oleh

NU Kirim ‘Para Dai’ Ke Jepang

22aPOSKOTA.CO – Ada kabar gembira bagi warga muda nahdliyin. Pasalnya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bekerja sama dengan Bank Mandiri tengah menggulirkan program pemberdayaan khususnya bagi kaum remaja di kalangan warga NU, yakni program belajar sekaligus bekerja di negeri Sakura Jepang.

“Program ini sangat bermanfaat bagi para mahasiswa dan pemuda khususnya warga NU untuk bekerja sekaligus menuntut ilmu di negeri Jepang,” ungkap KH Ibnu Hazein, salah seorang pengurus di PBNU pada saat menyosialisasikan program itu kepada para mahasiswa di Pondok Pesantren Internasional Nahdlatul Ulama (PPINU) di kawasan Cijantung, Jakarta Timur, (19/8-2014).

Acara sosialisasi program yang baru disosialisasikan hanya di dua kabupaten (Indamayu dan Pemalang) itu menghadirkan dua orang pembicara dari Bank Mandiri dan pengurus PBNU serta pimpinan PPINU itu berlangsung khidmat. Para peserta yang terdiri dari para santri/mahasiswa berbagai ponpes NU dari berbagai daerah terlihat sangat antusias menyambut program yang menurut mereka sangat bermanfaat.

“Ya, bagaimana pun caranya saya mencoba mengikuti program ini, kesempatan yang susah dicari meskipun harus keluar biaya,” ujar salah seorang santri yang begitu antusias dan bergembira menyambut kehadiran program yang digulirkan PBNU itu.

Menurut Ibnu Hazein, dengan mengikuti program ini dua keuntungan sekaligus bisa didulang. “Pertama, para santri mendapatkan ilmu dan wawasan luas karena disana (Jepang) mereka dikuliahkan, dan kedua mendapat penghasilan karena mereka juga bekerja yang gajinya paling sedikit 10 juta perbulan,” cetus kiai yang juga mantan wartawan itu.

Menyinggung pendapatan yang bakal diraih para peserta selama bekerja di Jepang, secara lebih rinci Kepala Devisi Hubungan Luar Negeri PBNU, KH Syamsudin Sya’um, mengatakan, pada tahun pertama para mahasiswa akan mendapatkan gaji sebesar Rp 10 juta per bulan. “Di tahun kedua, penghasilan bakal meningkat dua kali lipatnya bahkan sampai Rp 40 juta per bulannya di tahun ketiga,” ujar pimpinan PPINU yang juga penggagas program itu.

Dengan memperolah pendapatan sebesar itu, sambung Syamsudin, para mahasiswa diharapkan dapat menyimpan pendapatannya sekitar 20-30% dari gaji setelah dipotong cicilan pinjaman yang didapat dari Bank Mandiri yang ditunjuk PBNU sebagai patner dalam pembiayaan pemberangkatan para peserta dalam program ini.

Karena program ini bukan beasiswa, sebut Ibnu Hazein, maka para mahasiswa dikenakan biaya maksimal sebesar Rp 70 juta. “Untuk memperoleh pinjaman sebesar itu Bank Mandiri siap menggelontorkan dana pinjaman hingga 100 juta dengan agunan surat tanah, rumah dan lainnya. Cicilannya selama setahun sampai tiga tahun,” timpal Syamsudin, kiai jebolan Ponpes Buntet, STIAI dan meraih S2 di Unversitas 17 Agustus.

Bidang pekerjaan utama yang diambil para peserta terbilang ringan. Yakni hanya mengurus para orang tua Jepang (lansia) yang tersebar di berbagai panti jompo (rojin homu).

“Mereka kita arahkan bekerja mengurus kebutuhan mereka, memerhatikan dan mengajak ngobrol para lansia. Dan yang lebih penting adalah menyenandungkan salawat nabi ke telinga mereka. Dan mereka merasa sejuk dengan salawat itu . Ibaratnya, kita (NU) mengirim para dai ke negeri Jepang,” ungkap Syamsudin yang selama 3 tahun sejak tahun 2008 hingga 2011 bekerja magang (Kensutse), terbahak.

Sedang program kuliah yang akan dijalani para mahasiswa, sambung Syamsudin, meliputi sejumlah jurusan seperti otomotif, teknik elektro, computer programming, hardware dan lainnya. “Tergantung mahasiswa sukanya apa yang dia suka,ya di sana tersedia senmon gakko (sekolah kejuruan) itu,” katanya.

Problem populasi yang dialami Jepang (angka kematian lebih besar dibanding kelahiran) menjadi salah satu faktor mengapa memilih negeri matahari terbit dalam program ini. “Kalau di kita orang semakin bertambah, orang di Jepang justru semakin menurun karena kecenderngan mereka yang enggan punya anak bahkan tak mau menikah. Bayangkan, dua tiga tahun mereka kehilangan 2 juta orang. Nah, ini kesempatan bagi kita, khususnya warga NU untuk mengisi kekosongan itu,” kata Syamsudin yang fasih berbahasa Jepang. (Hakim Moesthaf)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *