JAKARTA – Universitas Budi Luhur (UBL) bersama Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti (YPBLC) mempertegas komitmennya dalam menciptakan lingkungan akademik yang inklusif, toleran, dan setara. Melalui kegiatan ‘INTERUNITY: Different Faiths. One Conversation’, kampus merangkul seluruh entitas civitas akademika untuk merawat keberagaman tanpa sekat SARA.
Ketua Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti (YPBLC), Julian Bongsoikrama, B.A., M.Sc., menegaskan komitmen institusi atas kesuksesan kegiatan ini. “YPBLC mendukung penuh kegiatan INTERUNITY. Ruang diskusi lintas agama seperti ini sangat penting agar keberagaman dapat terus dirawat tanpa diskriminasi, sekaligus menunjukkan bahwa Budi Luhur adalah rumah yang aman bagi semua,” ujarnya di Jakarta, Rabu (28/10).
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Studi Global (FISSIG) Universitas Budi Luhur, Dr. Lucky Nurhadiyanto, S.Sos, M.Si., menegaskan bahwa kampus harus menjadi ‘oase’ yang menyatukan berbagai latar belakang suku, daerah, dan agama di Indonesia.
“Kesetaraan dan keberagaman yang diterapkan di Universitas Budi Luhur merupakan pengejawantahan dari mandat Undang-Undang Dasar 1945. Identitas SARA maupun latar belakang keagamaan tidak boleh menjadi penghalang untuk menempuh pendidikan formal, apalagi menjadi bahan bakar konflik,” ujar Dr. Lucky.
Ia menambahkan, pihak kampus berkomitmen menyediakan wadah yang aman (safe space) bagi mahasiswa dan dosen, baik untuk menjalankan ibadah maupun beraktivitas sosial dan akademik. Hasil diskusi dari forum ini juga diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan (policy brief) bagi para pemangku kepentingan.

Kegiatan yang digagas oleh Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) UBL ini mengusung tema ‘Uniting for Equity: Uncovering Gender Justice in Religious Teachings’. Berlokasi di Auditorium Grha Mahardhika Bujana, Rabu (28/10/2026), acara ini menghadirkan dialog lintas enam agama untuk mengulas isu keadilan dan kesetaraan gender dalam perspektif keagamaan.
Sejumlah tokoh dan pemuka agama turut hadir sebagai narasumber, di antaranya:
• Islam: Ustadz Jojo Ali Yusuf
• Katolik: Romo Antonius Suhardi Antara, Pr.
• Konghucu: Js. Kristan, SE, M.Ag.
• Hindu: Prof. Dr. Yan Mitha Djaksana S.Kom., M.Kom.
• Buddha: Romo Dr. H.C. Drs. Handaka, Apt.
• Protestan: Pdt. Steve Marcel Saerang S.E., M.Th.
Melalui kehadiran para tokoh berpengaruh tersebut, Universitas Budi Luhur berharap langkah ini dapat menjadi role model bagi perguruan tinggi lain di Indonesia dalam menjadikan kampus sebagai benteng utama penjaga inklusivitas dan kesetaraan hak warga negara. (aga/jo)







Komentar