oleh

Hati-hati dan Waspada Terhadap Semangat Setan

SETAN adalah musuh abadi manusia yang tidak akan pernah berhenti berusaha menjerumuskannya ke kubangan keburukan. Oleh sebab itu, Islam mengajarkan agar masing-masing kita selalu bersikap waspada.

Banyak penyimpangan yang dilakukan manusia, walaupun tidak seluruhnya, bersumber pada dominasi kekuatan setan pada akal manusia. Cukup untuk menjadi bukti atas hal itu adalah bahwa Iblislah yang telah menyebabkan Adam dan Hawa dikeluarkan dari Surga.

Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman, “Ia (Iblis) berkata, “Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Al-Hajr, 15:39).

Itu dilakukan dengan cara membuat nampak indah dihadapan keduanya perbuatan memakan buah pohon terlarang. Setan mengiasi perbuatan manusia sehingga nampak indah dihadapannya dan membuatnya merasa kagum dengan perbuatannya. Terkadang juga setan membisikan rasa waswas dan ragu pada diri manusia, dan meniupkan rasa permusuhan antara diri kita dengan orang lain. Jadi, terjadi pertempuran, yang tingkat kesengitannya berbeda-beda antara satu orang dengan orang lain, antara kekuatan setan dengan kekuatan akal. Jika kekuatan akal yang menang maka manusia berada di jalan hikmah, namun jika kekuatan setan yang menang maka manusia berada di jalan kesesatan.

Setan tidak hanya masuk ke dalam diri manusia melalui cara-cara yang menyimpang dan perbuatan-perbuatan yang tercela, seperti meminum khamar, zina, judi, dan yang serupa lainnya, melainkan juga melalui perbuatan-perbuatan dan hal-hal baik yang dilakukan manusia. Misalnya, setan masuk ke dalam hati manusia melalui ketinggian ilmu yang dimilikinya. Setan datang dan membisikan ke telinganya, “Wahai manusia! Engkau orang alim. Engkau mempunyai kedudukan yang tinggi dalam keilmuan. Kenapa engkau bersikap tawaduk kepada orang lain? Justru merekalah yang harus bersikap tawaduk kepadamu. Tidak masuk akal jika kamu harus melayani mereka. Justru merekalah yang harus melayanimu. Apa saja yang kamu perlukan, cukup beri perintah kepada mereka. Kamu cukup duduk-duduk saja ditempatmu!.

Kadang-kadang setan masuk kedalam diri kita melalui amal jihad dan perjuangan (berbagai kedudukan dan kelebihan) yang telah dilakukan oleh kita. Setan berkata, “Wahai Engkau! Engkau seorang mujahid. Engkau memiliki pengalaman perjuangan yang hebat. Orang-orang tidak boleh memperlakukanmu seperti orang biasa. Jika engkau pergi ke masyarakat, dan berjumpa dengan orang banyak, jangan engkau memberikan salam terlebih dahulu kepada mereka. Merekalah yang harus terlebih dahulu memberikan salam kepadamu. Jika mereka mengucapkan salam kepadamu, angkatlah kepalamu dan jawablah dengan ucapan yang menunjukkan bahwa engkau memiliki kedudukan yang tinggi, sementara orang lain lebih rendah kedudukannya darimu.

Hati-hati dan waspada, jika manusia tertipu dengan penghiasanan setan, maka kita akan tertimpa penyakit sombong dan takabur. Kita akan bersikap sombong kepada sesama kita dan memperlakukan orang lain seperti hamba sahaya. Atau, mungkin kita akan meremehkan mereka dan memandangnya dengan sebelah mata. Setan adalah musuh utama manusia yang paling sengit. Tujuannya tidak lain adalah untuk merusak kemanusiaan kita sebagai manusia. Setan akan menyusup dari lobang mana saja yang memungkinkan dia masuk.

Hal ini disebabkan setan dan bala tentaranya yang memang telah berkomitmen untuk terus memperdaya manusia tak akan pernah jera menggoda nya. Makhluk terkutuk ini senantiasa menyelami batin manusia laksana aliran darah di dalam tubuh. Sasarannya adalah menjadikan manusia ragu-ragu terhadap kebenaran, sebagaimana dalam Sabdanya, “Sesungguhnya setan itu merasuk (masuk) di dalam diri manusia seperti aliran darah dan saya khawatir jika ia sampai membisikkan sesuatu yang buruk (atau dalam riwayat lain, “sesuatu”) ke dalam hati kalian.” (HR. Ahmad).

Dalam hadits yang lain Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya setan itu seperti serigala bagi manusia. Ia adalah serigala bagi domba-domba yang selalu memangsa domba yang terpisah dari kelompoknya. Oleh karena itu, janganlah kalian sampai berpecah belah sebaliknya hendaknya selalu berjamaàh dan bersatu.” (HR. Ahmad).

Semangat setan sering kali dilancarkan dengan cara membisikkan pertanyaan-pertanyaan dan pikiran-pikiran tentang sesuatu hal yang terus bersambung di dalam hati dan pikiran hingga seseorang terpedaya oleh bujuk dan rayuan setan, sebagaimana dalam hadits disebutkan, “Setan akan mendatangi setiap orang di antara kalian seraya berkata, ‘Siapakah yang menciptakan langit?’ Orang itu menjawab, ‘Allah swt..’ Setan lalu melanjutkan pertanyaannya, ‘Siapa yang menciptakan bumi?” Dia juga nenjawab, ‘Allah swt.’ (Demikian terus berlangsung) sehingga akhirnya setan akan mengemukakan pertanyaan, ‘Siapa yang menciptakan Allah swt.?’ Jika ada di antara kalian yang merasa ada bisikan seperti itu maka hendaklah dia segera berkata, ‘Saya beriman kepada Allah swt. dan Rasul-Nya.'” (HR. Ahmad).

Dalam hadits lain dinyatakan, “Ketika azan yang merupakan panggilan shalat dikumandangkan maka setan akan langsung lari terbirit-birit seraya terkentut dengan keras. Jika azan telah selesai maka ia akan kembali (mendekat kepada manusia). Ketika iqamat dikumandangkan maka dia kembali menghindar dan baru mendekat kembali setelah selesai. Ketika (shalat telah dimulai), dia lalu membisikkan bermacam-macam hal ke dalam hati orang yang sedang shalat itu. Dia berkata, ‘Ingatlah ini dan itu.’ Setan terus membisikkan pikiran-pikiran seperti ini sampai akhirnya orang tersebut tidak inget lagi apakah dia sudah mengerjakan tiga rakaat atau empat. Dan jika salah seorang dari kalian mengalami kejadian seperti itu dan lupa apakah shalatnya masih tiga atau empat rakaat, maka hendaknya dia melakukan sujud sahwi sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari).

Dari Anas bahwasanya Usman bin Abu al-Ash mendatangi Nabi Saw seraya berkata, “Wahai Rasulullah, setan telah menjadi penghalang antara diriku dengan shalatku, dan ia juga mengacaukan bacaanku.” Nabi Saw. berkata, “Itu adalah setan yang dipanggil dengan nama Khanzab. Jika kamu merasakannya, berlindunglah kepada Allah Swt. darinya (membaca ta’awwudz) dan meludahlah ke arah kirimu tiga kali.” Abu al-Ash berkata, “Aku melakukan hal tersebut dan Allah Swt menghilangkannya dariku.” (HR. Muslim).

_Khanzab_ adalah setan yang tidak punya kerjaan selain merusak shalat kita dan menggagalkan kekhusyu’an kita. Ia mengawali pekerjaannya bersamaan dengan _takbiratul_ _ihram_ dan mengakhirinya bersamaan dengan salam, dan di antara keduanya akan terjadi rasa was was dan terputusnya jalan. Sehingga kita tidak berjalan menuju Allah Swt, tapi malah menjauh dari-Nya; tidak menambah keimanan kita, tapi malah menguranginya; tidak membangun hati kita, tapi malah membolak-balikkannya; dan berbagai hal lainnya sampai ia menyematkan di hati kita ingatan tentang urusan dunia yang tidak hadir di otak kita sebelum kita shalat. Kita akan disibukkan olehnya dan baru sadar saat imam mengucapkan salam sebagai bertanda berakhirnya, atau dengan kata lain, sia-sianya shalat kita.

Ketika iblis, bapak moyangnya setan diusir oleh Allah dari surga karena tidak mau menuruti perintah-Nya untuk bersujud kepada Nabi Adam a.s., setan berkata, “Wahai Rabb-ku, demi keagungan-Mu aku tidak akan berhenti dari menyesatkan anak Adam selama nyawa mereka masih ada pada tubuh mereka.” Perkataan setan itu dijawab oleh Allah Swt.: “Demi keagungan dan kebesaran-Ku, Aku tidak akan berhenti mengampuni mereka selama mereka meminta ampun kepada-Ku.” Hadits ini menerangkan tentang keutamaan ber-istighfar memohon ampun kepada Allah dari dosa-dosa. Betapapun besar dosa seseorang, apabila ia meminta ampun kepada Allah, niscaya Allah mengampuninya, kecuali dosa syirik (menyekutukan Tuhan).

Allah Subhanahu wa Taala telah berfirman, “Sekiranya Engkau memberi waktu kepadaku sampai hari kiamat, pasti akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil.” (QS. Al-Isrâ’, 17:62).

Adam benar-benar telah menyesali akan segala dosanya, maka Tuhan mengajarkan kalimat taubat kepadanya: “Maka Adam telah menerima beberapa perkataan dari Tuhan-nya (meminta ampun), maka Allah menerima taubatnya; sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang”. Al-Baqarah 37.

Salah satu karunia dan kasih sayang Allah kepada kita adalah Dia membukakan pintu tobat yang luas bagi kita, sehingga kita berada di dalam liputan karunia dan kasih sayang-Nya yang luas. Adalah kewajiban kita untuk menyesali kesalahan-kesalahan kita dan bertobat kepada-Nya dengan tobat _nasuha_ (tobat yang sungguh-sungguh). Janganlah kita memandang enteng dan menunda-nunda tobat.

Rasulullah Saw. telah bersabda, “Apabila kedurhakaan seorang hamba telah klimaks maka kedurhakaan itu menguasai kedua matanya, ia dapat menangiskan keduanya kapan pun ia kehendaki.” (HR. Ibnu ‘Addi melalui Uqbah ibnu Amir).

Seorang hamba yang ditakdirkan baik apabila kedurhakaan yang dilakukannya telah mencapai puncaknya, maka ia menyesali perbuatannya dan menangisinya serta segera bertobat tidak mau mengulangi perbuatan durhakanya lagi. Kemudian ia kembali kepada-Nya dengan mengerjakan amal-amal yang saleh.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Semua anak Adam pembuat kesalahan, dan sebaik-baik pembuat kesalahan ialah mereka yang bertobat.” (HR. Addarami).

Wallahu A’lam bish Shawabi.

Drs.H.Karsidi Diningrat, M.Ag

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung
* Wakil Ketua Majelis Pendidikan PB Al Washliyah
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *