POSKOTA.CO – Tahun baru Islam atau tahun baru hijriah pada tahun 2021 saat ini jatuh pada tanggal 10 Agustus, namun tanggal merah (hari libur)-nya oleh pemerintah digeser ke tanggal 11 Agustus 2021 melalui Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Menpan RB nomor 712,1, dan 3 tahun 2021 tentang Perubahan Kedua atas Keputusan Bersama Menag, Menaker, Menpan RB Nomor 642,4 dan 4 tahun 2020 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama.
Menurut laman kemenag kebjakan tersebut diambil sebagai bagian dari upaya pencegahan dan penanganan penyebaran covid-19. Sebagai ikhtiar untuk mengantisipasi munculnya cluster baru, sehingga dipandang perlu dilakukan perubahan hari libur dan cuti bersama tahun 2021.
Penulis mencoba menafsirkan perubahan tersebut, mudah-mudahan tidak salah, jika tetap libur pada tanggal 10 Agustus 2021 yang pas kena hari selasa, dikhawatirkan para pegawai (khususnya ASN) akan memanfaatkan liburan tersebut menjadi libur panjang yang dimulai hari Sabtu, Minggu, + Senin dan Selasa.
Meskipun tanggal merahnya Selasa, seringkali sebagian ASN menerobos hari liburnya (menambah libur sendiri, baik melalui cuti, izin pimpinan atau mbolos) pada hari Senin-nya karena dianggap hari yang “kejepit”. Maka muncullah istilah nyeleneh tetapi sudah menjadi “rahasia umum” yang viral di kalangan pegawai jika ada hari yang kejepit seperti ini mereka menjulukinya sebagai “harpitnas” (Hari Kejepit Nasional), orang Jawa menyebutnya “nanggung”, orang Sulawesi mengatakan hari yang “sala-sala”.
Maka setiap terjadi “hari kejepit” seperti itu kebanyakan pegawai mengambil cuti atau minta ijin pimpinan untuk tidak masuk kantor. Dengan demikian, mereka cuti/izin 1 hari tapi bisa menikmati libur 4 hari (Sabtu, Minggu, Senin dan Selasa). Jika hari libur yang semestinya jatuh pada Hari Selasa digeser ke Hari Rabu, otomatis pegawai tetap harus masuk pada Hari Senin dan Selasa-nya, dan…tidak ada “harpitnas” lagi.
Libur ataupun tidak, moment Tahun Baru Hijriah tetap harus bisa dirasakan hikmahnya oleh umat manusia, khususnya keluarga muslimin yang banyak tinggal di Indonesia, bisa memaknai pergantian tahun ini sebagai moment penting. Tahun baru Islam disebut sebagai tahun baru hijriah, nama ini diambil dari peristiwa hijrah (pindah)-nya Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat dan pengikutnya, dari Kota Mekah ke Yatsrib (Kota Madinah).
Penetapan tahun baru Islam berdasarkan peristiwa hijrah tersebut terjadi pada era pemerintahan Umar bin Khatthab, dengan alasan peristiwa hijrah adalah peristiwa penting yang pernah terjadi di zaman Rasulullah/Muhammad SAW masih hidup.
Tercatat dalam sejarah atau shirah nabawiyah, bahwa untuk “menyelamatkan” kaum muslimin yang sudah beriman, Nabi Muhammad SAW mengambil keputusan untuk berhijrah ke Madinah. Peristiwa hijrah yang terjadi saat itu memiliki 3 makna sekaligus yakni, makna fisik, non-fisik/batin, dan reformasi/perubahan.
Makna secara fisik, tentunya Rasulullah berharap pengikutnya terselamatkan dari kejaran kafir quraiys yang saat itu kebenciannya tengah memuncak kepada Nabi dan para pengikutnya sehingga mereka mulai membabi buta untuk membunuh dan menghabisi umat Islam yang jumlahnya saat itu belum terlalu banyak.
Makna secara non-fisik atau makna batiniah dapat kita petik dari salahsatu Hadits Nabi Muhammad SAW tentang hijrah yang sangat populer yang bersumber dari Abu Hafsh Umar bin Khattab R.A bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya setiap amal tergantung dari niatnya. Dan sesungguhnya seseorang hanya mendapatkan dari apa yang dia niatkan.
Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju” (HR. Bukhari-Muslim).
Dalam sejarah diriwayatkan bahwa Nabi menyampaikan hadits tersebut setelah mendengar laporan dari sakahsatu sahabat bahwa ada salahseorang sahabat yang ikut dalam romobongan Nabi berhijrah tapi niat hijrahnya untuk “mengikuti perempuan yang mau dinikahinya(calon istrinya)”. Sahabat tersebut berhijrah bukan karena Allah dan Rasul-Nya. Mendengar hal itu, lalu Nabi menyampaikan hadits tsb.
Sebagian besar Ahli Hadits sepakat bahwa Hadits tersebut mengajarkan kepada kita bahwa dalam setiap beramal atau melakukan aktivitas (bukan hanya hijrah) hendaknya kita niatkan hanya untuk Allah dan Rasul-Nya, atau hanya untuk meraih Ridha Allah SWT dan mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah SAW. Hadits ini menjadi pedoman dalam beramal bagi setiap muslim, yang memiliki makna “batiniah” yang sangat dalam.
Apapun yang menjadi “niat” perbuatan kita, jika ditujukan bukan untuk Allah dan Rasul-Nya (satu paket yang tidak bisa dipisahkan), biasanya niatnya untuk tujuan dunia. Jika niat perbuatan kita untuk tujuan dunia, maka hasil dari perbuatan tersebut hanya sebatas umur dunia yang tentunya tidak langgeng.
Contoh lain, kita memberi sumbangan dengan memasukkan sejumlah uang ke dalam amplop dengan niat/harapan apalagi minta secara terus terus agar orang yang kita sumbang nantinya memilih kita saat pilcaleg, pilbup atau pilkades.
Dengan sumbangan tersebut, bisa jadi si penyumbang akan sukses menjadi anggota legislatif/bupati atau Kepala Desa. Tapi yang ia dapatkan hanya sekedar itu (menjadi anggota legislatif/bupati/kades), dan ia tidak mendapat nilai (pahala, ridho atau semacamnya) sedikitpun dari Allah SWT karena “niat”-nya tidak ditujukan kepada Allah SWT.
Kalau tidak diniatkan untuk Allah, mana mungkin tercatat oleh Allah. Allah SWT hanya mencatat niat seseorang jika niatnya ditujukan pada-Nya.
Mungkin ada yang bertanya, bagaimana dengan niat yang untuk Nabi Muhammad SAW? Bukankah Nabi Muhammad hanya manusia biasa? Jawabannya, Ya, Nabi Muhammad SAW adalah manusia biasa, tetapi Nabi Muhammad SAW adalah orang yang diberi kelebihan oleh Allah untuk bisa memberi syafaat kepada orang lain.
Berbicara syafaat penulis teringat dialog antara Bung Karno dan Prof. Kadirun Yahya yang ahli ilmu alam sekaligus seorang sufi yang sempat viral di medsos.
Di akhir dialog, Bung Karno menanyakan kepada sang Profesor “bagaimana agar kita dapat terhubung dengan Tuhan/Allah?” Prof Kadirun memberi jawaban “ (jika mau terhubung dengan Tuhan) harus mendapatkan frekuensi-Nya! Tanpa mendapatkan frekuensi-Nya tak mungkin ada kontak dengan Tuhan”. Dan untuk mendapatkan frekuensi Tuhan, lanjut Prof.
Kadirun Yahya, adalah “melalui dada Rasulullah!” Ia menjelaskan hadits qudsi yang artinya: “Bahwasanya al-Qur’an ini satu ujungnya di tangan Allah dan satu lagi di tangan kamu(Muhammad), maka peganglah kuat-kuat akan dia” (hadits dari Abi Syuraihil Khuza’ayya r.a.).
Prof Kadirun menyambung: “Begitupun dalam QS. Al-Hijr: 29 – “maka setelah Aku sempurnakan dia(Muhammad) dan Aku tiupkan di dalamnya roh-Ku, rebahkanlah dirimu bersujud kepada-Nya”. Sambung Prof. Kadirun, “Nur Illahi yang terbit dari Allah sendiri adalah tali yang nyata antara Allah dan Rasulullah. Ujung Nur Illahi itu ada dalam dada Rasulullah. Ujungnya itulah yang kita hubungi, maka jelas kita akan dapat frekuensi(terhubung dengan) Allah SWT.”
Sebelum menutup dialog, Prof. Kadirun juga sempat menjelaskan pertanyaan Bung Karno “Bagaimana cara menghubungkan kedua frekuensi tsb sementara Rasulullah SAW sudah wafat sekian lama?” Jawab Prof Kadirun: “Perbanyak sholawat atas Nabi tentu akan mendapatkan frekuensi beliau yang otomatis mendapat frekuensi Allah SWT!” Dalam hadits disebutkan “Tidak kukabulkan do’a seseorang tanpa shalawat atas Rasul-Ku. Do’anya tergantung di awang-awang” (HR. Abu Dawud dan An-Nasai). Oleh Prof. Kadirun diterjemahkan: “Tidak engkau mendapat frekuensi-Ku tanpa terlebih dahulu mendapat frekuensi Rasul-Ku!”
Mendengar jawaban Prof. Kadirun yang sangat gamblang, mulai dari pendekatan matematis, ilmu alam, hingga al-Qur’an dan hadits, sontak Presiden RI pertama (Bung Karno) berdiri sambil berteriak “You are wonderful!”. Rupanya jawaban tersebut baru Bung Karno dapatkan setelah ia cari-cari selama 10 tahun.
Keterangan dari Prof. Kadirun di atas cukup memberi penegasan bahwa posisi Nabi Muhammad, meskipun ia manusia biasa, sangat penting bagi umat manusia (apalagi lagi bagi orang-orang beriman) karena Nabi Muhammad memiliki posisi sentral yang dapat menghubungkan manusia lain dengan Tuhan/Allah SWT.
Dapatlah dimengerti sekarang, kenapa ada istilah “syahadataini” (dua kalimat syahadat) yang menyatakan “aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”? Kenapa ada kalimat tauhid “La ilaha illallah Muhammadur rasulullah”? Kenapa dalam setiap do’a kita awali dengan kalimat hamdalah (memuji Allah) dan shalawat kepada rasulullah? Juga kenapa niat dalam hijrah, seperti hadits Nabi di atas, juga harus untuk Allah dan Rasul-Nya?
Makna ketiga dari peristiwa hijrah adalah makna reformasi/pembaruan. Untuk masa depan dan/atau tujuan lebih baik seseorang harus berani mengambil langkah “hijrah”. Pindah dari satu tempat ke tempat lain. Tidak sedikit seseorang ingin mengubah nasib dia mengambil langkah hijrah dari tempat semula atau pindah secara fisik seperti yang dilakukan Nabi dan para sahabatnya berpindah dari Mekah ke Madinah.
Dari tinjauan psikologis, orang yang hijrah (= perantau) pada umumnya memiliki semangat lebih tinggi dari orang yang mukim (berdiam diri). Para perantau biasanya memiliki dorongan lebih kuat untuk menjadi lebih maju, mungkin karena ia tidak ingin kepergiannya hanya menuai sia-sia, sehingga niat berubah (reformasi)-nya begitu besar untuk meraih kesuksesan.
Disamping makna reformasi secara fisik (pindah tempat), yang juga tidak kalah urgennya adalah kita berhijrah untuk melakukan perubahan (reformasi) dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik, dari amal sayyi’ah ke amal mahmudah, dari dosa dan maksiat menuju taubat, dan takwa.
Karena hijrahnya Nabi Muhammad dan para sahabatnya, selain pindah secara fisik, hakikatnya juga sebuah reformasi dari kehidupan sebelumnya yang jahiliah (di Mekah) menuju kehidupan beriman dengan tatanan sosial yang madani (civil society), hidup dalam baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur.
Kiranya momen tahun baru hijrah kali ini, dimana covid-19 masih menghantui kita semua, penduduk bumi bisa berhijrah tidak hanya hijrah pada “new normal” secara fisik (pake masker, cuci tangan, jaga jarak, dll) tetapi juga hijrah secara batin dengan menyadari betapa Tuhan Maha Besar.
Manusia sangat kecil karena melawan virus yang keciiiill sekali (dan tidak terlihat saja) kita tak berdaya. Keberdayaan yang dimiliki kita, manusia dan penduduk bumi ini, sejatinya hanyalah kekuatan dari Allah semata-mata, “La haula wala quwwata illa billah” (= tidak ada daya dan kekuatan kecuali berkat pertolongan Allah SWT).*







Komentar