing-masing kalian. Oleh karena itu, berbuat baiklah terhadap mereka, damaikanlah apabila terjadi perselisihan di antara mereka, minta tolonglah kepada mereka terhadap hal-hal yang tidak dapat kalian hadapi, serta bantulah mereka dalam menghadapi hal-hal yang tidak mampu mereka atasi.” (HR. Ahmad).

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Yang banyak mencela, yang kian kemari menyebar fitnah.” (QS. Al-Qalam, 68:11). Mengadu domba adalah menyebarkan sesuatu yang tidak disukai pihak lain. Perbuatan mengadu domba akan menyebabkan tumbuhnya dendam dan retaknya huhungan antara kita. Khalifahur Rasidun yang ke IV, “Kamu harus menjauhi perbuatan mengadu domba. Karena, perbuatan itu akan menumbuhkan kedengkian dan menjauhkan diri dari Allah dan manusia.”

Dalam firman-Nya yang lain disebutkan, “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.” (QS. Hud, 11:118)

Pada dasarnya Allah Swt menyeru umat manusia kepada kesatuan kalimat. Akan tetapi, perselisihan di tengah umat manusia adalah suatu realitas hidup yang senantiasa ada pada setiap waktu. Perselisihan adalah alat ujian antara sebagian manusia dengan sebagian yang lain. Perselisihan muncul dari perbedaan pemahaman di antara manusia. Dan, hawa nafsu mempunyai peranan penting di dalam perselisihan dan pertentangan.

Benar bahwa Rasulullah Saw telah bersabda, “Perbedaan di antara umatku adalah rahmat.” Namun, perlu diingat bahwa perbedaan yang dimaksud oleh Rasulullah saw di sini adalah perbedaan yang akan mendorong individu dan umat ke arah kemajuan, melalui penemuan pendapat-pendapat yang benar. Perbedaan beginilah yang mendatangkan rahmat, bukan perbedaan yang mengoyak-ngoyak kesatuan dan persatuan umat dan menumbuhkan fitnah di mana-mana. Wallahu A’lam bish shaawwab.

Drs.H.Karsidi Diningrat, M.Ag

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung
* Wakil Ketua Majelis Pendidikan PB Al Washliyah.
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.