POSKOTA.CO – Diana sedikit kaget ketika Tante Dewi membangunkannya. Rasanya masih ingin tidur dan malas sekali untuk membuka mata. ” Diana sayang….bangun yaaa, kita sudaj hampir sampai di Stasiun Jatinegara”
Tantenya begitu menyayanginya, Ia memperlakukan Diana seperti anaknya sendiri. Selama bersama Eyang Praja dan Tante Dewi Diana hidup dalam kasih sayang dan dekapan hangat orang-orang yang sangat mencintainya. Matanya selalu berbinar, bibirnya selalu menyunggingkan senyum.
Ada sebuah rasa nyaman bersemayam dalam hatinya, rasa yang selama ini tak pernah ia kecap…walau sekejab. Ia bagai anak burung yang mencicit di dalam sarang yang hangat bersama dekapan sang induk….
Bergegas mereka berdua dan bersiap-siap untuk turun dari Kereta Api. Roda besi Kereta Api berderit menimbulkan bunyi yang tidak enak baik untuk telinga maupun rasa di hati. Kereta perlahan-lahan melambat lajunya dan akhirnya berhenti.
Mbak Dewi dan Diana berjalan menuju pintu yang letaknya persis di sebelah sambungan gerbong. Kereta Api tidak akan lama berhenti di Stasiun Jatinegara dan akan segara meneruskan ke Stasiun tujuan akhir yaitu Stasiun Gambir.
” Kita ambil taksi di luar saja Diana, abaikan saja tawaran taksi-taksi gelap. Hati-hati menjaga barang-barangmu sayang, banyak copet dan kuli yang memaksakan jasanya”
“Siiip….tante, Diana akan hati-hati”
Mbak Dewi menjaga keponakannya yang cantik dengan baik dan mewanti-wanti agar Diana berhati-hati begitu turun dari Kereta Api. Mbak Dewi begitu menyayangi keponakannya yang begitu telah tangguh menghadapi hidup bersama ibu sambungnya dan bapaknya selama ini.
Sebenarnya Mbak Dewi mengetahui kehidupan Diana yang membuatnya miris justru dari Mbok Wongso sewaktu di Rumah di Yogya. Diana tidak pernah bercerita apa lagi mengeluh, keponakannya termasuk tegar dalam menghadapi hidup bahkan selalu ceria?
Mbak Dewi memilih turun di Stasiun Jatinegara dan bukan di Stasiun Gambir karena rumah kakaknya di Kampung Ambon lebih dekat dari situ. Kampung Ambon adalah sebuah kampung yang padat penduduknya dan rapat letak rumahnya. Kampung tersebut tidak jauh dari sebuah perumahan mewah yang bernama Pulo Mas.
” Kampung Ambon bang….Jl Tener III, tidak jauh dari Pasar Ampera belok kanan kalau dari arah perempatan Mega”
Mbak Retno belum lama pindah di Kampung Ambon dan menempati sebuah rumah yang cukup besar untuk ukuran Jakarta. Suaminya, Pak Haryadi mengontrakkan sebuah rumah yang cukup bagus disitu.

Pak Haryadi adalah nama suami ke dua Mbak Retno. Beliau sosok suami yang cukup bertanggung jawab, mengurus Mbak Retno serta ke dua anak tirinya Ajeng dan Ratih dengan baik. Pernikahann memang tidak dicatatkan secara hukum negara tetapi Mbak Retno menerima syarat dan status tersebut!
Tidak banyak pilihan lain dalam hidup Mbak Retno pasca perceraiannya, yang penting ia punya tempat bersandar dan ada yang menghidupinya serta anak-anaknya. Beruntung Ia punya suami yang cukup adil membagi waktu dan perhatiannya…..
Ketika menikah dengan Pak Haryadi status Mbak Retno adalah janda kembang. Waktu itu ia masih muda dan sangat cantik. Tat kala mbak Retno yang sedang limbung menggoda Pak Haryadi, siapa yang tahan tidak memberikan pelukan hangat kepada Janda cantik serta molek tersebut?
Kasihan dan nafsu adalah dua hal yang tidak dapat dipungkiri oleh Pak Haryadi. Padahal ia termasuk laki-laki polos dan culum dalam kehidupan asmara. Buah dada yang montok serta kerling Mbak Retno yang tercipta dari matanyanya yang indah….meruntuhkan pertahanan Pak Haryadi. Yaaaa….ia jatuh di sudut kerling Mbak Retno!
Awalnya istri pertamanya mengamuk dan melabrak Mbak Retno ketika tahu Pak Haryadi mempunyai istri simpanan. Namun seiring berjalannya waktu dan lelah hidup dalam pertengkaran, akhirnya istri pertama Pak Haryadi masa bodo atau dengan kata lain menerima walau dalam keterpaksaan.
Justru sejak istri pertamanya menyerah, Pak Haryadi mulai mengatur segala sesuatunya dengan baik hingga sekarang. Berbagi dengan adil menurut pandangan manusia tentang keuangan dan waktu berkunjung.
Taksi berhenti ketika sudah sampai pada alamat yang di tuju. Diana tertegun ketika melihat ibunya membuka pintu pagar untuknya dan Tante Dewi. Ternyata Diana mempunyai mama yang sangat cantik dan awet muda. Mama lebih pantas menjadi kakaknya! (Bersambung. WITA ….)







Komentar