oleh

PURNAMA PRAMBANAN ke- 62

Hangatnya seperti sinar mentari
Menjalari sudut-sudut ruang hati
Ruang Dingin dan gelap itu
Kini menjadi hangat dan terang

Wita saat berlibur ke Pulau Dewata
Wita saat berlibur ke Pulau Dewata

POSKOTA.CO – Tepukan mamanya memang mengagetkan Diana. Menghentikan perjalanan batin tentang sebuah kebahagiaan. Tepukan itu menghentikan sebuah perjalanan yang berujung pada pelabuhan. Ini nyata…ini pelabuhan yang jika kita berlabuh kalau dicubit akan berasa sakit!

” oohh….mama dan papa sudah bangun, kita bisa bersama-sama menyaksikan matahari terbit”

” Tidurkan bisa di rumah, disini kita mau menikmati keindahan alam. Sayang kalau sampai terlewat…”

Mama Retno menyahut dengan hangat dan lembut perkataan Diana. Papa Hary mengamini perkataan istrinya dengan tangan yang tak pernah lepas dari pinggangnya. Ajeng dan Asih memanggil Diana, mama dan papanya untuk bermain pasir sambil menikmati jingga yang semakin kentara.

” ayooo ma sini….basahi kaki dengan air laut biar kantuk dan lelahnya ilang”

Asih berteriak dengan lagu riang mengajak mamanya bermain pasar. Ajeng juga tak kalah seru dengan mengajak Papa Hary menikmati hangatnya air laut dalam bening pagi. Semua larut dalan kegembiraan menyambut hadirnya sang surya….

” hati-hati kalau ingin berenang. Ada bola terapung yang kita tidak boleh lampaui waktu berenang. Batas berenang kita sampai disitu”

” iya pa…kita hanya bermain-main disini saja kog. Takut juga berenang sampai sana”

Diana mengiyakan saran Papa Hary dengan rasa bahagia. Sebelumnya….tak pernah ada yang mengkhawatirkan dirinya selain Mbok Wongso, lalu Eyang Praja hadir belakangan membawa cinta yang sama. Sekelebat Diana ingat sebentuk cinta yang lain. …

Cinta yang dia kunci dan kuncinya dia patahkan sendiri. Cinta yang tidak meluka tetapi dia hadirkan lupa dalam benaknya….dalam gejolak kehidupan remajanya. Semua ia lakukan untuk mencari yang mengukir jiwa dan raganya.

Diana menunda romantisme remajanya untuk mencari mama yang bayang-bayangnyapun hampir sirna. Semua menghindar untuk berbicara tentang mamanya….tetapi ia memilih menemui dan menghadapinya. Sebuah tekad yang didasari hubungan batin, tak mungkin itu keliru walau harus menggerus batu!

(Bersambung..By : Wita Lexia.)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *