PURNAMA PRAMBANAN 22

prambanan-2POSKOTA.CO – Mbok Wongso meminta ijin kepada Pak RT untuk membawa pulang Diana ke rumahnya dan merawatnya. Rumah Mbok wongso kebetulan bersebelahan dengan rumah Diana. Tetapi bukan hanya karena rumah yg bersebelahan itu yang membuat Mbok Wongso membawa pulang Diana.

Wanita tua yang hidup sendirian ini memang sangat dekat dan menyayangi anak gadis tetangganya ini. Mbok Wongso nampak mengusap air mata ketika melihat keadaan Diana babak belur.

Ia baringkan Diana di bilik bambu miliknya dengan bantuan ibu-ibu di sekitar. Orang tua yang sudah keriput dan miskin ini mengangkat kepala Diana lalu diberikannya bantal tipis dan lusuh yang ia punya.

Darah yang mengalir dari bibir Diana yang pecah ia seka dengan penuh kasih memakai handuk kecil. Mbok Wongso yang berprofesi sebagai dukun pijat di Kampung Jagalan tahu apa yang harus dilakukannya untuk menolong Diana.

Beberapa ibu-ibu juga membantunya dengan membawakan es batu untuk kompres dan menghentikan pendarahan di bibir Diana. Ada sobekan kecil di sudut bibir dan darah yang mengalir dari hidung Diana yang mbangir.

Mbok Wongso tidak banyak bicara, tangannya yang keriput cekatan menumbuk kencur lalu dicampur dengan minyak tawon serta dia bubuhi sedikit garam dapur. Ini untuk boreh bagian tubuh Diana yang bengkak.

Ia orang sederhana, lugu…bodo…yang tidak pernah belajar pengobatan. Ia mengobati dengan mendengarkan kata hati, hati yang dipenuhi oleh cinta. Mbok Wongso Yakin jika mengobati dengan cinta itu Gusti Allah yang bekerja.

Jadi ramuan yang ia berikan itu hanya sarana. Sambil komat-kamit…entah apa yang sedang dia perbincangkan dengan Gusti Allahnya, Mbok Wongso mengobati bagian hidung.Hidung Diana yang berdarah diberinya dengan daun sirih yang digulung setelah dibersihkan darahnya.

Diana sudah sadar tetapi badannya sangat lemah. Ia memanggil dengan lirih,” mbok…mbok…mbok wongso tolong. Tolong aku mbok, lara mbok…sakit semua mbok”

Begitu Diana merintih, tangan keriput wanita tua itu mengelus dengan cinta rambut Diana, gantian ia usap sendiri air matanya dengan kebaya lurik yang dipakainya.

Diana sesekali memang suka ke rumahnya, rumah yang layak disebut gubug. Dia sering meminta dipeluk olehnya kala sudah tidak tahan menghadapi amarah bapak atau ibu sambungnya. Kadang kalau diana kelaparan, Mbok Wongsolah yang diam-diam memberinya makan. Wanita tua itu hati-hati dan tanpa banyak bicara sewaktu menolong Diana.

Dia tahu bapak dan ibu sambungnya akan murka jika mereka menghukum Diana dengan tidak memberi makan, tetapi Mbok Wongso malah memberi….Hati mbok wongso sering tergetar dan iba kalau Diana mengeluh lapar. Alam pikirnya yang sederhana tidak terima tatkala makanan yang menjadi hak dasar seorang anak dipakai sebagai hukuman oleh orang tua Diana.

Para tetangga sepakat untuk memisahkan sementara antara bapak dan anak tersebut karena khawatir terjadi hal-hal yg tidak diinginkan. Bapak Diana masih kalap… emosional, mencerancu dengan kata-kata yang tak elok di dengar yang ditujukan untuk anak gadisnya sendiri.

Sementara ibu sambung Diana sejak awal kejadian ikut memarahi dengan kata-kata kasar serta ketus. Ibu sambung Diana setuju dengan apa yan dilakukan suaminya. Itulah kenapa ia nampak pasif dan tidak berusaha melerai ketika melihat pemukulan terhadap Diana. Baginya sudah layak Diana menerima hukuman tersebut!

” Mbok…mbok….Mbok Wongso dimana ibuku? Aku enggak mau pulang mbok, aku mau ikut ibuku sendiri. Aku disini saja ya mbok…di rumahmu” (Bersambung…..)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *