POSKOTA.CO – Diana menyandarkan badannya ke dinding bambu setelah buang air kecil di ember. Mbok Wongso membantunya sebisa dan sekuat tenaganya, ia punya keterbatasan usia. Kekuatan cintalah yang membuatnya menjadi bisa. Usia Mbok Wongso sudah 75 tahun, sebuah usia yang bukan lagi muda namun renta.
Bubur yang pagi-pagi sudah rampung dibuat oleh Mbok Wongso pelan-pelan di suapkan ke mulut Diana yang bengkak. Sedotan minuman yang Ia mintakan ke Bu RT sangat berguna. Diana bisa minum teh hangat yang sangat nikmat berkat sedotan tersebut. Bubur juga tak perlu dikunyah, mbok wongso membuatnya cukup encer dengan sengaja. Semua sudah dipikirkan dengan njlimet oleh mbok Wongso….hidup yang mengajarkannya bisa berpikir demikian.
” makasih ya mbok…..Diana sudah dirawat dan disuapi”
Sambil makan bubur encer bikinan Mbok Wongso, Diana mengucapkan terimakasih dalam haru. Bubur itu berasa nikmat sekali sewaktu berada di mulut Diana. Meski dalam keadaan babak belur, pagi ini Diana merasakan sesuatu yang indah. Sesuatu itu adalah, ia merasa dicintai oleh seorang ibu!
Membutuhkan beberapa hari untuk menyembuhkan luka-luka yang berada disekujur Diana. Pak dan Bu RT begitu baik dengan membawakan dokter dari Puskesmas setempat ke rumah Mbok Wongso.
Sekitar jam 11.00 pagi dokter memeriksanya dan membuatkan resep. Diana diberi obat analgesic dan obat untuk bengkaknya. Sedang boreh yang dibuat Mbok Wongso untuk meredam bengkak dari luar boleh di teruskan. ” campuran kencur dan minyak tawon teruskan saja untuk mengompres bagian-bagian yang bengkak Mbok….itu bagus kog”
Kerja sama antara Mbok Wongso dan Pak/Ibu RT berjalan dengan Baik dalam merawat Diana. Keperluan Diana seperti pakaian dalam dan baju tidur berhasil diambil oleh Pak RT. Ibu sambung Diana sendiri yang mengambilkan dan menaruhnya dalam bungkusan plastik yang cukup besar. Mungkin ibu sambung Diana tidak enak hati serta kikuk waktu Pak RT mendatangi rumahnya.
Sementara warga setempat juga tidak tinggal diam walau Mbok Wongso yang merawat. Atas inisiatif Bu RT, beberapa warga yang dipandang mampu saweran untuk keperluan makan Diana. Warga kampung Jagalan itu tahu persis keadaan ekonomi dukun pijat seperti Mbok Wongso.
Hari ke tiga di rumah Mbok Wongso, keadaan Diana sudah membaik walau bengkak dan lebam yang berwarna biru tua itu masih meninggalkan jejak yang cukup kentara. Diana tidak mungkin keluar rumah dalam keadaan seperti iti. Ia juga mali atas peristiwa yang menimpanya yang disaksikan banyak orang….dan bikin geger!
Namun dibalik semua sakit yang sedang Diana sandang, ada dua kerinduan yang hadir dalam benaknya. Sebuah ketinduan kepada seorang ibu kandung dan kerinduannya kepada Mas Bayu. Selama dia tidak sekolah, Diana tidak bisa bertemu dan bermesraan seperti hari-hari yang lalu.
Di sisi lain Diana bertekad tidak mau pulang ke rumahnya. Ia sudah utarakan kepada Pak RT tentang hal ini. Mbok Wongso juga sudah berterus terang tentang alamat eyang Diana. Simbok tua ini tahu persis letak rumah serta alamat Eyang Diana. …..
Diana berpikir, Jika ia pindah ke tempat ibu kandungnya, itu berarti ia harus berpisah dengan Mas Bayu…..ia harus pindah ke Jakarta. Pindah sekolah, berpisah dengan para sahabat…lingkungan baru…
” nanti simboj dan Pak RT akan antar kamu ke rumah eyang mu nduk”. (bersambung)







Komentar