oleh

Kemuliaan dan Kreativitas Lola Amaria Dalam ‘Inerie’

25LOLA AMARIAPOSKOTA.CO – Kreativitas Lola Amaria tak pernah kering. Menelurkan karya adalah pekerjaan tetapnya, semenjak dia memutuskan diri ‘menggantung sepatu’ keaktrisannya, dan memancang posisi yang lebih tinggi, produser.

Di zona kreatif, wanita cantik yang kini tampil dengan rambut pendek ini kembali membuahkan karya. ‘Inerie’ — bermakna mama yang cantik. Begitu film terbaru berjenis dokumenter fiksi buah karya tangan dinginnya dinamakannya.

Lewat film yang dibesut Lola Amaria Production bekerja sama dengan Unit Kesehatan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia, Lola punya tujuan; Membantu seorang Ibu melahirkan.

Di sini, Lola tak cuma merajut kreativitas. Tapi juga kemuliaan. Memberi pesan yang baik dan mulia bagi kemanusiaan. Dan memang wanita kelahiran Jakarta, 30 Juli 1977 punya harapan; film ini bisa memberikan dampak positif pada menurunnya tingkat kematian ibu saat melahirkan. Begitu kata Lola.

“Semoga masyarakat terbuka pikirannya, dan pemerintah bisa membuat suatu aturan baru di mana semua lapisan masyarakat dapat terfasilitasi saat melahirkan,” cetus Lola, bintang di film ‘Ca Bau Kan’ (2002).

“Saya merasa ini adalah cerita yang baik tentang perjuangan seorang ibu yang akan melahirkan di Indonesia. Banyak ibu yang meninggal saat melahirkan, karena kurangnya informasi tentang keselamatan ibu, dan sang bayi,” komentar Mr Jhon dari pihak kedutaan Australia.

Sisi kreativitas artis senior pemenang ‘Wajah Femina 1997’ dalam film ‘Inerie’ ini terbilang ganda. Sarat pesan kemuliaan, juga menerbitkan keindahan sebuah pedusunan elok bernama desa Tololela, Bajawa, Flores, Nusa Tenggara Timur. Desa yang ramah penuh keindahan.

“Sangat sayang jika film ini hanya sekadar bercerita soal kasusnya, tetapi akan sangat baik jika digambarkan juga kondisi desa yang betul-betul indah, geografisnya, dan masyarakatnya yang damai dan ramah,” kata Lola di gedung PPHUI kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (24/6/2014).

‘Inerie’ menurut Lola membutuhkan waktu sekitar tiga minggu dalam penyelesaian penggarapannya. “Tapi risetnya perlu waktu yang cukup lama, dari Oktober tahun lalu. Saya juga yang memilih Flores sebagai lokasi syuting dan untungnya disetujui,” ujar pemeran di film ‘Beth’ (2001).

Bersama 20 orang kru, termasuk sutradara Chairun Nissa dan pemeran utama Maryam Supraba, Lola melakukan riset ke pedalaman. Beruntung masyarakat Bajawa menerima dengan sangat ramah dan bahkan ikut membantu proses syuting berlangsung.

`Inerie’ yang memasang Maryam Supraba, putri penyair besar almarhum WS Rendra sebagai pemeran utama, berkisah tentang sepasang saudara kembar bernama Bello dan Bella yang bermukim di Desa Tololea, Bajawa. Di tempat ini, banyak perempuan meregang nyawa akibat melahirkan anak tanpa penanganan medis yang tepat.

Hingga akhirnya Bello yang pulang dari merantau ke kota, berusaha untuk memberi pengertian kepada orang-orang di desanya, termasuk saudara kembarnya, Bella, yang tengah mengandung dan menanti proses persalinan.

Film drama dokumenter ini akan diputar di 10 Kabupaten NTT dan berbagai daerah tertinggal di Indonesia, juga bertujuan mempromosikan pariwisata Indonesia. (Hakim)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *