POSKOTA. CO – Prof. Dr. Mala Nurilmala, S,Pi, M.Si, Guru Besar tetap, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB) University menegaskan, pemenuhan kolagen dan gelatin untuk kebutuhan dalam negeri masih mengandalkan impor.
Menurutnya pemakaian kolagen dan gelatin untuk industri pangan dan non pangan dan lebih dari 50 persen utamanya adalah kulit dan tulang babi, disusul dari kulit dan tulang sapi.
Namun sumber bahan baku tersebut dapat menimbulkan kekhawatiran bagi umat Muslim dan umat Hindu penganut kosher yang melarang untuk mengolkonsumsi babi, daging sampai dan olahannya.
Dalam pemaparannya, yang akan berorasi ilmiah pada Sabtu (16/7/2022) nanti, Prof Mala mengatakan, adanya penyakit sapi gila dan Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE) pada sapi juga menambah kekhawatiran konsumen dalam konsumsi olahan sapi.
Oleh karena itu, bahan baku ikan bisa menjadi alternatif dalam produksi kolagen dan gelatin ini.
Kolagen merupakan protein yang paling banyak ditemukan pada hewan dan manusia berfungsi membantu mempertahankan struktur berbagai jaringan dan organ.
Protein kolagen menyusun hampir sepertiga bagian dari tubuh vertebrata maupun invertebrata.
Tulang, kulit, sisik, dan gelembung renang ikan sangat potensial untuk bahan baku produksi kolagen dan gelatin.
Proporsi tulang, kulit, dan gelembung renang ikan menurut Prof Mala, dapat mencapai 30 persen dari total berat tubuh ikan.
Pada tubuh manusia, kolagen akan diproduksi secara teratur namun seiring berjalannya usia maka kemampuan tersebut akan menurun.
Adapun gelatin adalah kolagen yang terkonversi karena adanya perlakuan panas, asam, atau basa.
Produk ini jika direndam dalam air akan mengembang dan menjadi lunak, serta berangsur-angsur menyerap air hingga lima sampai sepuluh kali bobotnya.
Gelatin memiliki sifat larut air dan reversible dari bentuk sol ke gel, atau sebaliknya, dan juga dapat membengkak atau mengembang dalam air dingin.
Penggunaan kolagen dan gelatin sangat luas baik untuk industri pangan dan non-pangan seperti kosmetika dan farmasi.
Kolagen dan gelatin digunakan sebagai selongsong/chasing, pengemulsi, pengental, penstabil, pembentuk gel, dan pengikat air pada industri pangan dan non pangan.
Pada industri kosmetika, kolagen dan gelatin dimanfaatkan sebagai bahan sabun, masker, lotion, anti aging, dan produk kosmetik lainnya.
Mekanisme anti daging yang dimiliki dapat diawali dengan fungsi antioksidan, antiglikasi, dan inhibitor tirosinase,” kata Prof Mala kepada wartawan melalui zoom meeting Kamis (14/7/2022) pagi.
Adapun di bidang farmasi sebagai bahan cangkang kapsul keras dan lunak, serta pengikat tablet.
Menurut Prof Mala, potensi pengembangan industry kolagen gelatin ikan di Indonesia sangat tinggi mengingat luas wilayah Indonesia adalah 2/3 nya perairan dengan biodiversitas sumberdaya ikan yang tinggi dan industrinya terus berkembang, sehingga pengembangan industri kolagen gelatin akan berkontribusi pada pengembangan konsep blue economy yang memperhatikan keberlanjutan dan akan mendukung SDGs 3, 9, 12,14.
“By produk ini berkisar antara 30-50 persen. Tulang, kulit, sisik, dan gelembung renang merupakan sumber yang potensial untuk menjadi bahan baku kolagen gelatin,” kata Prof Mala lagi.
Upaya optimalisasi dan pengembangan bahan serta teknologi untuk produksi kolagen dan gelatin ikan terus dilakukan oleh orator dan tim.
Dari hasil kajian dan penelitian yang telah dilakukan, produksi kolagen gelatin ini memungkinkan untuk ditingkatkan produksinya pada skala industri di Indonesia.
“Tambahan lagi dengan menganeka ragamkan inovasi dalam aplikasi dan pemanfaatan kolagen dan gelatin ikan yang terus dilakukan akan menjadikan produk berbasis kolagen ini akan semakin luas pemanfaatannya,” paparnya.
Oleh karena itu, diharapkan akan tumbuh industrialisasi produk berbasis kolagen dan gelatin ikan ini sehingga dapat mengurangi ketergantungan impor pada negara lain dan dapat berkontribusi dalam penyerapan tenaga kerja dan kesejahteraan masyarakat.
“Masyarakat Indonesia akan nyaman menggunakan produk kolagen dan gelatin ikan ini karena sudah jelas kehalalannya,” kata Prof Mala. (yopi)







Komentar