JAKARTA – Pengamat Kebijakan Publik Sugiyanto baru saja menemui Fauzi Bowo di kediamannya kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Dalam pertemuan tersebut keduanya lebih banyak membahas masalah banjir dan berbagai isu yang berkaitan dengan masalah Jakarta.
“Kami berbincang hampir tiga jam di rumah Bang Foke, Selasa kemarin. Salah satu topik utama adalah tentang sistem pengendalian banjir, khususnya Banjir Kanal Barat (BKB) dan Banjir Kanal Timur (BKT) yang bisa difungsikan lebih maksimal,” kata Sugiyanto kepada wartawan di Jakarta, Rabu (18/6).
Sugiyanto melanjutkan Bang Foke menjelaskan bahwa BKB sesungguhnya merupakan proyek warisan zaman kolonial Belanda, dibangun pada tahun 1922 dengan tujuan utama mengalihkan aliran Sungai Ciliwung agar tidak membelah kota Batavia (Jakarta), melainkan dialirkan ke barat kota. Pada era Orde Baru, konsep ini dikembangkan kembali melalui Master Plan for Drainage and Flood Control of Jakarta tahun 1973, yang memperkenalkan konsep dua kanal besar yang mengelilingi Jakarta yakni BKB dan BKT.
Banjir Kanal Timur sendiri dibangun jauh setelah Banjir Kanal Barat. Pembangunan BKT dimulai pada awal November 2003. Proyek ini merupakan upaya untuk mengatasi masalah banjir di wilayah Jakarta Timur dan sebagian Jakarta Utara. “Pembangunan dimulai pada tahun 2003 dan rampung pada tahun 2010, tepat pada masa kepemimpinan Gubernur Fauzi Bowo (Bang Foke). Kanal ini berfungsi menyalurkan air dari kawasan selatan Jakarta menuju laut di bagian utara, sekaligus meminimalkan potensi banjir yang kerap melanda kawasan padat penduduk,” papar Sugiyanto.
Untuk memaksimalkan upaya penanggulangan banjir, Pemprov Jakarta membangun Sodetan Ciliwung yang telah resmi rampung pada Juli 2023. “Fungsi utama Sodetan Ciliwung untuk mengurangi risiko banjir di wilayah hilir Ciliwung yang mengalir menuju BKB, khususnya di kawasan Manggarai dan Kampung Melayu. Sodetan Ciliwung bekerja dengan cara mengalihkan sebagian aliran air dari Sungai Ciliwung ke BKT sehingga mengurangi beban air di sungai utama dan mencegah terjadinya luapan,” jelasnya.
Masalah banjir tidak dapat diselesaikan hanya dengan pembangunan kanal. “Dalam diskusi tersebut, kami juga membahas berbagai persoalan lainnya.
Topik yang kami bahas mencakup permasalahan topografi Jakarta, penurunan muka tanah, perubahan tata guna lahan, pembangunan folder-folder air, kenaikan permukaan air laut, sedimentasi sungai, pantai, dan pelabuhan, aliran 13 sungai serta berbagai faktor lainnya,” tandas Sugiyanto. (jo)
Sugiyanto dan Foke juga membahas salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang digagas oleh pemerintah pusat, yaitu Giant Sea Wall (GSW) atau tanggul laut raksasa di pesisir Jakarta. Program GSW ini tidak hanya sebagai upaya perlindungan pesisir dari ancaman rob dan naiknya permukaan air laut, tetapi juga sebagai potensi sumber penyediaan air baku bagi Jakarta. Saat ini, sumber air baku utama Jakarta berasal dari Waduk Jatiluhur yang terletak di Purwakarta, Jawa Barat. Waduk ini merupakan sumber utama yang menyumbang sekitar 80 persen dari total pasokan air baku PAM Jaya. Air tersebut menempuh perjalanan sepanjang 72 kilometer melalui Kanal Tarum Barat menuju Jakarta. (jo)








Komentar