POSKOTA.CO – Meski secara genetis Nandar tak punya hubungan dengan suku Indian, namun kecintaan Nandar terhadap suku Indian sangat mendalam. Bahkan ia mengaku menekuni bisnis ini tak sekadar mencari keuntungan. Romantisme hatinya terhadap suku Indian yang semakin lama semakin termajinalkan dan mendekati kepunahan membuat Nandar semakin empati terhadap penduduk pribumi asli Amerika ini.
Nandar memang mengaku belum pernah ke Amerika dan belum pernah bertemu dengan ‘sisa-sisa orang Indian’. Namun beberapa orang Amerika yang merasa empati terhadap keberadaan suku Indian banyak yang menjalin komunikasi dengannya, mereka terbentuk dengan sendirinya, semacam komunitas.
“Ada orang bule yang empati terhadap Indian datang kesini, lalu rajin mengirim buku-buku referensi tentang Indian dari Amerika. Suku Indian selalu menarik, banyak yang tidak diketahui orang, bahwa orang orang Indian itu disamping hidup menyatu bersama alam, juga sangat menjaga lingkungan alam dimana mereka hidup.
Mereka itu mengambil sesuatu dari alam secukupnya saja. Misalnya, mereka memburu Bison secukup kebutuhannya saja, dan tak ada yang sia-sia. Mulai dagingnya yang dimakan, selebihnya kulitnya, tulangnya, tanduknya tak ada yang dibuang, semua dimanfaatkan. Itulah hebatnya orang Indian,” terang Nandar.
Tak mengherankan ketekunannya untuk terus menambah pengetahuan tentang Indian membuatnya semakin akurat dalam melahirkan produk bisnisnya. “Saya memang ingin membuat sedetail dan seakurat mungkin, termasuk memahami filosofinya. Karena itu saya tak segan terjun langsung daam pembuatannya,” jelasnya.
Dari soal bahan kulit, misalnya, Parta Porte berusaha mendekati kulit asli binatang yang biasa dibuat suku Indian. Misalnya, ia tak bakal membuat asesoris dari kulit macan tutul, karena Macan Tutul tak ada di sekitar kehidupan suku Indian, yang ada Puma. “Kita mengikuti binatang yang ada dimana suku Indian, sejauh itu ada,” jelas Nandar.
Bicara soal kulit, Nandar mengatakan, kulit produk lokal Indonesia menurutnya sangat bagus kualitasnya. Ia menampik kalau ada yang mengatakan, kulit lokal mutunya dibawah kulit impor. Karena itu Nandar menggunakan bahan dari kulit lokal.“Kalau ada yang mengatakan kulit impor lebih bagus, itu semata-mata trick mereka karena ingin menaikkan brand produknya yang terbuat dari bahan kulit,” jelas Nandar.
Meski Parta Porte menggunakan kulit (lokal) berkualitas, namun harga produknya tak terlalu mahal, dalam artian jika dibandingkan dengan tas kulit lain non-Indian. “Yang terpenting terjangkau, karena saya tak semata menargetkan untung, ada misi lain,” jelas bapak tiga orang anak ini.
Sebagai produk yang unik, Nandar sadar ke depannya usahanya ini harus ada yang meneruskan dari generasinya. Menurutnya, ada anaknya yang tertarik untuk melanjutkan usahanya ini. “Saya tidak memaksakan, karena cara demikian tak bagus. Tapi memang ada anak saya yang tertarik dengan sendirinya,” jelas Nandar.
Di rumah produksinya, Parta Porte tak menolak jika ada orang yang memesan tas sesuai dengan keinginan kostumer, sekalipun tak berbau Indian,” Saya akan menerimanya. Tapi saya lebih senang kalau ada yang memesan tas bernuansa Indian, karena hal itu bisa jadi masukan ide buat saya,” tegas Nandar.
Usaha yang digeluti Nandar masuk dalam kategori UKM (Usaha Kecil Menengah). Namun menurut Nandar dirinya tak selalu ikut kegiatan atau event UKM, misalnya pameran atau event lain.”Harus dilihat targetnya jelas apa tidak? Saya juga pernah menolak diajak pameran di luar negeri, karena saya nilai targetnya tak tepat.
Bagi saya lebih baik buat menambah biaya jualan di Bandung, karena jelas targetnya,” katanya. Kalau mau menghubungi Parta Porte lantaran Anda tak sempat ke Cihampelas, bisa telpon ke 022-5203156 atau 5223917. Atau email ke partaporteart@bdg.centrin.net.id. Jargon Parta Porte adalah ‘Native’s American Art’.
Jika berada di rumah produksinya Anda bisa langsung melihat langsung pembuatan pernik-pernik Indian, juga patung-patung orang Indian, pernak-perniknya, kereta kudanya, foto-foto kepala suku Indian terkenal dalam bingkai pigura besar hitam putih. Suasananya seperti di kampung Indian, tak usah jauh-jauh ke Amerika….. (selesai).








Komentar