
POSKOTA.CO- Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Eko Daniyanto mengatakan, kelemahan aparat dimanfaatkan oleh para sindikat jaringan narkoba internasional untuk menyelundupkan barang haram tersebut.
Banyaknya bandara yang tidak memiliki keamanan standar, dan pelabuhan tikus membuat bandar narkoba leluasa bergerak. ” Banyak pelabuhan dan bandara yang memiliki keamanan yang tidak standar.Kita(Polda Metro Jaya) bekejasama dengan stackhloder yang memiliki kepedulian dalam pemberantasan narkoba,” kata Eko kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Kamis(13/11).
Ia mencontohkan, kasus lolosnya empat botol cuka apel dari bandara, dan bisa diungkap jajaran Direktorat IV Narkoba Polri.” Empat botol apel cuka dicampur air menineral lalu dipanaskan dengan suhu 80 derajat celcius.Kemudian, dianmgin-angin selama dua hari,nantinya akan mengkristal dan menjadi shabu,” ujar Dani.
Dani menjelaskan, selama dua bulan September hingga Oktober 2014, jajaran Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya telah mengungkap delapan kasus narkoba.
Didalam pengungkapan kasus tersebut petugas menyita barang bukti 19,3 kg shabu, 37.214 butir pil ekstasi, 1,03kg heroin, 3,8 gram ketamin dan 13,3 kg daun ganja kering.Kasus heroin melibatkan warga negara Nigeria, dengan mengontrak dua kamar. ” Warga negara Nigeria tersebut memesan dua kamar di Apartemen Kalibata City, Tower Akasi lantai 10 Nomor AM.
Tersangka menyewa dua kamar pertama untuk tempat tinggal, kamar satu lagi untuk gudang. Pertemuan kami dengan Polisi Malaysia disana 1 kg heroin seharga Rp 600 ribu.Tetapi kalau di kita(Indonesia) Rp 2 miliar,” ungkap Eko.
Eko menambahkan, untuk mengelabui petugas heroin tersebut dimasukan kedalam kardus susu. ” Bagaimana kita mengetahui kalau heroin tersebut dibungkus didalam kotak susu,” tandas Eko.(sapuji)







Komentar