JAKARTA – Mahasiswa Institut Teknologi PLN (ITPLN) mengembangkan inovasi Arunika yakni alat pendeteksi banjir bertenaga surya. Alat tersebut dirancang untuk memantau kenaikan permukaan air secara real-time dan mengirimkan peringatan dini saat berpotensi membahayakan warga.
Inovasi ini menggabungkan sensor ultrasonik, alarm lokal, dan dashboard digital dalam sistem mandiri energi. Alat tersebut mampu mendukung mitigasi banjir di kawasan rawan genangan dan tetap beroperasi secara mandiri tanpa bergantung pada jaringan listrik utama.
Arunika merupakan singkatan dari Autonomous Renewable Unit for Networked IoT and Ketinggian Air. “Alat ini bisa diintegrasikan ke early warning system (EWS) yang telah dimiliki sejumlah instansi untuk memperkuat mitigasi penanganan bencana banjir,” salam satu anggota tim Inovasi Arunika, Ramos Rafael Nainggolan di Jakarta, Sabtu (24/10).
Sebagai kampus transisi energi yang ada di Jakarta, ia dan kawan-kawan membuat alat ini agar bisa memberikan dampak positif bagi Jakarta dalam penanganan banjir. Inovasi ini merupakan proyek mata kuliah Rangkaian Listrik yang digarap empat mahasiswa ITPLN, yakni Ahmad Hafidz Susanto sebagai ketua tim, Ramos Rafael Nainggolan, Muhammad Alvin Nurfansyah, dan Layta Nur Huda, di bawah bimbingan dosen pengampu Fasharani Fahmi Fauzian.
Ramos menjelaskan, Arunika menggunakan sensor ultrasonik untuk mengukur jarak permukaan air, kemudian mengirimkan data ke sistem pemantauan digital. Ketika ketinggian air mencapai ambang waspada atau bahaya yang telah ditentukan, perangkat memberikan peringatan melalui lampu LED dan buzzer.
“Informasi kondisi air juga ditampilkan melalui dashboard berbasis web yang menyediakan pemantauan, pengaturan ambang batas, dan riwayat perubahan ketinggian air,” ungkapnya. Keunggulan Arunika terletak pada penggunaan panel surya sebagai sumber energi. Perangkat ini dirancang dengan sistem mandiri energi (off-grid) dan dilengkapi baterai cadangan untuk mendukung operasional ketika pasokan energi matahari tidak maksimal.
Dosen pengampu Fasharani berharap Arunika tidak berhenti sebagai proyek perkuliahan, tetapi dapat dikembangkan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas, dan pihak terkait. Pemprov DKI Jakarta maupun pemerintah daerah lain yang menghadapi persoalan banjir diharapkan dapat melirik inovasi tersebut untuk diuji coba di sejumlah titik rawan.
Dengan penyempurnaan teknologi dan pengujian lapangan, Arunika berpeluang menjadi salah satu perangkat pendukung peringatan dini yang membantu masyarakat mengantisipasi kenaikan air lebih cepat. (jo)







Komentar