JAKARTA — Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita mencatat tonggak baru dalam pengembangan layanan terapi janin atau fetal therapy di Indonesia. Baru saja rumah sakit ini fetal surgery pada kasus mielomeningokel, yakni tindakan operasi terhadap janin yang masih berada di dalam Rahim ibu. Operasi ini mendapatkan pendampingan langsung dari ahli internasional Mater Mothers’ Hospital, Brisbane, Australia.
Tindakan tersebut dilakukan melalui kolaborasi antara tim multidisiplin RSAB Harapan Kita dan Mater Mothers’ Hospital. Pendampingan diberikan oleh Dr. Glenn Gardener, Director of Maternal Fetal Medicine and Obstetric Medicine, bersama tim dari rumah sakit ibu dan anak di Brisbane tersebut.
Pelaksanaan operasi ini menjadi salah satu langkah penting dalam pengembangan kemampuan Indonesia menangani kelainan bawaan pada janin sejak masih berada di dalam kandungan. Dengan pendekatan tersebut, penanganan tidak hanya dilakukan setelah bayi lahir, tetapi dapat dimulai sejak masa kehamilan ketika kondisi medis memenuhi kriteria untuk dilakukan tindakan.

Mielomeningokel sendiri merupakan salah satu bentuk kelainan bawaan yang terjadi akibat kegagalan penutupan tabung saraf pada tahap awal perkembangan janin. Kondisi tersebut menyebabkan bagian tulang belakang dan jaringan saraf tidak berkembang atau menutup secara sempurna.
Kelainan ini dapat menimbulkan berbagai dampak terhadap bayi setelah lahir, terutama gangguan fungsi saraf dan mobilitas. Dalam kondisi tertentu, mielomeningokel juga dapat berkaitan dengan hidrosefalus, yaitu penumpukan cairan di dalam rongga otak yang dapat menyebabkan ukuran kepala membesar dan memerlukan penanganan lebih lanjut.
Karena itu, intervensi sejak janin masih berada di dalam kandungan dikembangkan sebagai salah satu pendekatan untuk mengurangi risiko kerusakan saraf yang lebih berat.
Kelainan Bayi Diperbaiki Sebelum Lahir
Melalui fetal surgery, bagian yang mengalami kelainan dapat diperbaiki sebelum bayi dilahirkan. Tujuan utamanya adalah mengurangi paparan jaringan saraf terhadap lingkungan dalam kandungan sehingga diharapkan dapat menekan risiko komplikasi dan meningkatkan kemungkinan kualitas hidup serta kemampuan mobilitas anak di kemudian hari.
Namun, tindakan tersebut bukan prosedur yang dapat dilakukan kepada seluruh pasien dengan mielomeningokel. Pemilihan pasien harus melalui evaluasi yang ketat dengan mempertimbangkan kondisi ibu, kondisi janin, usia kehamilan, karakteristik kelainan, indikasi medis, serta kesiapan tim dan fasilitas pelayanan.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menjelaskan bahwa tindakan tersebut merupakan perjalanan panjang tim rumah sakit dalam mengembangkan layanan yang sebelumnya belum tersedia di Indonesia.
Ia menggambarkan bahwa pada kasus mielomeningokel, kelainan dapat dideteksi ketika janin masih berada di dalam kandungan melalui pemeriksaan ultrasonografi atau USG. Pemeriksaan tersebut memungkinkan tim medis melihat adanya kelainan pada tulang belakang serta tanda-tanda yang dapat berkaitan dengan komplikasi lain.
Menurut Dante, salah satu konsekuensi dari kondisi tersebut adalah kemungkinan munculnya hidrosefalus. Penumpukan cairan dapat menyebabkan ukuran kepala janin membesar dan menjadi salah satu kondisi yang dapat dipantau melalui pemeriksaan selama kehamilan.
Setelah melalui proses skrining dan evaluasi, pasien yang memenuhi kriteria dapat dipertimbangkan untuk menjalani operasi. Dalam prosedur tersebut, ibu menjalani anestesi dan dilakukan tindakan pembedahan untuk mengakses rahim. Setelah rahim dibuka, tim medis melakukan operasi terhadap janin yang masih berada di dalam kandungan.
Bagian tulang belakang janin yang mengalami mielomeningokel kemudian diperbaiki oleh tim dokter. Setelah tindakan selesai, janin tetap berada di dalam rahim dan rahim ditutup kembali sehingga kehamilan dapat dilanjutkan.
Kondisi Ibu dan Bayi dalam Keadaan Baik
Dante menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan setelah tindakan, kondisi ibu dan janin berada dalam keadaan baik. “Ini adalah operasi pertama di Indonesia,” ujar Dante dalam keterangannya, seraya menyampaikan harapan agar kemampuan tersebut dapat terus dikembangkan sehingga pada masa mendatang semakin banyak pasien yang memenuhi indikasi dapat memperoleh akses terhadap layanan serupa.
Pelaksanaan fetal surgery tidak hanya bergantung pada satu dokter atau satu bidang keahlian. Prosedur tersebut membutuhkan koordinasi berbagai disiplin karena tindakan dilakukan terhadap dua pasien sekaligus, yakni ibu dan janin.
Karena itu, proses proctoring bersama Mater Mothers’ Hospital tidak hanya dilakukan ketika operasi berlangsung. Pendampingan mencakup pembahasan kasus, penilaian kandidat, persiapan tindakan, koordinasi tim, hingga pemantauan dan tata laksana perioperatif.
Kolaborasi tersebut memungkinkan tenaga kesehatan Indonesia memperoleh pengalaman secara langsung dari pusat pelayanan yang telah memiliki pengalaman dalam bidang kedokteran maternal-fetal dan terapi janin.
Direktur Utama RSAB Harapan Kita dr. Reni Wigati, Sp. A. Subsp .ETIA (K) menyampaikan bahwa rumah sakit telah mempersiapkan diri untuk mengembangkan kemampuan tersebut secara berkelanjutan. Menurutnya, target pengembangan tidak berhenti pada keberhasilan melakukan satu tindakan, tetapi bagaimana layanan tersebut nantinya dapat berkembang dan memberikan manfaat lebih luas bagi pasien di Indonesia.
“Insya Allah bisa,” ujarnya ketika menyampaikan kesiapan rumah sakit untuk melanjutkan pengembangan layanan tersebut.
Ia menambahkan bahwa pengembangan terapi janin ke depan diharapkan tidak hanya terpusat di RSAB Harapan Kita. Rumah sakit juga berencana memperkuat jejaring dan meningkatkan kapasitas rumah sakit lain agar penanganan terhadap bayi dengan kelainan bawaan dapat dilakukan secara lebih luas.
Kembangkan Sejumlah Layanan Terapi Janin
RSAB Harapan Kita telah mengembangkan sejumlah layanan terapi janin
Ketua Tim Obsgyn RSAB Harapan Kita Dr. Gatot Abduurazak, Sp. OG-KFM mengatakan fetal surgery mielomeningokel bukan merupakan satu-satunya layanan terapi janin yang dikembangkan RSAB Harapan Kita. Sebelumnya, rumah sakit tersebut telah mengembangkan sejumlah prosedur fetal therapy untuk menangani berbagai kondisi medis tertentu pada janin.
Salah satunya adalah fetal shunt, yakni pemasangan selang khusus untuk membantu mengalirkan cairan abnormal dari bagian tubuh janin yang mengalami penumpukan cairan.
RSAB Harapan Kita juga mengembangkan Radiofrequency Ablation (RFA). Prosedur tersebut menggunakan panduan ultrasonografi untuk melakukan tindakan terhadap kondisi tertentu, termasuk kelainan aliran darah atau kasus tumor tertentu pada janin.
Selain itu, terdapat fetoscopic laser surgery, yakni tindakan menggunakan teknologi laser melalui pendekatan fetoskopi untuk menangani Twin-to-Twin Transfusion Syndrome (TTTS) pada kehamilan kembar.
TTTS merupakan komplikasi kehamilan kembar tertentu yang terjadi akibat ketidakseimbangan aliran darah antara janin. Kondisi tersebut dapat membahayakan salah satu atau kedua janin sehingga membutuhkan penanganan khusus.
Pengembangan berbagai layanan tersebut menunjukkan bahwa terapi janin mulai menjadi bagian penting dalam upaya memperluas pilihan penanganan kelainan pada masa kehamilan.
Meskipun menawarkan peluang penanganan lebih dini, fetal surgery diakui Dr Gatot, merupakan prosedur kompleks yang memiliki risiko dan tidak dapat dilakukan secara sembarangan.
“Sebelum tindakan dilakukan, pasien dan keluarga perlu mendapatkan penjelasan mengenai kondisi medis yang dihadapi, pilihan tata laksana, manfaat yang diharapkan, risiko prosedur, serta kemungkinan luaran bagi ibu dan janin,” ujarnya.
Seleksi Pasien
Proses seleksi pasien dilakukan secara multidisiplin. Kondisi ibu dan janin dievaluasi secara menyeluruh untuk memastikan bahwa manfaat yang mungkin diperoleh dari tindakan sebanding dengan risiko yang dapat terjadi.
Kesiapan fasilitas, kompetensi tenaga kesehatan, sistem pemantauan, serta kemampuan menangani komplikasi juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan prosedur.
Dengan pendekatan tersebut, fetal surgery diharapkan tidak diposisikan sebagai tindakan untuk semua kasus mielomeningokel, melainkan sebagai pilihan terapi bagi pasien tertentu yang memenuhi kriteria medis.
Kolaborasi RSAB Harapan Kita dengan Mater Mothers’ Hospital juga memiliki arti penting dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang kesehatan ibu dan anak.
Pengembangan teknologi medis tanpa diikuti peningkatan kompetensi tenaga kesehatan akan sulit menghasilkan layanan yang berkelanjutan. Karena itu, transfer pengetahuan melalui pendampingan ahli internasional menjadi bagian dari proses membangun kemampuan tim di Indonesia.
Selain dokter, pelayanan terapi janin melibatkan tenaga kesehatan dari berbagai bidang, termasuk dokter spesialis terkait, ahli anestesi, dokter yang menangani ibu dan janin, tenaga keperawatan, serta tim pendukung lainnya.
Pengalaman dalam satu kasus dapat menjadi dasar untuk membangun protokol, memperkuat koordinasi antardisiplin, dan meningkatkan kesiapan tim dalam menangani kasus-kasus berikutnya.
RSAB Harapan Kita juga menyatakan bahwa pengembangan kemampuan tersebut diharapkan dapat dilanjutkan dengan pelatihan dan kegiatan ilmiah sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada tim yang terlibat langsung dalam tindakan.
Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Kesehatan Lanjutan Kemenkes dr. Azhar Jaya SH, SKM, MARS menyampaikan pentingnya dukungan berkelanjutan terhadap rumah sakit dalam mengembangkan kemampuan tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan, serta berbagai inovasi medis.
Ia berharap pengembangan layanan yang telah dilakukan RSAB Harapan Kita dapat terus memperoleh dukungan, baik dalam aspek pembiayaan maupun peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Menurut Azhar, pengembangan layanan kesehatan membutuhkan dukungan yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fasilitas, tetapi juga pada peningkatan keterampilan dan kemampuan tenaga kesehatan. Hal tersebut menjadi penting agar rumah sakit mampu memberikan pelayanan dengan standar yang semakin baik dan mengikuti perkembangan teknologi kedokteran.
Ia menilai dokter dan tenaga kesehatan Indonesia memiliki kemampuan untuk mengembangkan layanan medis yang kompleks. Karena itu, penguatan kompetensi harus terus dilakukan melalui pelatihan, pertukaran pengetahuan, pendampingan ahli, serta pengembangan layanan secara bertahap.
“Skill kita tidak kalah. Saya yakin dokter-dokter Indonesia mampu dan bisa,” kata Azhar. (fs)








Komentar